Investor asing diperkirakan akan terus meninggalkan pasar saham RI imbas peringatan dan penilaian lembaga penyedia indeks global, MSCI.
29 Jan 2026 11:15 WIB · Ekonomi & Bisnis
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
JAKARTA, KOMPAS — Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia kembali mengalami tekanan jual pada perdagangan Kamis (29/1/2026) hingga Bursa Efek Indonesia menghentikan sementara perdagangan sesi pagi. Di hari yang sama, lembaga penyedia riset dan penasihat investasi, Goldman Sachs, menurunkan rekomendasi mereka terhadap saham Indonesia.
Dinamika mutkahir ini melanjutkan sentimen negatif yang berlangsung sehari sebelumnya, dipicu penilaian Morgan Stanley Capital International terhadap pasar Indonesia yang dianggap kurang transparan. Penilaian yang diumumkan pada Rabu (28/1/2026) pagi itu mendorong investor bereaksi.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Kamis sampai dengan pukul 10.15 WIB turun dalam ke level 7.579 atau melemah hampir 9 persen dibandingkan dengan waktu sama pada perdagangan Rabu (28/1/2026).
Sebelumnya, kurang dari 30 menit setelah pembukaan pasar hari ini, IHSG tercatat anjlok hingga 8 persen ke level 7.654,66. BEI pun membekukan sementara sistem perdagangan (trading halt) pada pukul 09.26 Waktu Jakarta Automated Trading System (JATS) dan kembali dilanjutkan pada pukul 09.56.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/29/59f13480ca4c4992be3c9c5c4d65107f-cropped_image.jpg)
BEI dalam keterangan resminya menyatakan, langkah tersebut dilakukan untuk menjaga agar perdagangan saham tetap berlangsung secara teratur, wajar, dan efisien. Ini merujuk Peraturan Nomor II-A tentang Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas serta Surat Keputusan Direksi BEI Nomor Kep-00002/BEI/04-2025.
Tekanan jual masif hingga trading halt juga terjadi pada perdagangan sesi kedua Rabu (28/1/2026). Sampai penutupan perdagangan Rabu, IHSG merosot 7,35 persen ke level 8.320,56. Pelemahan tajam itu didorong oleh aksi jual besar-besaran investor asing, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar sektor perbankan yang menjadi penopang utama indeks.
Data perdagangan menunjukkan investor asing mencatatkan arus keluar bersih (net outflow) sekitar Rp 6,2 triliun. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi sasaran jual terbesar dengan nilai mencapai sekitar Rp 4,1 triliun.
Sasaran jual terbesar berikutnya adalah saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) senilai Rp 1,3 triliun dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) senilai Rp 1,1 triliun.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/28/291295bb2aa07bf16d05a27cebeb45eb-20260128TOK16.jpg)
Tekanan di pasar saham Indonesia dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran investor global terhadap status Indonesia dalam indeks global. Lembaga penyedia indeks global, Morgan Stanley Capital International (MSCI), kemarin mengumumkan penundaan pemutakhiran indeks saham-saham Indonesia karena persoalan transparansi. MSCI memberikan waktu otoritas bursa domestik membereskan catatan tersebut.
MSCI juga menyoroti rendahnya kepemilikan saham oleh publik atau free float sebagai masalah fundamental yang mengganggu aspek investabilitas pasar saham Indonesia. Jika tidak ada pembenahan, MSCI pun mengancaman akan menurunkan status indeks saham Indonesia dari emerging market ke frontier market.
Kebijakan ini lantas disusul penilaian Goldman Sachs Group. Dikutip dari Bloomberg, lembaga tersebut menurunkan rekomendasi saham Indonesia menjadi underweight. Mereka memperingatkan bahwa kekhawatiran MSCI terkait isu investabilitas dapat memicu arus keluar dana lebih dari 13 miliar dolar AS. Proyeksi itu dapat terjadi apabila pasar Indonesia diturunkan statusnya ke kategori frontier market.
Dalam skenario ekstrem, jika Indonesia direklasifikasi dari pasar berkembang, dana pasif yang mengikuti indeks MSCI diperkirakan dapat menjual saham Indonesia hingga 7,8 miliar dolar AS. Selain itu, potensi arus keluar tambahan sebesar 5,6 miliar dolar AS bisa terjadi apabila lembaga pengindeks asal Inggris, FTSE Russell, ikut meninjau ulang metodologi free float dan status pasar Indonesia.
”Kami memperkirakan penjualan pasif akan berlanjut dan memandang perkembangan ini sebagai beban yang akan menghambat kinerja pasar,” tulis analis Goldman Sachs, termasuk Timothy Moe, dalam laporannya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/28/2650d12ce1d20ca1aa96f92e062e913d-20260128_134428.jpg)
Goldman Sachs juga menilai, posisi manajer investasi aktif regional yang saat ini relatif overweight terhadap Indonesia berpotensi mendorong penyesuaian portofolio. Tekanan tersebut dapat diperparah oleh meningkatnya stres pasar dan potensi penurunan likuiditas, serta memicu arus spekulatif dari dana lindung nilai.
Situasi ini, menurut riset harian Mirae Asset Sekuritas Indonesia, akan membuat gejolak IHSG tetap tinggi dalam waktu dekat. ”Keputusan MSCI dapat mendorong arus keluar dana bersifat struktural, bukan sekadar taktis,” tulis tim riset Mirae Asset.
Meski demikian, regulator pasar modal Indonesia telah menyatakan akan berkomunikasi dengan MSCI dan melakukan perbaikan data free float serta transparansi kepemilikan saham. Upaya tersebut dinilai krusial untuk menjaga kepentingan nasional dan mempertahankan status Indonesia sebagai pasar berkembang.
Dari sisi teknikal, Mirae Asset mencatat pelemahan IHSG bersifat tajam dan terkonsentrasi pada saham-saham berkapitalisasi besar yang memiliki bobot besar di indeks MSCI. Kondisi ini membuat pergerakan indeks sangat fluktuatif meskipun fundamental emiten secara umum dinilai masih relatif stabil.
Dalam jangka pendek, koreksi teknikal diperkirakan masih berlanjut seiring penyesuaian ekspektasi investor. Namun, dalam jangka menengah hingga panjang, tekanan ini dinilai dapat membuka peluang akumulasi selektif pada saham-saham dengan fundamental kuat dan sensitivitas lebih rendah terhadap perubahan indeks global.
Penulis:
Erika KurniaEditor:
FX Laksana Agung SaputraPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra