Perlukah investor saham domestik khawatir?
21 Feb 2025 13:48 WIB · Ekonomi
JAKARTA, KOMPAS — Perusahaan penyedia indeks global, Morgan Stanley Capital International, memberi penilaian yang kurang baik terhadap sejumlah saham perusahaan terbuka di dalam negeri. Penilaian yang menjadi acuan investor asing ini menunjukkan ketidakpastian akan likuiditas saham berkapitalisasi besar di dalam negeri.
Analis saham Infovesta, Ekky Topan, saat dihubungi Kompas, Jumat (21/2/2025), menjelaskan, penilaian Morgan Stanley Capital International (MSCI) dengan memasukkan sejumlah saham Indonesia ke Global Standard Index mengacu pada preferensi investor asing. Penilaian MSCI juga menjadi salah satu acuan utama bagi manajer investasi global dalam menentukan alokasi dana mereka di pasar saham dalam negeri.
”Saham yang masuk ke dalam MSCI cenderung mendapatkan perhatian lebih dan berpotensi menarik inflow (dana masuk) dari investor asing. Sementara saham yang dikeluarkan berisiko mengalami tekanan jual lebih lanjut,” ujarnya.
MSCI pada Februari 2025 melakukan penyesuaian pembobotan saham Indonesia yang akan ditetapkan per Maret 2025. Mereka melakukan penyesuaian pembobotan saham atau rebalancing sebanyak empat kali, yakni pada Februari, Mei, Agustus, dan November.
Pada pengumuman per awal 2025, terdapat tiga dari 20 saham milik emiten Indonesia di daftar MSCI Global Standards yang dikeluarkan. Saham yang dimaksud adalah milik PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) yang turun ke daftar MSCI Small Cap Index serta PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/21/ad2e20c7262ecec794a596abc0c8b0c2-Screenshot_20250221_124607_Drive.jpg)
MSCI tidak akan menambahkan saham perusahaan Indonesia lainnya ke dalam daftar tersebut sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Pada 11 Februari 2025, MSCI mengumumkan bahwa mereka tidak mempertimbangkan saham konglomerat berkapitalisasi besar untuk masuk daftar pada awal 2025.
Saham konglomerat yang dimaksud misalnya saham PT Petrindo Jaya Kreasi (CUAN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), dan PT Petrosea Tbk (PTRO).
Pada 2024, kinerja tahunan saham dalam daftar MSCI Indonesia mencatatkan -11,94 persen. Padahal, sejak 2021 kinerjanya selalu tumbuh positif. Kinerja tahunan pada 2024 juga lebih buruk dari kinerja tahunan di tahun awal pandemi Covid-19, 2020, sebesar -7,46 persen.
Topan membaca, pergerakan indeks MSCI Indonesia yang mengalami perlambatan kenaikan setelah pandemi menunjukkan pasar saham Indonesia masih menghadapi tantangan besar. Tantangan ini baik dari sisi aliran modal asing maupun sentimen domestik.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/20/2c8f9608-7843-4103-9dd8-dfd362257fd5_jpg.jpg)
Pergerakan dana investor asing berpengaruh signifikan terhadap pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pada 2024, asing mencatatkan pembelian bersih senilai Rp 15,98 triliun di pasar saham. Namun, IHSG ambles 2,65 persen seusai asing melakukan aksi jual besar-besaran pada beberapa bulan terakhir tahun 2024.
IHSG pada Kamis (20/2/2025) berada di level 6.788, turun 4,1 persen dibandingkan awal 2025. Sebab, dana asing yang keluar dari pasar modal mencapai Rp 11 triliun.
”Ketika investor asing melakukan aksi jual besar-besaran (outflow), dampaknya terhadap IHSG akan sangat signifikan karena, dari sisi domestik, likuiditas yang tersedia belum cukup kuat untuk menahan tekanan jual tersebut,” kata Ekky.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/17/43c9d90b8bb20da9eeb76e17bdd0e77f-20250217_171714.jpg)
Pengamat pasar modal Lanjar Nafi mengatakan, aksi jual investor asing yang berlangsung terus-menerus dapat menurunkan tingkat kepercayaan investor domestik. Ini dapat menjadi katalis negatif untuk fundamental pasar saham.
Di satu sisi, kondisi dalam negeri juga dinilai berperan dalam memengaruhi kepercayaan investor dalam dan luar negeri. ”Ini dampak dari stabilitas politik dalam negeri yang masih cenderung tidak stabil. Lalu, daya beli yang menurun, terlihat dari tingkat inflasi yang jauh di bawah 2 persen yang tidak mudah diintervensi oleh kebijakan moneter karena ancaman depresiasi nilai tukar,” tuturnya.
Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, saat dihubungi terpisah, menilai, situasi ini masih menjadi efek dinamika pandemi Covid-19 yang membuat kinerja emiten kurang optimal.
”Memang, saya akui, di 2025 yang keluar banyak sahamnya, sementara yang masuk masih belum ada kabar. Paling kita menantikan review bagian kedua yang akan ditetapkan nanti,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/07/b822647f-de0b-4028-bc0b-7db917826483_jpg.jpg)
Meski MSCI bisa berpengaruh pada persepsi investor dalam negeri, pemilihan saham berdasarkan fundamental jangka panjang bisa menjadi fokus investor saat ini.
Ekky menilai, penilaian dari MSCI penting diperhatikan bagi penjual saham atau trader. Hal ini karena momentum masuk atau keluarnya suatu saham dari indeks tersebut dapat memengaruhi pergerakan harga saham dalam jangka pendek. Namun, keluarnya saham dari MSCI tidak selalu menjadi sinyal negatif, selama fundamental perusahaan tetap solid.
”Perlu diingat bahwa MSCI lebih berfokus pada likuiditas dan kapitalisasi pasar dalam menentukan konstituen indeksnya, bukan semata-mata pada kualitas fundamental perusahaan. Oleh karena itu, investor perlu tetap berpegang pada analisis fundamental yang kuat dalam menentukan keputusan investasinya, tanpa terlalu terpengaruh oleh perubahan dalam indeks MSCI,” tuturnya.
Lanjar juga menilai, investor ritel di Indonesia tidak terlalu terpengaruh oleh penilaian MSCI. Sebaiknya, lanjutnya, investor harus mempertimbangkan fundamental saham dan kondisi ekonomi makro sebelum membuat keputusan investasi.
”Selain itu, investor juga harus diversifikasi portofolio investasi untuk mengurangi risiko,” kata Lanjar.
Penulis:
Erika KurniaEditor:
FX Laksana Agung Saputra