Hujan Masih Berpotensi Guyur Semarang-Demak,  Banjir Belum Kunjung Surut

Hingga hari kesepuluh, banjir masih merendam Kota Semarang dan Demak, Jateng. Potensi turunnya hujan patut diwaspadai karena bisa menghambat penanganan banjir.

01 Nov 2025 06:30 WIB · Lingkungan

Kompas/P Raditya Mahendra Yasa

Oleh Kristi Dwi Utami

SEMARANG, KOMPAS — Hujan dengan intensitas sedang diperkirakan masih akan melanda sejumlah daerah di Jawa Tengah, termasuk Kota Semarang dan Kabupaten Demak, hingga tiga hari ke depan. Kondisi itu dikhawatirkan bakal berdampak pada upaya penanganan banjir yang hingga Jumat (31/10/2025) atau hari kesepuluh masih menggenangi dua wilayah tersebut.

Prakirawan cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Ahmad Yani Semarang, Winda Ratri, mengatakan, potensi hujan di Jateng masih sangat tinggi hingga Senin (3/11/2025). Hujan lebat diperkirakan turun di wilayah pegunungan tengah, seperti Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Wonosobo, Temanggung, serta Cilacap dan sekitarnya. Selain itu, hujan sedang hingga lebat juga diperkirakan bakal melanda Grobogan, Blora, Sragen, Karanganyar, dan sekitarnya.

Adapun Kota Semarang dan Demak berpotensi hujan ringan hingga sedang. Kondisi itu patut diwaspadai karena berpotensi menghambat penanganan banjir.

Anak-anak bermain di tengah banjir yang melanda Kampung Sawah Besar, Kota Semarang, Jawa Tengah, Selasa (28/10/2025). Intensitas hujan yang tinggi menyebabkan meluasnya genangan banjir di sejumlah wilayah utara Semarang. Banjir kembali meninggi dan meluas di beberapa tempat hingga menyebabkan genangan terparah di dua wilayah yaitu Kaligawe dan Genuk. Kompas/Raditya Mahendra Yasa 28-10-2025

”Untuk wilayah-wilayah yang memang sudah banjir atau sudah terjadi bencana, seperti wilayah Kota Semarang bagian perbatasan Demak, memang perlu diperhatikan, perlu kolaborasi juga untuk banjir ini segera bisa diatasi,” kata Winda saat dihubungi, Jumat petang.

Selain daerah yang sedang terdampak banjir, masyarakat di wilayah yang rawan banjir atau di sekitar daerah aliran sungai juga disebut Winda perlu waspada ketika hujan lebat turun dengan durasi yang cukup lama. Daerah dengan topografi curam seperti pegunungan juga dikataan Winda patut mewaspadai potensi longsor. 

Menurut Winda, hujan memang berpotensi terjadi pada masa-masa awal musim hujan seperti Oktober. Akan tetapi, dari prakiraan cuaca yang dilakukan BMKG, potensi hujan yang kini terjadi diperkirakan di atas rata-rata normal.

Sekelompok pekerja yang saling menjaga ketika mereka turun daeri truk dan menyeberangi banjir di Jalan Kaligawe, Kota Semarang, Jawa Tengah, Kamis (30/10/2025). Segala daya dan upaya dilakukan pekerja untuk melintasi banjir yang menggenangi akses jalan selama hampir dua pekan ini. Mereka mengandalkan truk sebagai angkutan untuk menuju tempat mereka berkerja dan pulang kembali. 

KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA (WEN)
30-10-2025 *** Local Caption ***

”Potensi hujan memang di atas rata-rata normal atau lebih tinggi dari rata-rata data 10 sampai 30 tahun terakhir. Dari nilai rata-ratanya lebih tinggi sekitar 15 persen,” ujarnya.

Hujan yang masih terus terjadi membuat banjir di Kabupaten Demak dan Kota Semarang tak kunjung surut meski sudah memasuki hari kesepuluh. Pada Jumat, sebanyak empat desa yang tersebar di Kecamatan Sayung, Demak, masih terendam banjir dengan ketinggian hingga 60 sentimeter (cm). Sebanyak 16.011 jiwa dari 5.964 keluarga terdampak.

Tak hanya permukiman, banjir juga membuat jalan raya pantura di Sayung tergenang hingga menghambat arus lalu lintas. Ketinggian air di Jalan Pantura Sayung hingga 35 cm.

Banjir yang melanda kawasan Rusunawa Kaligawe selama hampir sepekan di Kota Semarang, Jawa Tengah, Selasa (28/10/2025). Intensitas hujan yang tinggi menyebabkan meluasnya genangan banjir di sejumlah wilayah utara Semarang. Banjir kembali meninggi dan meluas di beberapa tempat hingga menyebabkan genangan terparah di dua wilayah yaitu Kaligawe dan Genuk. Kompas/Raditya Mahendra Yasa 28-10-2025

Di Kota Semarang, banjir masih menggenangi 15 kelurahan yang tersebar di Kecamatan Pedurungan, Genuk, Gayamsari, dan Semarang Timur. Ketinggian genangan bervariasi, mulai dari 10 cm hingga 100 cm.

Sebanyak 40.452 jiwa dari 22.653 keluarga terdampak banjir tersebut. Dari jumlah korban banjir yang ada, sebanyak 299 jiwa dari 49 keluarga mengungsi ke tujuh lokasi pengungsian.

Banjir yang terjadi di Semarang juga merenggut korban jiwa. Hingga Jumat, ada empat orang yang dinyatakan meninggal setelah mengalami kecelakaan air saat beraktivitas di tengah genangan banjir.

Modifikasi cuaca

Upaya mengatasi banjir dilakukan pemerintah, salah satunya, dengan operasi modifikasi cuaca (OMC). Kegiatan yang sudah berlangsung sejak Sabtu (25/10/2025) tersebut dilakukan untuk mengendalikan pembentukan awan hujan sebelum mencapai daratan.

Proses persiapan operasi modifikasi cuaca di Jawa Barat, Kamis (13/3/2025). Operasi modifikasi cuaca diharapkan menekan hujan ekstrem di daerah rawan bencana.

Deputi Bidang Penanganan Darurat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Budi Irawan mengatakan, OMC difokuskan pada penyemaian bahan natrium klorida (NaCl) dan kalsium oksida (CaO) ke awan potensial hujan di wilayah perairan utara dan selatan Jawa. Dalam prosesnya, BNPB yang sudah mengerahkan satu pesawat menambah satu pesawat lagi dalam OMC di Jateng.

”Penambahan satu pesawat dalam OMC itu beroperasi dari Bandara Adi Soemarmo, Boyolali. Penambahan ini memperkuat operasi serupa yang telah berjalan dari Bandara Ahmad Yani, Semarang,” ucap Budi.

Di samping melakukan OMC, pengurangan genangan juga terus diupayakan pemerintah melalui penyedotan air menggunakan pompa atau pompanisasi. Seluruh pompa air yang ada disebut sudah dikerahkan untuk menguras genangan. Di samping pompa milik berbagai instansi di Semarang dan Demak, pompa air dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) wilayah sekitar juga ikut dikerahkan untuk menambah kekuatan.

Pekerja di antara pipa penyedot dan mesin yang dalam perbaikan dan perawatan di Rumah Pompa Kalitenggang, Kota Semarang, Jawa Tengah, Jumat (14/2/2025). Kerusakan pompa dan timbunan sampah di antaranya menjadi penyebab genangan banjir yang lama surut di Kota Semarang. Upaya perbaikan pompa penyedot berkapsitas besar dilakukan agar berfungsi kembali untuk mengurangi dampak genangan banjir di utara Semarang. Sampah yang dibuang sembarangan oleh warga juga menyumpal sejumlah saluran air.

Kompas/P Raditya Mahendra Yasa
14-02-2025
 *** Local Caption ***

Sebagai bentuk penguatan penanganan banjir dengan pompanisasi, BNPB membentuk Satuan Tugas (Satgas) Pompanisasi yang bertugas memastikan semua pompa beroperasi secara maksimal selama 24 jam dan menangani setiap kendala teknis yang muncul di lapangan secara cepat. 

Selain memastikan pompanisasi berjalan, Budi juga mengecek pintu pembuangan air (outlet) kolam retensi Terboyo yang terletak di kawasan proyek pembangunan Tol Tanggul Laut Semarang-Demak. Hasil observasi yang dilakukan BNPB menunjukkan aliran air dari kolam retensi belum dapat mengalir optimal ke laut karena adanya dua pintu pembuangan yang tertutup karena difungsikan sebagai jembatan sementara untuk mobilisasi kendaraan proyek.

”Beberapa keputusan langsung diambil, antara lain pembongkaran dan pembuatan sodetan pada bagian yang menghambat laju air, serta penerapan inovasi teknis untuk memastikan sistem tata air dapat berfungsi lebih efektif dan berkelanjutan. Kami juga mendorong pemasangan pompa tambahan untuk mempercepat pengaliran air dari kolam retensi yang tertahan akibat proses pembangunan tersebut,” tutur Budi.

Dua kendaraan saat berusaha menerobos banjir yang menggenangi kawasan pertokoan di Jalan Mataram, Kota semarang, Jawa Tengah, Selasa (28/10/2025). Hujan deras yang masih terjadi berpotensi meluasnya banjir di sejumlah titik di Kota Semarang. Saat ini pengaktifan rumah pompa berperan penting untuk mengurangi dampak genangan air ketika intensitas hujan tinggi. Kompas/Raditya Mahendra Yasa 28-10-2025

Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jateng-DI Yogyakarta juga turut terlibat dalam penanganan banjir, khususnya di ruas jalan nasional pantura Kaligawe-Sayung. Kepala BBPJN Jateng-DIY Iqbal Tamher mengatakan, pihaknya sudah bergerak membuat sodetan sepanjang 227 meter dengan kedalaman 1,5 meter dari jalan nasional Kaligawe menuju kolam retensi yang berlokasi di dalam bagian belakang Kampus Universitas Islam Sultan Agung.

”Kemudian, air akan dipompa ke kolam retensi Terboyo. Pekerjaan ini kami targetkan selesai hari Minggu (2/11/2025) sehingga kami harapkan muka air genangan di Kaligawe ini bisa segera turun,” ucap Iqbal.

Selain itu, BBPJN Jateng-DIY juga memasang dua pompa sementara yang masing-masing berkapasitas 250 liter per detik untuk menyedot genangan air pada area Kaligawe-Sayung. Air dari lokasi tersebut dialirkan melalui pipa fleksibel menuju Sungai Dompo di Sayung.

Kemacetan panjang kendaraan yang disebabkan genangan banjir di Jalan Kaligawe, Kota Semarang, Jawa Tengah, Senin (3/2/2025). Banjir yang terjadi di sejumlah titik antara lain Jalan Kaligawe, Semarang dan Sayung Demak menyebabkan kemacetan panjang pada jalur pantura dalam beberapa hari ini. Cuaca buruk yang melanda sejumlah wilayah Jawa Tengah masih berpotensi besar menimbulkan bencana banjir dan longsor. Kompas/P Raditya Mahendra Yasa 03-02-2025

Ke depan, BBPJN Jateng-DIY akan melanjutkan pekerjaan penanganan permanen di area sodetan Kaligawe, serta pembangunan rumah pompa sekitar pabrik Polytron Sayung yang berfungsi mengalirkan air ke Sungai Dompo. Pekerjaan itu ditargetkan selesai dan dapat difungsikan pada Rabu (5/11/2025).

”Kami juga menyiagakan alat berat untuk menarik kendaraan besar yang terjebak banjir di ruas jalan nasional Kaligawe-Sayung. Untuk mengakses bantuan tersebut, masyarakat dapat menghubungi Tim Posko PPK 3.1 Provinsi Jateng melalui nomor 085291957630,” ujarnya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Kristi Dwi Utami
 | 

Editor:

Harry Susilo
 | 

Penyelaras Bahasa:

Priskilia Bintang Cornelia Sitompul