Partai politik pendukung yang loyal Prabowo bakal merapat, sedangkan yang tidak loyal bakal konsolidasi untuk mendorong kandidat potensialnya.
16 Feb 2025 19:23 WIB · Politik & Hukum
JAKARTA, KOMPAS — Langkah dini Partai Gerindra untuk mengusung ketua umumnya, Prabowo Subianto, menjadi calon presiden 2029 dinilai sebagai sarana uji loyalitas. Partai politik pendukung yang loyal bakal merapat, sedangkan partai lainnya bakal konsolidasi untuk mendorong kandidat potensial.
Peneliti politik dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Wasisto Raharjo Jati, berpandangan, keputusan Partai Gerindra kembali mencalonkan Prabowo adalah untuk menghemat energi politik agar tidak teralihkan sebelum Pemilu 2029. Dengan begitu, pemerintahan Prabowo bisa fokus bekerja selama lima tahun mendatang.
Di sisi lain, kandidasi Prabowo tak terlepas dari wacana koalisi permanen dari partai pendukung pemerintah saat ini, yakni Koalisi Indonesia Maju (KIM) Plus. Ini seolah menjadi salah satu syarat penentuan loyalitas partai pendukung.
”Tentu ini juga menjadi semacam tes loyalitas apakah para partai koalisi ini akan berkembang menjadi koalisi permanen dengan syarat menerima nominasi Prabowo untuk 2029 atau sebaliknya, para parpol KIM akan bermanuver untuk nominasi kandidat potensial,” kata Wasisto saat dihubungi dari Jakarta, Minggu (16/2/2025).
Beliau hanya bersedia maju lagi jika berhasil memimpin Indonesia dalam periode pertama. Jika gagal, beliau malu maju lagi. Artinya, beliau menginginkan rakyat mendapatkan pemimpin yang terbaik.
Lagi pula, lanjut Wasisto, Prabowo menyatakan ingin maju kembali apabila program pemerintah saat ini sukses berjalan. Dengan begitu, tolok ukurnya adalah komitmen penyuksesan program kerja pemerintah.
Sementara itu, Ketua Lembaga Komunikasi dan Informasi Partai Golkar Dave Laksono, menilai, pernyataan Prabowo menunjukkan dirinya merupakan seseorang yang tidak gila jabatan, melainkan negarawan membangun bangsa. Ini terlihat dari komitmennya yang akan maju apabila program pemerintah menuai hasil sukses.
Dave pun menyangkal wacana tersebut bakal mematahkan langkah kandidat potensial lainnya. Sebab, apabila program pemerintah gagal, maka Prabowo tidak akan maju dalam Pilpres 2029. Ini justru memecut semua orang, khususnya Prabowo, untuk bekerja lebih giat lagi.
”Beliau dengan tegaskan menyatakan bila gagal, justru ini memecut semua orang untuk lebih giat bekerja, terkhusus presiden sendiri. Bahwa prestasi dan dedikasi serta hasil kerja yang menentukan kedepannya,” ujar Dave.
Senada dengan Dave, Ketua Dewan Pakar Partai Amanat Nasional (PAN) Drajad Wibowo, menuturkan, pernyataan Prabowo bermakna ksatria yang malu apabila pekerjaannya menuai kegagalan. Secara tidak langsung, Prabowo menginginkan masyarakat Indonesia mendapatkan pemimpin terbaik.
”Beliau hanya bersedia maju lagi jika berhasil memimpin Indonesia dalam periode pertama. Jika gagal, beliau malu maju lagi. Artinya, beliau menginginkan rakyat mendapatkan pemimpin yang terbaik,” ujar Drajad.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/15/ec99fed9-d2b8-4dad-a55e-0dcf3fc809e5_jpg.jpg)
Adapun komitmen Partai Gerindra untuk mengusung Prabowo kembali di pilpres muncul saat Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Gerindra. Dalam kesempatan itu, Prabowo pun terpilih lagi sebagai Ketua Umum Partai Gerindra.
Respons Prabowo terhadap permintaan partainya tersebut disampaikan saat peringatan hari ulang tahun (HUT) Ke-17 Gerindra di Sentul, Jawa Barat, Sabtu (15/2/2025). Prabowo mengaku bingung karena baru 100 hari bekerja tetapi sudah diusung lagi di pilpres berikutnya.
”Saudara minta saya bersedia dicalonkan lagi 2029. Saya katakan kalau program-program saya tidak berhasil, tidak perlu Saudara calonkan saya terus. Saya kalau mengecewakan kepercayaan rakyat, saya malu untuk maju lagi,” kata Prabowo.
Penulis:
Willy Medi Christian NababanEditor:
Cyprianus Anto SaptowalyonoPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari