Eskalasi tensi geopolitik di Timur Tengah serta prospek ekonomi global yang memburuk menambah ketidakpastian pasar global.
19 Jun 2025 11:44 WIB · Ekonomi & Bisnis
JAKARTA, KOMPAS — Indeks Harga Saham Gabungan yang dibuka di level 7.101 pada perdagangan Kamis (19/6/2025) dalam waktu beberapa jam anjlok ke bawah level 7.000. Sentimen negatif datang dari kebijakan bank sentral dalam negeri dan Amerika Serikat yang menahan suku bunga acuannya menanggapi eskalasi tensi geopolitik.
IHSG sepanjang perdagangan sesi pertama melorot sekitar 1,5 persen ke batas 7.000, bahkan sempat menyentuh level terendah di 6.990. Mengutip RTI Business pada pukul 11.00 WIB, sebanyak 558 saham mengalami penurunan harga, sementara hanya 89 saham yang harganya naik dan 147 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga.
Penurunan ini melanjutkan pelemahan IHSG sehari sebelumnya, Rabu (18/6/2025), yang ditutup turun 0,67 persen ke level 7.107. Saham dari sektor consumer cyclical, atau produk konsumsi non-primer yang sensitif terhadap kondisi ekonomi, mengalami penurunan paling dalam sebesar 1,29 persen.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/19/37f81df86ce25510db0b3ee4b602021f-jci_ind.png)
Director Consumer Banking PT Bank DBS Indonesia Melfrida Gultom, Kamis (19/6/2025), mengatakan bahwa dinamika tensi geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global yang berlanjut turut menekan portofolio investasi. Konflik Iran-Israel yang memanas dalam satu pekan terakhir menambah ketidakpastian pada pertumbuhan ekonomi global.
Hal ini, menurut dia, memengaruhi keputusan bank sentral, seperti The Federal Reserve di AS dan Bank Indonesia (BI), untuk menunda penurunan suku bunga. Pasar sebelumnya menaruh ekspektasi bahwa suku bunga The Fed akan mengalami penurunan. Pada akhir tahun lalu, sempat ada peluang penurunan suku bunga hingga empat kali pada tahun 2025. Namun, sekarang berkurang menjadi dua kali saja.
”Namun, kita akan lihat ke depannya ada keputusan baru apa. BI juga baru dua kali (menurunkan suku bunga), pada Januari dan Mei 2025. Kita berharap ada policy baru untuk ekonomi Indonesia saat ini," tuturnya dalam acara diskusi grup ”DBS Treasures: Trusted Partner for Global Wealth” di Jakarta.
Dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC), para pejabat The Fed memutuskan menahan suku bunga di level 4,25 persen sampai 4,5 persen, dan tetap memberi sinyal dua kali pemangkasan hingga akhir 2025.
Akan tetapi, proyeksi terbaru itu menunjukkan perbedaan pandangan yang semakin lebar, di mana 7 dari 19 anggota FOMC kini memperkirakan tidak ada pemangkasan tahun ini. Selain itu, pemangkasan untuk 2026-2027 juga direvisi turun.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/18/bb166be062d7241e9d7329a2882dfcce-20250618TOK13.jpg)
Di sisi lain, BI kemarin juga mempertahankan suku bunga di level 5,50 persen. Keputusan itu didukung oleh inflasi yang tetap terkendali di angka 1,6 persen secara tahunan dan 2,4 persen untuk inflasi inti, serta penguatan kurs rupiah ke Rp 16.265 per dollar AS. BI memperkirakan pertumbuhan domestik akan meningkat pada paruh kedua 2025, didukung oleh stimulus fiskal dan pelonggaran likuiditas makroprudensial.
Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Karinska Salsabila Priyatno, dalam ulasannya, Kamis pagi, menyebut, volatilitas geopolitik membuat permintaan terhadap aset safe-haven yang berisiko lebih rendah dari pasar saham menguat. Aset seperti emas saat ini terus mendekati level 3.400 dollar AS per troy ons. Adapun harga minyak Brent juga naik lebih dari 10 persen ke harga 75 dollar AS per barel, sejak eskalasi konflik terbaru di Timur Tengah.
Volatilitas di pasar itu, menurut Karinska, mendukung keputusan menahan suku bunga sebagai sikap hati-hati dari The Fed. Selain itu, keputusan itu juga dibuat di tengah risiko stagflasi atau periode inflasi yang diikuti dengan penurunan produk domestik bruto (PDB) di AS.
Sementara itu, di dalam negeri, ia membaca, likuiditas terus bertambah melalui produk investasi yang diterbitkan BI dan pemerintah, yakni instrumen SRBI, SVBI, SUVBI, dan pembelian SBN. Di sisi lain, pertumbuhan kredit melambat ke 8,43 persen dan Dana Pihak Ketiga (DPK) melambat 4,29 persen.
”Ini menunjukkan permintaan domestik yang masih lemah. Menurut kami, keputusan BI ini cukup seimbang. Menjaga stabilitas inflasi dan nilai tukar sambil tetap membuka ruang untuk pelonggaran jika dibutuhkan,” kata Karinska.
Penulis:
Erika KurniaEditor:
Agnes TheodoraPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .