IHSG Ditutup Melemah di Level 5.996, Sentimen Global dan Rupiah Jadi Perhatian

Pasar saham masih akan fluktuatif ke depan, bergantung pada aksi pemerintah dalam memitigasi pelemahan rupiah dan sentimen negatif di perdagangan global.

08 Apr 2025 18:19 WIB · Ekonomi

Oleh Erika Kurnia

JAKARTA, KOMPAS — Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG pada perdagangan perdana setelah libur panjang, Selasa (8/4/2025), ditutup melemah 7,9 persen ke posisi 5.996,14. Pergerakan IHSG ke depan masih akan fluktuatif akibat sentimen global yang memengaruhi stabilitas nilai tukar rupiah hingga perilaku investor saham asing.

Pelemahan IHSG sejalan dengan harga saham di seluruh sektor yang bergerak di zona merah. Saham dari perusahaan di sektor material dasar mengalami pelemahan terdalam sebesar 10,54 persen, menyusul sektor teknologi yang minus 10,23 persen dan sektor konsumsi siklikal yang minus 8,82.

Sebelumnya, pada pembukaan perdagangan seusai libur panjang Lebaran, Selasa pagi, IHSG langsung jeblok hingga 9,12 persen dari level 6.510,62 ke level 5.912. Faktor kebijakan tarif Trump yang mendunia masih menjadi pemberat IHSG.

Bursa Efek Indonesia (BEI) pun langsung merespons dengan menerapkan penghentian perdagangan sementara atau trading halt selama 30 menit.

Head Customer Literation and Education PT Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi, kepada Kompas, berpandangan bahwa tekanan yang masih cukup kuat mendorong IHSG stagnan di zona negatif dan gagal bertahan di atas level psikologis 6.000 pada penutupan perdagangan. Investor asing pada Selasa ini tercatat melakukan penjualan saham mencapai Rp 3,87 triliun.

Di satu sisi, pergerakan IHSG relatif stagnan disebabkan perubahan kebijakan oleh BEI. Kebijakan itu, antara lain, berupa perubahan batas persentase penurunan harga saham atau auto rejection bawah (ARB) menjadi 15 persen dari sebelumnya 35 persen. Dengan ini, ARB di beberapa saham maksimal hanya bisa sebesar 15 persen.

”Sementara itu, kami melihat pasar juga belum sepenuhnya merespons positif seiring dengan penyampaian sikap pernyataan pemerintah terkait tarif AS dikarenakan panic selling yang masih tinggi,” ujarnya saat dihubungi, Selasa.

Layar monitor memperlihatkan perdagangan saham yang telah kembaili dibuka setelah PT Bursa Efek Indonesia sempat melakukan pembekuan sementara perdagangan (trading halt) pada pukul 09.00 waktu Jakarta Automated Trading System (JATS), Selasa (8/4/2025). Trading halt selama 30 menit dilakukan karena Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun lebih dari 8 persen. IHSG ditutup di level 5.996,14, melemah 7,9 persen atau 514,48 poin dari perdagangan sebelumnya.

Audi melanjutkan, tekanan tersebut masih akan berlangsung dalam jangka waktu pendek dan menengah. ”Kami memperkirakan IHSG pada Rabu (9/4/2025) besok masih akan cenderung tertekan meski akan lebih terbatas seiring dengan masih berlanjutnya potensi depresiasi rupiah dan tekanan capital outflow (penjualan saham) oleh investor asing,” katanya.

Tekanan itu akan berkurang jika ada intervensi dari Bank Indonesia untuk menguatkan nilai tukar rupiah, strategi dan implementasi kebijakan pemerintah yang pro dengan pasar relaksasi kebijakan suku bunga, serta rilis kinerja perusahaan di bursa yang masih resilien.

Pasar menanti respons kebijakan

Tim analis Phintraco Sekuritas memprediksi, pergerakan IHSG tidak hanya masih dibayangi oleh sentimen negatif dari penerapan tarif impor oleh pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Pasar juga masih terus mencermati respons kebijakan yang akan diambil pemerintah dalam menjaga stabilitas nilai tukar, sekaligus memperkuat iklim investasi.

Pada Selasa (8/4/2025) ini, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS masih  bergerak di zona pelemahan ke level Rp 16.860 pada penutupan perdagangan sore ini meski relatif menguat setelah sempat menyentuh rekor di Rp 17.200 pada Senin (7/4/2025).

Layar menampilkan data perubahan aturan trading halt atau penghentian perdagangan sementara di pasar saham dan perubahan persentase batas penurunan harga saham atau auto rejection bawah (ARB), di Main Hall BEI, Jakarta, Selasa (8/4/2025).

Di tengah gejolak perekonomian global, kondisi ekonomi Indonesia menunjukkan geliat dari sebelumnya. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, inflasi Maret 2025 sebesar 1,65 persen.

Angka tersebut menunjukkan perbaikan setelah Indeks Harga Konsumen (IHK) keluar dari tren deflasi yang sempat terjadi sampai Februari 2025, dengan besaran -0,48 persen.

Perbaikan itu turut dipengaruhi oleh efek normalisasi pascaberakhirnya insentif diskon tarif listrik oleh pemerintah serta momentum puasa dan Lebaran yang mendorong konsumsi masyarakat. Selain itu, Purchasing Managers’ Index (PMI) Indonesia juga masih berada pada zona ekspansif, mencerminkan aktivitas manufaktur yang cukup solid.

Dengan mempertimbangkan kondisi sentimen yang ada, Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG akan bergerak dalam rentang panjang 5.800-6.400 pada perdagangan Rabu (9/4/2025).

”Diharapkan kombinasi strategi fiskal dan moneter yang efektif dapat kembali menarik aliran dana asing ke pasar keuangan Indonesia,” kata Tim Phintraco Sekuritas.


Kerabat Kerja

Penulis:

Erika Kurnia
 | 

Editor:

Agnes Theodora