IHSG Melanjutkan Jalur Optimistis di Tengah Tantangan Ekonomi

IHSG pada Senin (5/5/2025) dibuka di level 6.844 dan berhasil mempertahankan tren kenaikan hingga 6.851 pada penutupan sesi pertama perdagangan.

05 Mei 2025 13:20 WIB · Ekonomi

Oleh Erika Kurnia

JAKARTA, KOMPAS — Indeks Harga Saham Gabungan pada pekan kedua Mei 2025 melanjutkan tren kenaikan harga atau bullish sejak pertengahan April lalu. Tren ini terjadi di tengah banyaknya tantangan ekonomi dari dalam dan luar negeri, dari potensi penurunan suku bunga The Fed yang tidak signifikan hingga perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Senin (5/5/2025) dibuka di level 6.844 dan berhasil mempertahankan tren kenaikan hingga 6.851 pada penutupan sesi pertama perdagangan hari ini. Pengamat pasar modal Panin Sekuritas, Reydi Octa, mengatakan, IHSG mulai menunjukkan kenaikan sejak minggu lalu ketika berhasil menguat 2 persen ke level 6.815.

Dalam tiga hari berturut-turut pada awal Mei, asing kembali melakukan pembelian bersih di pasar saham dengan total hampir Rp 300 miliar. Pada waktu bersamaan, nilai tukar rupiah kembali menguat selama pekan lalu, dengan ditutup pada angka Rp 16.400 per dollar AS. Ini merupakan posisi terkuat sejak pertengahan Maret 2025.

Quote

Aliran dana asing tercatat ”net buy” (melakukan pembelian bersih) sebesar Rp 292 miliar dalam kurun waktu seminggu terakhir.

”Sementara itu, faktor penggerak IHSG pada minggu ini salah satunya dari aliran dana asing yang tercatat mulai masuk ke bursa saham Indonesia pada minggu lalu. Aliran dana asing tercatat net buy (melakukan pembelian bersih) sebesar Rp 292 miliar dalam kurun waktu seminggu terakhir,” tuturnya kepada Kompas.

Reydi mengingatkan, sentimen perang tarif patut dicermati sekalipun akhir-akhir ini tensinya mulai berkurang. Ini terjadi walaupun belum ada terobosan signifikan dalam negosiasi antara AS dan China. Trump sebelumnya telah menyatakan keinginannya untuk mencapai kesepakatan dagang yang adil dengan China.

”Hal ini membuat pergerakan IHSG bisa lebih stabil dengan penetapan jeda periode 90 hari untuk penerapan tarif impor AS,” ujarnya.

Infografik riset Tensi Panas Perang Tarif AS-China

Sementara itu, investor tengah mewaspadai agenda bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, pada 7 Mei 2025. Agenda itu antara lain menetapkan suku bunga acuan yang diprediksi akan turun menjadi hanya 5,2 persen.

”Hal ini belum bisa jadi momentum positif untuk perdagangan saham di AS dan dampaknya akan berpengaruh ke Bank Indonesia yang masih enggan menurunkan suku bunga hingga saat ini, yang tentunya belum akan berpengaruh positif ke IHSG,” katanya.

Investor juga mencermati pengaruh data inflasi yang baru dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada Mei ini. Variabel ini akan memengaruhi selera investor dalam berinvestasi.

Produk domestik bruto pada triwulan I-2025 secara tahunan tumbuh 4,87 persen, lebih rendah dari ekspektasi analis sebesar 4,91 persen. Data ini menunjukkan perlambatan ekonomi dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 5,02 persen.

Target pertumbuhan ekonomi sepanjang 2025 ditetapkan 5,2 persen oleh pemerintah. Sementara Bank Indonesia memproyeksikan 4,7-5,5 persen.

Realisasi pertumbuhan ekonomi per triwulan I-2025 yang melambat itu, menurut dia, bisa direspons negatif oleh pasar sehingga tekanan jual akan terjadi pada pekan ini. ”Menurut saya, penguatan IHSG tetap harus kita waspadai dan antisipasi untuk bisa tetap ada cash untuk buyback jika saham masih turun harganya ke depan,” ujarnya.

Pergerakan indeks langsung anjlok hingga minus 9,19 persen saat perdagangan sesi pertama dibuka di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (8/4/2025). PT Bursa Efek Indonesia melakukan pembekuan sementara perdagangan (trading halt) pada pukul 09.00 waktu Jakarta Automated Trading System (JATS) yang dipicu penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencapai 8 persen. Pembekuan perdagangan dilakukan selama 30 menit. 

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO (TOK)
08-04-2025

Ekonom Mirae Asset Sekuritas, Rully A Wisnubroto, menyoroti tren positif di pasar obligasi. Imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun turun ke 6,88 persen. Adapun premi CDS lima tahun Indonesia juga telah turun di bawah 100 selama enam hari perdagangan terakhir. 

”Menurut kami, penguatan IHSG, rupiah, serta turunnya imbal hasil SBN dan premi CDS Indonesia terjadi terlalu cepat, di tengah masih tingginya ketidakpastian ekonomi, baik global maupun domestik,” ujarnya dalam laporan analisisnya hari ini.

Quote

Menurut kami, penguatan IHSG, rupiah, serta turunnya imbal hasil SBN dan premi CDS Indonesia terjadi terlalu cepat.

Rully memproyeksikan, level IHSG saat ini sudah terlalu tinggi sehingga aksi profit taking atau pengambilan keuntungan saham sementara akan dilakukan dalam waktu dekat oleh para investor jangka pendek.

Terkait kondisi di pasar global, negosiasi dagang antara AS dan China kemungkinan masih akan berjalan cukup lama dan belum akan ada keputusan yang jelas untuk melakukan deeskalasi.

Di Indonesia, Rully menilai, perkembangan data ekonomi menunjukkan kondisi kurang baik. Indikatornya, antara lain, adalah inflasi lebih tinggi dibandingkan dengan ekspektasi dan Purchasing Managers’ Index (PMI) turun signifikan. PMI di April berada di level 46,7.

Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza, Menteri Perdagangan Budi Santoso, Wakil Menteri Luar Negeri Arif Havas Oegroseno, dan CEO Citi Indonesia Batara Sianturi (kiri ke kanan) mendampingi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto (tengah) memberi keterangan kepada wartawan terkait penerapan tarif perdagangan baru Amerika serikat terhadap negara mitra, di Jakarta, Senin (7/4/2025). Indonesia, seperti negara ASEAN lainnya, akan menempuh jalur negosiasi menghadapi kebijakan tarif perdagangan baru oleh Presiden AS Donald Trump.

Analis Mirae Asset Sekuritas lainnya, Karinska Salsabila Priyatno, juga menyoroti inflasi Indeks Harga Konsumen (OJK) Indonesia pada April 2025 yang tercatat 1,17 persen secara bulanan, melandai dibandingkan Maret 2025. Saat itu, inflasi melonjak ke 1,65 persen seiring meredanya dampak musiman Lebaran.

Secara tahunan, inflasi naik menjadi 1,95 persen dari sebelumnya 1,03 persen pada Maret. Kenaikan harga masih dipimpin oleh komponen harga yang diatur pemerintah (administered prices), antara lain harga listrik dan BBM.

Inflasi inti juga meningkat 0,31 persen secara bulanan didorong oleh harga perhiasan emas yang tetap tinggi serta permintaan pangan olahan selama Ramadhan. Sementara itu, harga pangan bergejolak justru mencatat deflasi tipis 0,04 persen secara bulanan, meredakan sebagian tekanan harga yang melonjak pada bulan sebelumnya.

”Dengan inflasi utama yang mulai stabil dan inflasi inti yang masih relatif kaku, Bank Indonesia diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya di 5,75 persen setidaknya hingga paruh pertama 2025,” katanya.

Di sisi lain, tekanan inflasi secara umum telah mereda dibayangi beberapa risiko, seperti arus keluar valuta asing musiman, pelemahan rupiah, serta ketidakpastian global, termasuk potensi kenaikan tarif dagang dari AS. Ruang untuk pelonggaran kebijakan BI dalam waktu dekat pun dinilai terbatas. 


Kerabat Kerja

Penulis:

Erika Kurnia
 | 

Editor:

FX Laksana Agung Saputra
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti