Pyongyang memamerkan generasi baru ICBM-nya, Hwasong-19. Teknologinya selangkah lebih maju meski memiliki badan yang bongsor.
01 Nov 2024 20:11 WIB · Internasional
Oleh Mahdi Muhammad - [email protected]
PYONGYANG, JUMAT — Di tengah desakan untuk menarik ribuan personel militernya yang bertempur bersama Rusia di Ukraina, Korea Utara memperlihatkan generasi baru rudal balistik antarbenuanya: Hwasong-19. Korut mengklaim generasi baru ICBM itu sebagai rudal strategis terkuat di dunia, melebihi rudal sejenis yang dimiliki negara adidaya.
Pemimpin Tertinggi Korea Utara Kim Jong Un menyaksikan sendiri uji coba Hwasong-19 yang dilakukan di sebuah lokasi yang dirahasiakan, Kamis (31/10/2024). Menurut laporan kantor berita Korut, KCNA, Kim mengklaim uji coba itu membuat negaranya memiliki kekuatan hegemonik baru melalui teknologi militernya.
Mengantisipasi perkembangan terbaru, militer Amerika Serikat dan Korea Selatan melakukan latihan perang bersama, Jumat (1/11/2024), sehari setelah peluncuran. Korea Selatan juga mengumumkan sanksi baru terhadap belasan individu dan entitas bisnis Pyongyang.
”ICBM tipe baru membuktikan kepada dunia bahwa posisi hegemonik kami aman dalam pengembangan dan pembuatan sarana peluncuran nuklir benar-benar tidak dapat diubah,” kata Kim, saat mengawasi peluncuran tersebut, KCNA melaporkan.
Foto-foto yang dirilis oleh KCNA memperlihatkan Hwasong-19 memiliki bentuk yang lebih besar dibanding generasi sebelumnya, Hwasong-18. Begitu juga dengan alat peluncur dan kendaraan pengangkutnya yang juga lebih besar.
Para analis memperkirakan Hwasong memiliki panjang setidaknya 28 meter atau sekitar 92 kaki, lebih panjang dibandingkan ICBM sejenis yang dimiliki Rusia dan Amerika Serikat yang memiliki panjang hanya sekitar 20 meter (66 kaki). Chang Young-keun, ahli persenjataan Institut Penelitian Strategis Nasional Korea di Seoul mengatakan dengan ukuran yang lebih besar dibanding rudal sejenis bisa membuatnya gampang terdeteksi oleh intelijen militer Korsel, mulai dari pergerakan hingga rencana peluncurannya.
Meski lebih besar daripada rudal sejenis milik AS dan Rusia, Hwasong-19 yang juga menggunakan bahan bakar padat, mampu terbang sejauh 1001,2 kilometer atau sekitar 622,12 mil. Jarak itu ditempuh selama 85 menit dan 56 detik sebelum akhirnya mendarat di laut lepas pantai timur Semenanjung Korea. Menurut klaim KCNA, rudal ini juga mampu mencapai ketinggian maksimum 7.687,5 kilometer atau sekitar 4.776,79 mil.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/01/a2185725f29394286102182a4f9ae21b-000_36LC8CZ.jpg)
Walau lebih besar daripada rudal sejenis, penggunaan bahan bakar padat membuat ICBM ini meluncur lebih cepat. Penggunaan bahan bakar padat juga membuatnya lebih mudah dan aman dioperasikan serta hanya membutuhkan dukungan logistik yang lebih sedikit.
”Rudal ini bisa disimpan dan dipindahkan ke mana saja, memungkinkan mobilitas, siluman, dan kemampuan bertahan yang sangat baik,” kata Kim Dong Yup, analis keamanan Universitas Studi Korea Utara, Seoul. Meski memiliki tubuh yang bongsor, penambahan kapasitas bahan bakar juga membuat Hwasong-19 memiliki jangkauan yang lebih jauh.
Dia menilai, rudal sejenis generasi sebelumnya sebenarnya sudah mampu menjangkau wilayah daratan AS. Akan tetapi, rudal generasi baru ini mampu membawa hulu ledak yang lebih besar, berat dan bahkan berpotensi memuat lebih banyak hulu ledak.
”Korut mungkin akan terus menguji untuk melihat apakah hulu ledak dapat terpisah dan masing-masing mengarah ke target individu,” kata Kim.
Berbeda pendapat dengan Kim, sejumlah analis menilai, tubuh Hwasong-19 yang bongsor dan begitu juga dengan kendaraan peluncurnya membuat mereka bertanya-tanya tentang mobilitas serta kemampuan pertahanannya dalam medan tempur yang sesungguhnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/01/023eb29e8f677797898581f19dfbe1fc-000_36LB3B3.jpg)
”Ketika rudal membesar, apa yang terjadi? Kendaraannya juga membesar. Ketika peluncur transporter-erector membesar, mobilitasnya berkurang,” kata Lee Sangmin, seorang ahli di Institut Analisis Pertahanan Korea Korea Selatan.
”Jika terjadi konflik, paparan semacam itu membuat senjata menjadi sasaran serangan pendahuluan oleh lawan sehingga akan ada masalah besar terkait kemampuan bertahan,” kata Chang.
Pandangan lain mengenai penggunaan bahan bakar padat dan cair disampaikan Lee Ill Woo, pakar di Korea Defense Network, Korsel. Ia mengatakan, Pyongyang mungkin mengembangkan rudal yang lebih besar untuk membawa hulu ledak yang lebih besar dan memiliki daya rusak lebih hebat karena memiliki hulu ledak ganda. Jika demikian, dalam pandangannya, Pyongyang bisa menggunakan bahan bakar cair karena bahan bakar tersebut menghasilkan daya dorong yang lebih tinggi daripada bahan bakar padat. Ia mengatakan beberapa propelan cair generasi baru dapat disimpan dalam rudal selama beberapa minggu sebelum lepas landas.
Lee juga menyebutkan, Pyongyang bisa saja menguji hulu ledak kosong tiruan pada Hwasong-19 agar dapat terbang lebih tinggi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/01/a3aaae8b7222f9a4790347f3f2f5ad08-000_36L96KW.jpg)
Menurut para pakar, teknologi yang belum dimiliki oleh Korut saat ini adalah memastikan hulu ledaknya bertahan dari panas dan tekanan saat memasuki atmosfer, meningkatkan sistem kendali dan pemandu ketinggian untuk rudal, serta penggunaan beberapa hulu ledak pada satu rudal untuk mengalahkan sistem pertahanan antirudal.
”Memperoleh teknologi yang mampu memasuki atmosfer saat ini merupakan tujuan terpenting dalam pengembangan rudal Korut, khususnya untuk ICBM. Pada saat yang sama, mereka juga harus terus meningkatkan jangkauannya,” kata Lee.
Mengantisipasi perkembangan terbaru di Pyongyang, militer AS dan Korsel melakukan latihan gabungan. Untuk pertama kalinya mereka menggunakan drone tempur di sebuah lokasi yang dirahasiakan.
Pesawat pengintai RQ-4B ”Global Hawk” milik tentara Korsel dan drone tempur MQ-9 Reaper milik AS dikerahkan untuk latihan tersebut. Korea Selatan dan AS telah memperluas latihan rutin mereka untuk mengatasi ancaman nuklir Korea Utara yang terus berkembang. (AP/Reuters)
Penulis:
Mahdi MuhammadEditor:
Bonifasius Josie Susilo H