RI dalam Bayang-bayang Pertumbuhan di Bawah 5 Persen

Ekonomi RI dalam beberapa tahun terakhir identik tumbuh di kisaran 5 persen. Namun, anomali mulai terjadi. Ekonomi diperkirakan bisa tumbuh di bawah level tersebut.

03 Mei 2025 17:33 WIB · Ekonomi

Oleh Agustinus Yoga Primantoro

JAKARTA, KOMPAS — Ekonomi Indonesia pada triwulan I tahun 2025 diperkirakan mulai memasuki tren perlambatan yang tumbuh di bawah 5 persen. Beberapa katalis utama pertumbuhan, seperti konsumsi rumah tangga, faktor musiman, dan sektor keuangan, mulai menunjukkan gejala pelemahan.

Berdasarkan jadwal, Badan Pusat Statistik (BPS) akan melaporkan perkembangan pertumbuhan ekonomi atau produk domestik bruto (PDB) nasional untuk periode triwulan I-2025 pada Senin (5/5/2025). Beberapa pihak, termasuk lembaga internasional, telah memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di bawah 5 persen pada 2025.

Dalam lima tahun terakhir, pertumbuhan PDB Indonesia cenderung stabil di atas 5 persen. Ini di luar masa pandemi Covid-19 pada triwulan II-2020 hingga triwulan I-2021, yang bahkan sempat mencatatkan pertumbuhan negatif selama empat triwulan beruntun.

Secara kumulatif, PDB nasional pada 2024 tumbuh sebesar 5,03 persen secara tahunan. Meski berada di atas pertumbuhan pada 2019 yang sebesar 5,02 persen, capaian itu cenderung melambat dibanding pada 2023 yang mencapai 5,05 persen.

Data pertumbuhan produk domestik bruto Indonesia selama 2015-2024. Sumber: Badan Pusat Statistik

Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) dalam laporan Indonesia Economic Outlook Triwulan II-2025 yang bertajuk ”Memasuki Pertumbuhan di Bawah 5” memperkirakan, PDB Indonesia tumbuh 4,94 persen pada triwulan-I 2025 atau dalam kisaran 4,93-4,95 persen.

Secara keseluruhan, PDB nasional pada 2025 diperkirakan tumbuh 4,95 persen atau dalam kisaran 4,9-5,0 persen. Perkiraan ini dipengaruhi oleh faktor eksternal global ataupun faktor internal domestik.

Tekanan dari eksternal itu terutama berasal dari eskalasi perang dagang yang dipicu oleh pengenaan tarif bea masuk impor tinggi Amerika Serikat. Perkembangan ini berisiko negatif bagi Indonesia, khususnya terhadap arus investasi, perdagangan, inflasi impor, depresiasi nilai tukar, tekanan fiskal, serta perlambatan ekonomi secara menyeluruh.

Quote

Beberapa tahun terakhir, mesin pertumbuhan struktural ekonomi Indonesia cenderung melemah, yang ditunjukkan oleh penurunan daya beli, menyusutnya jumlah kelas menengah, dan melemahnya produktivitas sektoral secara persisten.

Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan Teuku Riefky, Sabtu (3/5/2025), mengatakan, performa ekonomi Indonesia sepanjang 2024 mengindikasikan sinyal perekonomian Indonesia kesulitan untuk tetap mencapai pertumbuhan 5 persen.

”Dalam beberapa tahun terakhir, mesin pertumbuhan struktural ekonomi Indonesia cenderung melemah, yang ditunjukkan oleh penurunan daya beli, menyusutnya jumlah kelas menengah, dan melemahnya produktivitas sektoral secara persisten,” katanya saat dihubungi dari Jakarta.

Pada 2024, ekonomi RI mampu tetap tumbuh di atas 5 persen, antara lain ditopang oleh faktor musiman, seperti momentum Ramadhan dan Idul Fitri, serta libur akhir tahun. Namun, ada indikasi perubahan pola pengeluaran konsumen untuk aktivitas rekreasi selama periode libur akhir tahun lalu.

MSI Perilaku Masyarakat Berwisata

Fenomena itu dapat dilihat dari performa sektoral ekonomi Indonesia. Biasanya, kenaikan aktivitas ekonomi secara musiman pada triwulan terakhir setiap tahunnya memiliki karakteristik berupa kenaikan pertumbuhan sektor transportasi dan pergudangan, serta akomodasi dan makanan minuman.

”Akan tetapi, pada 2024, kedua sektor tersebut justru mengalami perlambatan pertumbuhan pada triwulan-IV 2024. Fenomena ini mengindikasikan semakin kuatnya tanda-tanda pelemahan daya beli,” ujar Riefky.

Tren itu turut diperkuat oleh hasil survei Mandiri Spending Index yang menunjukkan bahwa masyarakat cenderung melakukan perjalanan dengan jarak yang lebih dekat untuk berlibur pada akhir 2024 dibandingkan tahun sebelumnya.

Pada triwulan IV-2024, sektor transportasi dan pergudangan tercatat tumbuh 7,64 persen secara tahunan atau melambat dibanding triwulan sebelumnya yang tumbuh 8,64 persen. Adapun sektor akomodasi dan penyediaan makanan minuman turut melambat, dari 8,3 persen pada Triwulan-III 2024 menjadi 6,6 persen pada Triwulan-IV 2024.

Secara keseluruhan, konsumsi rumah tangga yang menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi hanya tumbuh sebesar 4,98 persen secara tahunan pada Triwulan-IV 2024. Meski sedikit meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya, pertumbuhan itu masih berada di bawah pertumbuhan PDB secara keseluruhan.

Seorang pengunjung melihat produk alas kaki di Mal Kuningan City, Jakarta, Jumat (20/12/2024). Pemerintah bersama gabungan sejumlah organisasi pengusaha ritel menggelar pesta diskon bertajuk "Belanja di Indonesia Aja (Bina) Diskon 2024". Pesta diskon ini sebagai rangka menyambut Natal 2024 dan Tahun Baru 2025. Program diskon yang ditawarkan beragam, mulai dari diskon 54 persen, diskon 70 persen, sampai program beli satu dapat satu. Bina Diskon 2024 ini digelar di 396 mal di 24 provinsi di Indonesia, mulai dari tanggal 20-29 Desember 2024. Program ini bertujuan untuk mendorong daya beli masyarakat sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional. KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK) 20-12-2024

Sektor keuangan melemah

Laporan LPEM FEB UI juga menemukan pelemahan kredit dan dana pihak ketiga (DPK) industri perbankan. Kondisi tersebut secara umum turut menggambarkan adanya pelemahan daya beli masyarakat.

Meski pada triwulan IV-2025 penyaluran kredit oleh perbankan masih tumbuh dua digit atau sebesar 10,7 persen secara tahunan, pertumbuhan itu melambat dibanding triwulan sebelumnya yang mencapai 11,55 persen. Ini antara lain disebabkan oleh melambatnya kredit konsumsi, terutama kredit pemilikan rumah (KPR).

Quote

Penyaluran kredit Himbara yang melambat mencerminkan adanya tekanan dari sisi permintaan dan kehati-hatian bank menyalurkan kredit di tengah ketidakpastian global.

Di sisi lain, pertumbuhan DPK perbankan turut melambat, dari sebesar 7,04 persen pada triwulan III-2024 menjadi 5,27 persen pada triwulan IV-2024. Perlambatan ini utamanya disebabkan oleh penurunan pertumbuhan pada seluruh jenis simpanan, dan bahkan simpanan perorangan mengalami kontraksi.

Berdasarkan data terbaru, pertumbuhan kredit perbankan pada Maret 2025 tercatat sebesar 9,16 persen secara tahunan, atau melambat dibanding dua bulan beruntun yang masih tumbuh dua digit. Begitu pula dengan pertumbuhan DPK yang melambat, dari sebesar 5,51 persen pada Januari 2025 dan sebesar 5,75 persen pada Februari 2025 menjadi 4,75 persen pada Maret 2025.

Infografik Kinerja Himbara Triwulan I-2025

Kinerja Himpunan Bank-bank Milik Negara (Himbara) sebagai penopang utama kinerja industri perbankan nasional pun terkoreksi. Berdasarkan agregasi laporan kinerja triwulan I-2025, penyaluran kredit oleh Himbara mencapai Rp 4.174,24 triliun atau tumbuh 10,34 persen secara tahunan.

Pertumbuhan kredit tersebut lebih rendah dibanding triwulan I-2024 yang tumbuh 13,96 persen dan triwulan IV-2024 yang tumbuh 12,6 persen. Perolehan laba bersih bank-bank pelat merah itu pun merosot 11 persen secara tahunan menjadi Rp 31,34 triliun pada triwulan I-2025.

Pengamat perbankan dan praktisi sistem pembayaran, Arianto Muditomo, mengatakan, penyaluran kredit Himbara yang melambat mencerminkan adanya tekanan dari sisi permintaan dan kehati-hatian bank dalam menyalurkan kredit di tengah ketidakpastian global.

”Penurunan laba bersih sebesar 11,26 persen kemungkinan disebabkan oleh meningkatnya biaya dana, penurunan margin bunga bersih (NIM), serta naiknya pencadangan (CKPN) akibat peningkatan risiko kredit, khususnya pada segmen tertentu,” katanya saat dihubungi dari Jakarta.

Pedagang warung tegal atau warteg melayani pembeli saat jam makan siang di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (11/11/2024). Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berharap kebijakan hapus tagih kredit dapat benar-benar menyasar pelaku usaha yang kesulitan mengangsur, terutama sekmen mikro.

Ia memperkirakan, tren penyaluran kredit masih tetap tumbuh ke depan. Namun, pertumbuhannya cenderung moderat mengingat adanya tekanan suku bunga global, potensi pelemahan konsumsi domestik, serta masih terjaganya ketatnya likuiditas di sektor keuangan.

Oleh sebab itu, perbankan perlu mengantisipasi potensi peningkatan risiko kredit di tengah perlambatan ekonomi global, fluktuasi suku bunga, dan ketidakpastian geopolitik. Bank sebaiknya memperkuat manajemen risiko, terutama dalam pemetaan risiko sektor ekonomi yang sensitif.

Di luar perkiraan

Sebelumnya, Dana Moneter Internasional (IMF) dalam World Economic Outlook (WEO) April 2025 memproyeksikan, ekonomi RI hanya tumbuh 4,65 persen pada 2025. Pertumbuhan itu akan meningkat dan kembali ke atas 5 persen secara bertahap pada 2029, yakni 5,11 persen.

Perkiraan serupa juga datang dari Bank Dunia yang merevisi pertumbuhan ekonomi RI pada 2025, dari 5 persen menjadi 4,7 persen. Namun, proyeksi pertumbuhan Indonesia mendatang dari Bank Dunia sedikit lebih baik, yakni meningkat menjadi 5 persen pada 2027.

Quote

Proyeksi IMF dan Bank Dunia memberi peringatan sulitnya pemerintahan Prabowo mencapai target pertumbuhan ekonomi 8 persen pada 2029. Bahkan, terdapat tantangan berat untuk bisa tetap tumbuh kisaran 5 persen pada 2025 dan 2026.

Dihubungi secara terpisah, ekonom Bright Institute, Awalil Rizky, mengatakan, berbagai perkiraan tersebut jauh lebih rendah dari proyeksi asumsi dasar dalam Nota Keuangan dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2025 serta Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2025-2029.

Adapun pertumbuhan ekonomi untuk tahun 2025 dalam Nota Keuangan 2025 diproyeksikan mencapai 5,2 persen. Sementara itu, RPJMN memproyeksikan pertumbuhan ekonomi selama 2025-2029 berturut-turut sebesar 5,3 persen, 6,3 persen, 7,5 persen, 7,7 persen, dan 8 persen.

”Secara umum proyeksi IMF dan Bank Dunia memberi peringatan sulitnya pemerintahan Prabowo mencapai target pertumbuhan ekonomi 8 persen pada 2029. Bahkan, terdapat tantangan berat untuk bisa tetap tumbuh kisaran 5 persen pada 2025 dan 2026,” katanya saat dihubungi dari Jakarta.

Infografis Proyeksi Ekonomi Indonesia menurut IMF

Awalil turut menyoroti laporan Bank Dunia terkait indikator pertumbuhan kelompok sektoral, yakni pertanian, industri, dan jasa-jasa. Meski akan tumbuh lebih tinggi menjadi 3,6 persen pada 2025, sektor pertanian diperkirakan kembali turun menjadi 3 persen pada 2026 dan 2027.

Di sisi lain, sektor industri dalam arti luas yang mencakup di luar industri pengolahan justru diperkirakan melambat signifikan, dari 5 persen pada 2024 menjadi 3,8 persen pada 2025. Sementara sektor industri hanya bisa sedikit meningkat menjadi 4 persen pada 2026 dan 2027.

”Oleh karena sektor industri memiliki porsi terbesar dalam PDB, maka menjadi penyebab utama perlambatan pertumbuhan ekonomi. Ditambah lagi, pertumbuhan sektor jasa yang juga melambat pada 2025 dan 2026,” ujar Awalil.


Kerabat Kerja

Penulis:

Agustinus Yoga Primantoro
 | 

Editor:

Agnes Theodora
 | 

Penyelaras Bahasa:

FX Sukoto