IHSG Anjlok ke 6.300, Dirut BEI: Kami Tidak Tinggal Diam

BEI akan segera panggil pelaku pasar untuk membahas kondisi pasar modal terkini.

28 Feb 2025 14:30 WIB · Ekonomi

Oleh Erika Kurnia

JAKARTA, KOMPAS — Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, Iman Rachman, menegaskan bahwa bursa tidak tinggal diam menghadapi penurunan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Bursa akan segera berdiskusi dengan pelaku pasar guna merumuskan kebijakan yang dapat meningkatkan kepercayaan investor.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di pengujung Februari 2025 turun hingga menyentuh level 6.300, terendah sejak September 2021. IHSG sudah anjlok hampir 5 persen dibandingkan akhir perdagangan pekan lalu yang masih berada di angka 6.800.

Iman kepada wartawan di kantor Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (28/2/2025), mengatakan, sejak awal 2025, asing melakukan penjualan bersih hingga Rp 19 triliun sehingga IHSG turun 12 persen.

”IHSG itu bukan kita bicara bahwa ini kenapa. Tapi, sangat banyak penyebab dari perubahan indeks, dan itu bukan hanya satu pihak. Terus terang juga enggak gampang. Selalu kalau indeks dampaknya tiga hal, bagaimana global, bagaimana domestik, dan bagaimana korporasinya sendiri,” kata Iman.

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Iman Rachman dalam acara diskusi bersama wartawan di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (28/2/2025).

Ia menuturkan, global masih menjadi faktor utama yang memengaruhi keluarnya investor asing dari pasar domestik. Salah satunya datang dari ketidakpastian akibat kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump periode kedua yang dikenal dengan Trump 2.0. Kebijakannya diturunkan dalam bentuk perang tarif antara AS dan mitra dagangnya.

Faktor AS dengan kebijakan bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), dalam menurunkan suku bunga acuan juga menjadi pertimbangan asing masuk ke pasar saham AS. The Fed diperkirakan hanya akan menurunkan suku bunga satu kali tahun ini.

Iman juga menilai, ada faktor domestik yang jadi pertimbangan investor asing. Faktor ini, antara lain dilihat dari penilaian lembaga indeks pasar global Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap pasar domestik, juga berpengaruh banyak pada kepercayaan investor asing.

Dalam laporan terbarunya, akhir Februari ini, peringkat saham Indonesia dalam indeks MSCI berubah dari equal-weight (EW) menjadi underweight (UW). Per Maret, MSCI akan mengubah bobot saham Indonesia dari 2,2 persen menjadi 1,5 persen. 

Penilaian tersebut dikaitkan dengan pelemahan prospek pertumbuhan ekonomi, termasuk menurunnya profitabilitas sektor siklikal. Bahkan, Iman mengatakan, laba tahunan emiten sektor keuangan yang di bawah target konsensus juga menjadi sorotan investor.

”Kita mesti aware bahwa sekarang ini 40 persen (komposisi aset di pasar modal) dari asing. Lalu, hampir 40 persen total investasi itu milik ritel. Kalau dulu terbalik, 70 persennya kita domestik dan retail. Kalau IHSG turun, semua langsung disapu investor domestik,” kata Iman.

Oleh karena itu, ia menilai, pelaku pasar domestik harus berperan dalam menjaga kepercayaan investor di pasar modal. ”Kita tidak akan diam dengan penurunan (IHSG),” ujarnya.

IHSG masih berpotensi melemah lebih lanjut. Phintraco Sekuritas menganalisis bahwa IHSG telah membentuk titik tengah baru pada 2025. Tekanan jual masih agresif pada perdagangan sesi pertama hari ini, khususnya emiten di sektor perbankan.

”Secara teknikal pergerakan harga saham masih sejalan dengan target pelemahan lanjutan ke area 6.100,” kata tim analis Phintraco Sekuritas dalam ulasannya.

Grafis pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama perdagangan sesi pertama Jumat (28/2/2025). IHSG turun ke level terdalam sejak September 2021 ke level 6.300.

Konsolidasi pasar

Direktur Pengembangan BEI Jeffrey Hendrik pada kesempatan sama menimpali bahwa dengan kondisi pasar saat ini, mereka akan melakukan pertemuan dengan para pelaku pasar, termasuk sekuritas, manajer aset, dan perusahaan terdaftar.

Pertemuan semacam itu juga pernah mereka lakukan ketika IHSG melemah pada masa awal pandemi Covid-19, tahun 2020 silam. Hal yang akan didiskusikan antara lain tanggapan pelaku pasar pada kejadian tidak biasa di pasar saham dan kelanjutan produk derivatif yang berpotensi negatif untuk investor.

Contoh, pada saat terjadi pandemi Covid-19, BEI memutuskan melarang perdagangan produk short selling. Produk short selling dan intraday short selling tersebut sebelumnya juga direncanakan diperdagangkan tahun ini mulai Maret atau April 2025. Kelanjutan produk itu, imbuh Jeffrey, tergantung dari hasil diskusi dengan pelaku pasar.

Ke depan, BEI juga akan rutin melakukan sosialisasi ke beberapa negara untuk memberikan informasi terkait pasar di Indonesia. Hal ini diharapkan menjaga relasi dan kepercayaan investor asing.

”Kami dari bursa tentu sangat terbuka untuk memberikan support kepada pasar kita saat ini agar kepercayaan pasar bisa meningkat,” ujarnya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Erika Kurnia
 | 

Editor:

Muhammad Fajar Marta