Perang Iran-Israel: Saham Bank Tertekan, Saham Migas Naik Terbatas

Perang Iran-Israel memengaruhi perekonomian global, termasuk pasar saham dalam negeri. Seperti apa trennya dalam jangka pendek?

18 Jun 2025 12:48 WIB · Ekonomi & Bisnis

Oleh Erika Kurnia

JAKARTA, KOMPAS — Perang Iran-Israel yang terus berlanjut memengaruhi sentimen investor di pasar saham dalam negeri pada sejumlah saham berkapitalisasi besar. Saham sektor perbankan diperkirakan masih akan mengalami tekanan jual. Sementara, harga saham perusahaan yang bergerak di industri minyak dan gas mengalami kenaikan dalam jangka pendek.

Pengamat Pasar Modal Panin Sekuritas, Reydi Octa, kepada Kompas, Rabu (18/6/2025), menyatakan, beberapa saham favorit asing dapat menjadi pemberat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Saham tersebut adalah yang memiliki kapitalisasi pasar besar.

”Contohnya adalah di sektor perbankan, seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI. Saham-saham ini biasanya harganya tertekan turun karena kekhawatiran terhadap pengaruh perekonomian ke depan dan akan berdampak langsung ke IHSG,” tuturnya.

Tensi geopolitik, menurut Reydi, cenderung membuat investor global menghindari sektor perbankan karena risiko kredit meningkat saat ekonomi memiliki tingkat ketidakpastian yang tinggi. Selain itu, ada potensi suku bunga ditahan dalam level tinggi untuk jangka yang lebih lama, mengantisipasi inflasi karena volatilitas harga komodita yang berpotensi terjadi akibat gangguan rantai pasok dan permintaan global.

Saham perbankan, seperti BBCA (PT Bank Central Asia Tbk), hari ini dibuka di harga Rp 8.950 dan telah turun 0,28 persen dalam lima hari terakhir. Sementara itu, saham bank-bank BUMN tertekan.

Harga saham BBRI (PT Bank Rakyat Indonesia Persero Tbk) pada perdagangan hari ini dibuka Rp 3.950 per saham atau melemah 3 persen dalam lima hari terakhir. Saham BMRI (PT Bank Mandiri Persero Tbk) sudah turun 3,35 persen ke level sekitar Rp 5.000 sejak Kamis (12/6/2025).

Perahu  motor  anggota Garda Revolusi Iran berpatroli di sekitar tanker berbendera Inggris, Stena Impero, saat tanker itu bersauh di Pelabuhan Bandar Abbas, Iran, dalam foto yang diambil Minggu (21/7/2019). Iran memperingatkan, nasib tanker berawak  23 orang yang ditahan  di Selat Hormuz pada Jumat lalu itu tergantung dari hasil investigasi.  Adapun Inggris menegaskan, pihaknya tengah mempertimbangkan beberapa opsi respons terhadap Teheran.

Reydi mencatat, saham yang banyak dimiliki investor asing lainnya dan mungkin jadi pemberat IHSG di saat tensi geopolitik memuncak adalah saham PT Telkom Persero Tbk (TLKM) atau PT Astra International Tbk (ASII). Saham favorit itu cenderung dilepas investor asing untuk mengurangi porsi risiko investasi dari negara berkembang dengan memilih instrumen investasi yang memiliki tingkat risiko lebih rendah.

Konflik di Timur Tengah terakhir yang memicu kenaikan harga minyak dunia adalah adanya ancaman pemblokiran distribusi minyak dari Iran sebagai produsen besar minyak sekaligus penguasa jalur distribusi logistik strategis di Selat Hormuz. Situasi itu membuat harga saham terkait di dalam negeri diminati investor.

Quote

Investor menangkap potensi kenaikan margin yang tinggi dengan kenaikan harga minyak pada perusahaan minyak dan gas.

Reydi menjelaskan, investor menangkap potensi kenaikan margin yang tinggi dengan kenaikan harga minyak pada perusahaan minyak dan gas. Di antaranya adalah Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dan PT Surya Esa Perkasa Tbk (ESSA). Saham tersebut dalam lima hari terakhir mencatatkan kenaikan harga, masing-masing 9,81 persen dan 3,36 persen.

”Tetapi, patut dicermati bahwa kemungkinan berlangsungnya untuk short term momentum karena sentimennya terlalu cepat berubah hingga volatilitasnya harus diwaspadai,” kaya Reydi.

Suasana kegiatan operasi minyak dan gas bumi di salah satu rig (menara pengeboran) di Ladang Karim, Nimr, Oman, yang dioperatori PT Medco Energi Internasional, melalui anak perusahaannya, PT Medco Oman, pada Jumat (20/12/2013).

Analis Pasar Modal Stocknow.id, Hendra Wardana, secara terpisah menjelaskan, reli pada harga saham migas dipicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak yang 20 persen pasokannya disalurkan melalui perairan Iran setiap hari. Namun, ia mencatat lonjakan harga saham sektor tersebut belakangan ini mulai kehilangan tenaga.

”Pasar terlihat mulai melakukan penyesuaian setelah penguatan cepat dalam waktu singkat. Secara teknikal, mayoritas saham sektor minyak telah memasuki area jenuh beli atau overbought berdasarkan indikator RSI dan MACD, yang membuatnya rentan terhadap aksi ambil untung dalam jangka pendek,” tuturnya.

Quote

Secara teknikal, mayoritas saham sektor minyak telah memasuki area jenuh beli atau ’overbought’ berdasarkan indikator RSI dan MACD, yang membuatnya rentan terhadap aksi ambil untung dalam jangka pendek.

Hendra menyontohkan, saham MEDC sempat melonjak ke Rp 1.540 pada Senin (16/6/2025), tetapi kemudian ditutup melemah di Rp 1.425 setelah naik tipis 1,79 persen. Dinamika ini menandakan adanya distribusi harga di area atas. Hal serupa terjadi pada saham PT Elnusa Tbk (ELSA) yang sempat menyentuh Rp 550, tetapi akhirnya ditutup stagnan di Rp 510.

Meski terdapat tekanan teknikal, ia berpendapat, sektor energi secara fundamental masih memiliki ruang pertumbuhan selama harga minyak dunia bertahan di atas 80 dollar AS per barel atau bahkan menembus level psikologis 90–100 dollar AS per barel.

Saat ini, Indeks WTI mencatat harga minyak mentah sudah di harga 75 dollar AS per barel. Harga minyak mentah Brent senilai 76 dollar AS per barel.

Grafik harga minyak Brent sepanjang 2025 hingga 18 Juni 2025.

Selain karena kenaikan harga, saham-saham migas cenderung mendapat angin segar dari sisi valuasi dan prospek kinerja keuangan jika konflik Timur Tengah makin meluas. Ini juga bisa terjadi jika diikuti oleh pengetatan pasokan dari OPEC+, termasuk Arab Saudi dan Rusia yang dikenal agresif mengendalikan pasar sehingga harga energi berpeluang kembali menguat.

Selain itu, faktor eksternal lain, seperti penurunan cadangan minyak AS, depresiasi dolar AS, dan membaiknya prospek permintaan dari China—sebagai konsumen energi terbesar dunia—dapat memperkuat narasi bullish bagi saham-saham minyak.

”Namun perlu diingat, volatilitas tinggi juga menuntut manajemen risiko yang lebih disiplin. Investor disarankan untuk tidak sekadar mengikuti euforia, tetapi memahami dinamika pasar dengan strategi yang adaptif—menjual saat harga melonjak terlalu cepat, dan membeli saat ketakutan menciptakan diskon menarik. Itulah seni bertahan dan tumbuh di pasar yang penuh dinamika seperti saat ini,” kata Hendra.

Pindah ke aset aman

Analis dari Mirae Asset Sekuritas, Karinska Salsabila Priyatno, dalam laporannya hari ini, menganalisis, investor sedang bergerak ke aset investasi yang lebih aman karena ketegangan geopolitik yang makin memanas. Apalagi setelah Presiden AS keluar lebih awal dari KTT G7, dengan alasan situasi Timur Tengah, serta G7 yang menyatakan dukungan penuh ke Israel dan mengecam Iran sebagai sumber ketidakstabilan.

”Menurut kami, kondisi ini meningkatkan risiko geopolitik global dan mendorong aksi flight to safety, yaitu investor pindah ke aset aman seperti emas yang sudah naik 30 persen sejak awal tahun dan obligasi AS. Tekanan pada aset negara berkembang, termasuk SBN, juga bisa meningkat jika konflik meluas atau infrastruktur minyak diserang,” jelasnya.

Lelang SBN 17 Juni mencerminkan posisi investor yang mulai condong ke tenor menengah, dengan total bid mencapai Rp 81 triliun, jauh di atas target. Surat berharga negara atau SBN, seperti seri FR0103 dan FR0104, paling diburu, sementara tenor panjang masih sepi peminat karena investor tetap hati-hati terhadap risiko jangka panjang dan potensi kelonjakan imbal hasil.


Kerabat Kerja

Penulis:

Erika Kurnia
 | 

Editor:

FX Laksana Agung Saputra
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari