Saking buruknya era Igor Tudor di Tottenham, pelatih sebelumnya, Thomas Frank, jadi tampak tak terlalu buruk. Tudor berpisah dengan Tottenham hanya setelah 44 hari.
30 Mar 2026 04:06 WIB · Olahraga
AP
LONDON, MINGGU — Pertaruhan Tottenham Hotspur mendatangkan pelatih interim Igor Tudor terbukti gagal total. Tudor terdepak hanya setelah 44 hari dan tujuh laga karena gagal mengeluarkan tim dari tren buruk. Sejak awal, Tudor bukanlah sosok yang dibutuhkan Tottenham dalam situasi krisis saat ini.
Tudor resmi berpisah dengan ”Si Lili Putih” pada Minggu (29/3/2026) malam WIB. Sang pelatih dan pihak klub menyetujui pemutusan kontrak lewat kesepakatan bersama. Pelatih kiper Tomislav Rogic dan pelatih fisik Riccardo Ragnacci yang dibawa Tudor juga pergi dalam gerbong yang sama.
”Kami berterima kasih kepada Igor, Tomislav, dan Riccardo atas upaya mereka selama enam minggu terakhir, mereka bekerja tanpa lelah. Kami juga turut berdukacita atas kehilangan (sang ayah) yang dialami Igor dan mengirimkan dukungan kami kepada dia dan keluarganya,” demikian disampaikan pihak klub lewat pernyataan resmi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/06/796d489127087ea82439a1e5507b8ce2-Tottenham_Hotspur_v_Crystal_Palace_Premier_League_Tottenham_Hotspur_Stadium_2_.jpg)
Pria asal Kroasia itu pun menjadi pelatih keempat dengan masa kepemimpinan tersingkat dalam sejarah Liga Primer Inggris, hanya 44 hari. Tudor, pengganti Thomas Frank, terdepak karena tidak mampu mengeluarkan Tottenham dari krisis. Mereka justru tampak lebih buruk dari sebelumnya.
Saat Tudor datang ke klub pada pertengahan Februari, Tottenham berada di peringkat ke-16 dengan terpaut lima poin dari zona degradasi. Cristian Romero dan rekan-rekan kini hanya berjarak satu peringkat dan satu poin dengan zona degradasi. Mereka terancam turun kasta jika tren berlanjut.
Tottenham tidak pernah memenangi pertandingan liga domestik di era Tudor. Hanya satu dari lima laga yang berakhir sesi, sisanya berujung kekalahan. Terakhir, tepat sebelum jeda internasional, situasi semakin memburuk karena mereka ditaklukkan 0-3 di kandang sendiri oleh Nottingham Forest.
Tudor juga gagal total di Liga Champions. Tottenham tereliminasi di babak 16 besar setelah kalah agregat dari Atletico Madrid, 5-7. Kesalahan fatal sang pelatih yang memainkan kiper pelapis Antonin Kinsky di kandang Atletico merupakan penyebab utama tersingkirnya Si Lili Putih.
Tidak lama seusai kekalahan telak dari Forest, Tudor dikabarkan kehilangan ayahnya. Sang pelatih sedang berduka. Karena itu, menurut Tottenham, berpisah adalah jalan terbaik untuk kedua sisi saat ini. Tidak ideal jika Tudor dipaksakan menukangi tim di tengah tren buruk dan suasana duka.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/14/ead97369787fb7f70b920e3a932610a1-Monaco_vs_Paris_SG_play_off_Champions_League_2025_2026.jpeg)
Paul Merson, mantan pemain tim nasional Inggris, berkata, Tottenham berpeluang besar turun kasta jika melanjutkan musim bersama Tudor. ”Spurs terdegradasi jauh lebih masuk akal saat ini daripada sebelumnya. Mereka sangat mengkhawatirkan, apalagi dengan jadwal berat di sisa musim,” ujarnya.
Sejak awal, penunjukan Tudor sudah dipertanyakan. Sang pelatih memang dikenal sebagai spesialis pemadam di situasi krisis. Tangan dinginnya terbukti bersama dua tim terakhir yang dilatih, Juventus dan Lazio. Namun, dia datang ke Tottenham tanpa punya pengalaman bermain atau melatih di Inggris.
Alhasil, Tudor terlihat kebingungan dan terus bereksperimen di waktu yang tidak tepat. Selama satu setengah bulan, dia berkali-kali mengganti formasi tim, mulai dari menggunakan tiga bek sampai empat bek sejajar. Komposisi pemain juga terus diganti, termasuk tiba-tiba memainkan Kinsky di laga besar.
Disorientasi itu semakin jelas jika melihat penampilan skuad Tottenham. Pendekatan bermain mereka serba tanggung, tidak berani terlalu ofensif, tetapi juga enggan bermain pragmatis. Hasilnya pun setengah-setengah. Lini serang mereka kurang bertaring saat pertahanan tim sangat rapuh.
Manajemen Tottenham adalah pihak paling berdosa dari situasi saat ini. Mereka bertaruh di waktu yang salah. Beruntung, mereka masih bisa memperbaiki situasi klub. Kuncinya kali ini, mereka harus bisa menemukan sosok pelatih pengganti yang tepat, tidak mengulang kesalahan sebelumnya.
”(Mereka membutuhkan) Orang yang tepat yang mereka rasa akan membawa klub maju dalam tujuh pertandingan liga berikutnya karena tujuh pertandingan itu adalah yang terpenting dalam sejarah klub,” kata mantan kapten Tottenham, Gary Mabbutt, kepada Sky Sports.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/16/cf32280baf4545776676781e685343f3-APTOPIX_Britain_Premier_League_Soccer_12_.jpg)
Sosok paling ideal adalah pelatih yang sudah berpengalaman untuk menyelamatkan tim-tim Inggris dari jeratan degradasi. Beberapa nama kawakan, seperti Harry Redknapp dan Sean Dyche, masuk radar. Bersama para pelatih yang memprioritaskan hasil lebih dari apa pun itu, Tottenham bisa selamat.
Asisten pelatih Bruno Saltor akan memimpin latihan Tottenham untuk sementara, khususnya bagi para pemain yang tidak dipanggil timnas, Tottenham bergerak cepat mencari pelatih baru agar bisa langsung menjalani debut dalam laga tandang versus Sunderland pada 12 April. (AP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti