HUT ke-28 PAN menjadi momentum bagi Zulhas mengingatkan kader tak boleh lelah membantu rakyat. PAN juga akan kembali menegaskan dukungan kepada pemerintahan Prabowo.
18 Sep 2026 13:18 WIB · Politik & Hukum
KOMPAS/PRIYOMBODO
Malam ini, Jumat (18/9/2026), Partai Amanat Nasional atau PAN menggelar pesta puncak perayaan Hari Ulang Tahun Ke-28. Acara tersebut, menurut rencana, dihadiri Presiden Prabowo Subianto. Sebagaimana perayaan HUT partai pada umumnya, momentum ini menjadi ajang untuk merefleksikan perjalanan perjuangan partai sekaligus menegaskan arah PAN ke depan. Namun, bagi PAN, perayaan kali ini juga menjadi momentum untuk mengentalkan relasi perjuangan dengan Prabowo yang telah terentang panjang sejak Pemilihan Presiden 2014.
Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 menjadi titik awal perjuangan PAN dan Prabowo. Saat itu, PAN turut dalam gerbong koalisi partai politik (parpol) yang mengusung Prabowo Subianto sebagai calon presiden (capres). Tak sebatas itu, Ketua Umum PAN kala itu, Hatta Rajasa, didapuk untuk mendampingi Prabowo sebagai calon wakil presiden (cawapres).
Meski demikian, kisah awal perjuangan ini tak berbuah manis. Pasangan Prabowo-Hatta dikalahkan oleh pasangan capres-cawapres, Joko Widodo-Jusuf Kalla.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/11/23/63d76a15-435d-4ede-adf0-eba0926f7f05.jpeg)
Lima tahun berselang, kisah perjuangan Prabowo dan PAN kembali berlanjut. Di bawah kepemimpinan nakhoda PAN yang baru, Zulkifli Hasan, partai berlambang matahari ini, kembali memutuskan untuk menjagokan Prabowo sebagai capres dengan Sandiaga Salahuddin Uno sebagai cawapres.
Namun, senada dengan hasil di Pilpres 2014, perjuangan Prabowo bersama PAN kembali kandas. Petahana Jokowi yang berpasangan dengan KH Ma’ruf Amin, berhasil meraih suara terbanyak.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/03/21/a805398f-5839-4cac-8659-13adaca876dd.jpg)
Titik kemenangan baru diraih Prabowo bersama PAN saat Pilpres 2024. PAN yang bersama Koalisi Indonesia Maju mengusung Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming, berhasil mengalahkan dua pasangan capres-cawapres lainnya, yakni Ganjar Pranowo-Mahfud MD serta Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/01/27/8b6d2dcd-0203-4df4-9f65-501e8013a90f_jpg.jpg)
Dalam wawancara khusus Harian Kompas (Kompas.id) untuk program siniar ”Gercep”, Zulkifli Hasan berulang menyinggung perjuangan panjang PAN bersama Prabowo yang terentang sejak Pilpres 2014 tersebut.
Menurut dia, perjuangan bersama itu tidak sebatas berbasiskan kalkulasi elektoral atau seberapa besar suara yang bisa ”mengalir” ke PAN dengan mengusung Prabowo di setiap kali pilpres. Lebih dari itu, ia mengklaim ada kesamaan visi, misi, dan nilai-nilai yang diperjuangkan antara Prabowo dan PAN.
”Yang kita perjuangkan sama ini. Value, nilai, yang kita perjuangkan. Makanya, saya tiga kali maju bareng Pak Prabowo, baru ini (Pilpres 2024) menang, ya, bertahan, karena perjuangan sama ini,” kata pria yang juga akrab disapa Zulhas ini dalam wawancara yang akan ditayangkan di Youtube Harian Kompas dan Kompas.id, sore ini.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/17/64bfd7170717b3fe243d5d546382ec6c-20260917PRI7HR.jpg)
”Kita bukan setia pada orang. Kita setia pada cita-cita, perjuangan, transformasi kembali kepada cita-cita Indonesia merdeka. Ini yang kita sama-sama perjuangkan,” tambah Zulhas.
Kesamaan dimaksud, utamanya, mewujudkan salah satu cita-cita pendiri bangsa yang tertuang dalam Pasal 33 Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, yakni bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Prabowo dalam berbagai kesempatan sering pula menekankan soal pentingnya penerapan dari Pasal 33 tersebut.
”PAN ini platformnya Pasal 33, kesetaraan, pemerataan, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” tutur Zulhas saat menekankan kesamaan visi dan misi antara Prabowo dan PAN.
Tak sebatas itu, Zulhas juga menyebut PAN dan Prabowo memiliki nilai-nilai perjuangan yang sama, seperti tergambar dari logo matahari PAN.
Mengutip dokumen Anggaran Rumah Tangga PAN, logo matahari putih yang bersinar terang merupakan simbol bahwa PAN membawa ”pencerahan baru menuju masa depan Indonesia yang lebih baik”. Matahari berarti sumber cahaya dan kehidupan. Warna putih menyimbolkan ekspresi kebenaran, keadilan, dan semangat baru. Adapun pancaran sinar merefleksikan kemajemukan. Sementara bujur sangkar berwarna biru tua merupakan cerminan laut dan langit yang merefleksikan kemerdekaan dan demokrasi.
Visi dan misi PAN dan Prabowo itu pula yang, menurut Zulhas, menjadi landasan bagi setiap pemikiran dan kebijakan politik partai, termasuk ketika kader PAN dipercaya mengemban jabatan di pemerintahan.
Zulhas mencontohkan dirinya yang sejak Oktober 2024 dipercaya Presiden Prabowo menjabat Menteri Koordinator Pangan. Sejak awal menjabat, ia fokus untuk menggapai target mewujudkan swasembada beras. Target itu tercapai tahun lalu dan ditargetkan berlanjut untuk tahun ini dan tahun-tahun berikutnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/07/0cbedd04fbbb4e15e3cc716bb9ea5170-cropped_image.jpg)
Selain itu, pemerintah juga terus mendorong berbagai upaya untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan nelayan, program Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga menangani persoalan sampah yang berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat.
Bagi Zulhas, berbagai kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya menerjemahkan nilai-nilai perjuangan Prabowo dan PAN ke dalam kerja-kerja pemerintahan.
”Memang, sudah dua tahun, pemerintahan ini berjalan, ada program yang berhasil, tetapi juga ada yang belum. Kita meminta maaf yang belum berhasil. Yang sudah berhasil, kita terima kasih atas dukungan masyarakat. Ini semua tidak mudah karena untuk transformasi bangsa itu, pekerjaan yang kompleks,” tambahnya.
Kami minta maaf yang belum berhasil. Yang sudah berhasil, kami terima kasih atas dukungan masyarakat.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/01/13/2748b96c-01ff-4d11-8369-1f696abbee75.jpg)
Beratnya tantangan dan sederet pekerjaan rumah program pemerintah yang belum berhasil itu pun tak lantas menyurutkan langkah Zulhas dan PAN bersama Prabowo. Begitu pula hasil survei sejumlah lembaga yang belakangan memotret kian turunnya angka kepuasan publik terhadap kinerja pemerintahan Prabowo.
”Kami koalisi (Prabowo) senang dan susah. Kita, kan, harus gentleman, dong. Kalau kita bersama, ya, kita bersama. Kalau kita enggak mau bersama, ya, keluar,” kata Zulhas.
Kami koalisi senang dan susah. Kami kan harus ”gentleman”, dong. Kalau kita bersama, ya, kita bersama. Kalau kita enggak mau bersama, ya, keluar.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/04/08/88d4ca06-04ce-481d-b5e8-03fc71c2268d_jpg.jpg)
Kesungguhan untuk menyukseskan program pemerintahan Prabowo yang sekaligus diidentikkannya dengan perjuangan PAN, pun akan ditegaskan ulang oleh Zulhas kepada kadernya dan Presiden Prabowo saat peringatan HUT Ke-28 PAN, malam ini. Kerja kader PAN harus lebih maksimal, terlebih karena pada Pilpres 2024 partai ini akhirnya memenangi kontestasi bersama Prabowo.
”Pada saat sekarang ini sudah menang, ditambah lagi kami memimpin di (kementerian) bidang yang sesuai platform PAN, kami harus berhasil. Harus sungguh-sungguh,” ujar Zulhas.
Pesan kepada kader untuk membantu rakyat seperti yang sering disampaikannya juga akan diingatkannya kembali. Setidaknya hal ini sudah terlihat dalam tema yang diambil PAN untuk HUT Ke-28, yakni ”Gerak Cepat Bantu Rakyat, Bersama PAN, Indonesia Maju”.
”Yang kami beri judul singkat, bantu rakyat. Tidak boleh lelah mencintai Indonesia. Tak boleh lelah mendatangi tempat-tempat yang belum terkena cahaya seperti nelayan. Tidak boleh kita merasa capek untuk membantu petani. Karena platform partai PAN itu, dan PAN didirikan untuk itu, dan itu berlaku untuk siapa saja, tidak ada kelompok golongan, universal, seperti matahari,” ujar Zulhas.
Jika hal itu diterapkan seluruh kader, suara PAN di Pemilu 2029 diyakini akan terkerek naik. Selama ini, sejak mengikuti pemilu pertama kali pada Pemilu 1999, PAN masuk dalam partai menengah dengan raihan suara di setiap pemilu terentang antara 6 dan 7 persen.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/18/61bf05b72b8f8f773cfe164b8556737f-IMG_20260918_110951.jpg)
Adapun saat ditanyakan soal kemungkinan maju di Pilpres 2029, Zulhas mengatakan tak memikirkannya. Baginya, yang penting sekarang adalah bekerja. ”Saya ngurusin bagaimana nelayan, petani lebih makmur, terus lingkungan kita bagus. Karena, kan, kalau itu belum, saya enggak bisa tidur,” tutur Zulhas.
Sementara itu, Kepala Departemen Politik dan Sosial Center for Strategic and International Studies (CSIS) Arya Fernandes saat dihubungi dari Jakarta, melihat PAN masih memiliki sejumlah tantangan jika ingin berkembang menjadi partai besar. Salah satunya adalah regenerasi dan sirkulasi kepemimpinan di internal partai.
Menurut Arya, tantangan tersebut menjadi semakin penting karena proporsi pemilih muda cukup besar dan tersebar di sejumlah daerah, baik perkotaan maupun perdesaan.
”PAN perlu mempersiapkan regenerasi politisi muda yang progresif, pemikiran terbuka untuk dipersiapkan menjadi pemimpin politik jangka panjang, masa depan dan masa kini,” kata Arya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2019/12/07/08248d17-4ca9-40fb-977d-cc82c4362544_jpg.jpg)
Apabila tidak terjadi regenerasi, elite yang sama akan terus menentukan calon pemimpin nasional dalam waktu yang panjang. Padahal, pemilu dan situasi politik terus berubah setiap lima tahun. Menurut Arya, kondisi tersebut dapat membuat regenerasi kepemimpinan nasional mandek.
”Partai, kan, sumber perekrutan kepemimpinan nasional. Ini bukan hanya untuk PAN, tetapi semua partai,” kata Arya.
Selain regenerasi, Arya menilai PAN perlu mencermati perolehan suara partai yang relatif tidak banyak berubah dari pemilu ke pemilu. Suara PAN selama ini berada di kisaran 6-7 persen.
”Kalau PAN mau jadi partai besar, dia harus mempersiapkan betul, salah satunya mempersiapkan kualitas politisinya, anggota DPR yang akan maju, dan harus menyiapkan calon pemimpin nasional juga,” ujar Arya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2020/02/11/809ecbb8-d5ac-49f1-a225-0d27d515193e.jpg)
Tantangan lainnya adalah kemampuan PAN membaca isu yang berkembang di kalangan anak muda. Arya mencontohkan isu sampah, lingkungan, bencana, industri kreatif, dan perubahan iklim yang menurut dia akan semakin penting pada masa mendatang.
”Jadi, PAN harus mulai masuk ke isu-isu baru yang selama ini belum banyak disentuh parpol,” tutur Arya.
Selain itu, aktivitas politik partai tidak seharusnya hanya dilakukan menjelang pemilu. Anggota legislatif dari partai juga perlu rutin turun ke masyarakat untuk memahami persoalan yang dihadapi.
Tiga kali berjuang bersama Prabowo, baru pada 2024 PAN menikmati kemenangan. Kini, ketika keduanya berada di dalam pemerintahan, kenyamanan itu justru membawa tanggung jawab yang lebih besar bagi Zulhas dan PAN.
Matahari dalam logo PAN bukan sekadar simbol pencerahan dan harapan, tetapi juga pengingat bahwa cahaya harus sampai ke semua orang. Apakah cahaya itu kelak cukup terang untuk membawa PAN keluar dari zona suara 6–7 persen? Pemilu 2029 yang akan menjawabnya.
Penulis:
Nikolaus Harbowo, A Ponco AnggoroEditor:
Cyprianus Anto SaptowalyonoPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase