IHSG Diperkirakan Sulit Bangkit di Akhir Tahun 2024

Sentimen positif di pasar keuangan dari dalam dan luar negeri sangat minim. Pemerintah disarankan memperjelas kebijakan yang lebih menguntungkan rakyat untuk tahun depan.

18 Des 2024 17:15 WIB · Ekonomi

Oleh Erika Kurnia

JAKARTA, KOMPAS — Indeks Harga Saham Gabungan yang sempat menunjukkan tanda perbaikan jelang pengujung tahun terus melorot ke level 7.100. Analis membaca, kecil kemungkinan ada sentimen positif yang dapat mendongkrak harga-harga saham domestik dalam waktu kurang dari dua minggu ke depan.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini, Rabu (18/12/2024), ditutup di level 7.107, turun 0,7 persen dibandingkan perdagangan hari sebelumnya dan turun 2,27 persen dari posisi di awal tahun 2024.

Pergerakan IHSG juga anjlok sekitar 5 persen dari pekan lalu atau 11 Desember di level 7.529. Kebangkitan IHSG pekan lalu menandai periode window dressing sebagai upaya investor besar untuk mempercantik saham berkapitalisasi besar di pergantian tahun.

”Tetapi, ternyata kita balik lagi ke 7.100 dan kayaknya musti mencoba level psikologis di 7.000. Mudah-mudahan ada manajer-manajer aset yang mau mendorong agar IHSG di atas 7.000,” tutur Head of Research NH Korindo Sekuritas Indonesia (NHKSI) Liza Camelia Suryanata, dalam acara Market Outlook 2025: New Year New Nationalism di Jakarta, hari ini.

Head of Research NH Korindo Sekuritas Indonesia (NHKSI) Liza Camelia Suryanata menyampaikan presentasi ekonomi makro dalam acara "Market Outlook 2025: New Year New Nationalism" di Jakarta, Rabu (18/12/2024).

Saat ini, NHKSI mencoba realistis untuk menargetkan IHSG bergerak ke level 7.400-7.500 di perdagangan terakhir tahun 2024. Target itu jauh lebih rendah dari sebelumnya di level 7.800.

Target itu, Liza melanjutkan, diharapkan tercapai dari kebangkitan saham emiten keuangan atau perbankan berkapitalisasi besar. Saham sektor tersebut dalam sepekan terakhir juga mengalami koreksi yang persentasinya bersaing dengan penurunan IHSG, yakni 5 persen.

Penurunan ini disebabkan penarikan dana oleh investor asing dalam seminggu terakhir yang mencapai nilai penjualan bersih atau net sell sebesar Rp 5,3 triliun. Saham-saham perbankan, seperti PT Bank Sentral Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Persero Tbk (BBRI), dan PT Bank Negara Indonesia Persero Tbk (BBNI), pada penutupan perdagangan Selasa (17/12/2024) menjadi saham dengan nilai net sell tertinggi.

Liza memprediksi, pergerakan IHSG secara teknikal masih bisa berbalik arah jika berhasil menembus level di bawah 7.000. Namun, sentimen positif dalam waktu kurang dari dua pekan sebelum akhir tahun dibutuhkan.

Untuk sementara, Liza pesimistis, sentimen positif datang dari faktor eksternal. Ia menilai, investor asing masih akan cenderung wait and see. Hal ini melihat nilai tukar rupiah yang masih lemah di level harga Rp 16.000 per dollar AS. Kondisi ini, menurut Liza, dipengaruhi penguatan mata uang dollar AS yang tidak hanya disebabkan kebijakan ekonomi AS, tetapi juga peningkatan permintaan dollar AS oleh korporasi dalam negeri dan masyarakat jelang libur Natal dan Tahun Baru.

Untuk mengatasi situasi ini, Bank Indonesia (BI) kembali menahan suku bunga acuan atau BI Rate pada level 6 persen, suku bunga Deposit Facility sebesar 5,25 persen, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,75 persen, pada hari ini.

Meski tidak berharap banyak akan ada sentimen positif yang akan membuat investor asing kembali melirik pasar dalam negeri, Liza berpendapat, pemerintah bisa memperbaiki sentimen ekonomi dalam negeri. Hal itu, antara lain, dengan memperjelas stimulus ekonomi untuk menghadapi kebijakan dan program pemerintah tahun 2025 mendatang.

”Insentif aja, sih, saya rasa. Insentif pemerintah yang kemarin memastikan kenaikan PPN sebesar 1 poin, mereka juga imbangi sama sekeranjang insentif itu mungkin lebih bisa diperjelas eksekusinya. Salah satunya insentif untuk sektor properti,” kata Liza.

Diberitakan sebelumnya, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mengumumkan Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) untuk pembelian properti sampai dengan Rp 5 miliar akan dilanjutkan pada tahun depan. Insentif ini masuk dalam paket stimulus kebijakan ekonomi yang diberikan pemerintah yang akan menaikkan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dari 11 persen menjadi 12 persen per 1 Januari 2025. 

Pergerakan IHSG sejak awal tahun 2024 hingga Rabu (18/12/2024).

Perusahaan sekuritas Mirae Asset Sekuritas baru-baru ini juga mengubah proyeksi IHSG ke level 7.500 di penutupan perdagangan akhir tahun 2024, lebih rendah dari proyeksi sebelumnya di 7.915. Faktor depresiasi rupiah, pelantikan Donald Trump sebagai Presiden AS, dan implementasi kenaikan PPN menjadi 12 persen membuat investor cenderung wait and see hingga Januari 2025.

Laporan Indonesia Outlook 2025 dari Schroders Indonesia belum lama ini pun berpendapat sama. Mereka menyebut, investor masih mengamati dengan cermat kebijakan dan eksekusi kebijakan pemerintah baru yang dilantik pada Oktober silam. Pada saat bersamaan, Donald Trump yang akan mulai menjabat sebagai Presiden AS baru tahun depan juga membuat imbal hasil obligasi AS tetap tinggi dan the Fed lebih sulit untuk menurunkan suku bunga sehingga menyedot daya tarik investor asing.

”Kami meyakini investor sekarang menunggu kejelasan lebih lanjut dari Pemerintah Indonesia tentang kebijakan domestik dan juga dari Trump mengenai kebijakan AS ketika presiden terpilih mulai menjabat pada Januari 2025,” kata tim analis Schroders Indonesia.


Kerabat Kerja

Penulis:

Erika Kurnia
 | 

Editor:

Muhammad Fajar Marta