Di tengah kondisi pasar saham yang lesu belakangan ini, bagaimana nasib warga yang berinvestasi dan menabung di pasar saham?
24 Mar 2025 09:00 WIB · Ekonomi
Pada 18 Maret 2025 pagi, Indeks Harga Saham Gabungan ”kebakaran”. Perdagangan di bursa saham pagi itu sempat merosot hingga 6,12 persen ke level 6.076 pada akhir sesi pertama.
Kejadian itu memicu Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan trading halt atau membekukan perdagangan saham pada pukul 11.19 waktu Jakarta Automated Trading System setelah IHSG turun 5 persen.
Trading halt biasanya dilakukan saat IHSG turun tajam dalam waktu singkat. Langkah itu diharapkan mampu mencegah aksi jual besar-besaran yang bisa semakin memperburuk kondisi pasar. Terakhir kali trading halt dilakukan adalah tahun 2020 di tengah Covid-19.
Saat ini, meski sudah tidak seburuk kondisi pada 18 Maret 2025, secara keseluruhan IHSG tetap mengalami tren penurunan dan masih ”memerah”.
Sepekan terakhir, IHSG mengalami penurunan 3,95 persen. Posisi per Jumat (21/3/2025), IHSG terkoreksi 1,94 persen secara harian ke level 6.258,17. Pelemahan IHSG itu masih dipicu oleh dana asing yang keluar cukup deras dari pasar saham domestik.
Lantas, di tengah kondisi pasar saham yang lesu belakangan ini, bagaimana nasib para investor ritel atau warga yang berinvestasi dan menabung di pasar saham?
Saat terjadi trading halt pada 18 Maret 2025 lalu, Sem (28), misalnya, memilih menahan seluruh sahamnya. Sebagai investor yang memegang saham blue chip, ia menilai penurunan saham yang terjadi terlalu signifikan.
”Kalau masih ada dana dalam rekening dana nasabah (RDN), belum saya investasikan. Enggak berani masuk (ke pasar saham), masih wait and see. Pantau terus saja sahamnya karena trennya turun terus. Jadi, dananya, ya, menganggur saja,” ujar karyawan swasta itu di Jakarta, Sabtu (22/3/2025).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/23/72221ce7370566ff5d7abff78ac3fbfe-WhatsApp_Image_2025_03_23_at_11.03.37.jpeg)
Guna menyiasati nilai saham yang cenderung terus menyusut, Sem pun perlahan mulai mengalihkan sebagian dananya ke instrumen lain seperti investasi emas dan deposito.
Sem menilai, di tengah kondisi pasar saham yang lesu, emas lebih aman karena tidak terlalu terpengaruh oleh inflasi. Deposito juga dinilai masih lebih menguntungkan dan aman untuk saat ini.
Ia berharap pemerintah ke depan bisa membuat kebijakan yang lebih stabil dan berkelanjutan agar investor mau menanamkan modal di Indonesia.
”Tiap ganti presiden, kebijakannya berbeda. Itu membuat investor takut. Buatlah kebijakan yang bisa bikin masyarakat percaya lagi ke pemerintah, termasuk menindak tegas koruptor,” tutur Sem.
Sebagian warga kelas menengah yang menyimpan investasi dan tabungannya di pasar saham pun sontak mengalami kerugian sementara saat IHSG anjlok drastis pada pekan lalu.
Nico Himawan (28), pekerja swasta di Pekalongan, Jawa Tengah, misalnya, mengalami floating loss (kerugian sementara) di portofolio sahamnya. Namun, kendati anjlok, ia memilih tetap mempertahankan sahamnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/23/2a894fbeb74aec25057d75b2b555c8e5-WhatsApp_Image_2025_03_22_at_15.46.42_e464b199.jpg)
Saat itu, ia berpikir, dampak kenaikan dollar AS semestinya bisa memperkuat profit saham emiten dalam portofolionya. ”Terbukti, setelah trading halt, emiten yang saya pilih rebound dengan baik sehingga penurunan yang terjadi masih bisa saya maklumi atau sesuai perkiraan saya,” katanya.
Meski demikian, ia mengaku cukup khawatir dengan tren penurunan IHSG yang masih saja terjadi beberapa waktu terakhir ini. ”Kondisi akhir-akhir ini sangat berdampak terhadap pengelolaan portofolio saham saya. Saya bahkan sudah sempat menjual rugi saham bank-bank milik negara yang saya beli,” kata Nico.
Hal itu ia lakukan sekitar satu bulan yang lalu atau bertepatan dengan kabar pemerintah membentuk Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara). ”Saya mengalihkan pilihan emiten saya ke swasta dan ke sektor lain dengan mengurangi porsi saham bank-bank milik negara,” ucapnya.
Ke depan, jika tren pelemahan IHSG terus berlanjut, Nico berencana mengamankan dananya dalam bentuk tunai dahulu sembari menunggu kondisi lebih stabil. ”Bagitu investor asing mulai masuk lagi, saya baru akan membeli saham lagi,” katanya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/23/428afff5040762d50b63b3a01c0f271d-WhatsApp_Image_2025_03_23_at_13.12.51_40b31d69.jpg)
Melihat tren IHSG yang sekarang menurun, Dhini Puspitasari (34) juga memilih menunggu sampai situasi pasar kembali stabil. Saat IHSG anjlok sampai trading halt pada 18 Maret 2025 lalu pun, Dhini memilih tidak menjual sahamnya.
”Saya tetap hold karena tujuan saya beli saham untuk investasi jangka panjang. Kecuali niat trading, mungkin sudah berani cut loss,” katanya.
Untuk sekarang ini, ia memilih lebih wait and see dan belum akan menanamkan dana tunainya di instrumen investasi lain. ”Saya enggak ke SBN (Surat Berharga Negara) karena takut ’enggak dibayar’. Mau ke emas juga sudah tinggi (harganya),” ucap karyawan swasta asal Bekasi, Jawa Barat, itu.
Kalau tren pelemahan IHSG terus berlanjut, Dhini akan tetap mendiamkan portofolionya yang ”memerah” sambil berharap suatu waktu akan ”hijau kembali”.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/23/5731f972e6c6158c7767b3469401fab4-IMG_20250323_WA0003.jpg)
Ke depan, ia berharap pemerintah membuat kebijakan yang berpihak ke semua sektor demi menjaga stabilitas ekonomi. ”Sebab, mau bagaimanapun, kalau pasar saham atau IHSG enggak baik, kondisi ekonomi juga akan ikut terdampak,” kata Dhini.
Serupa, Yuliana Jemie, pebisnis UMKM asal Pontianak, Kalimantan Barat, juga tidak reaktif saat IHSG sempat ”membara” pada pekan lalu. Bagi Jemie, investasi di saham itu untuk tujuan jangka panjang.
Oleh karena itu, saat IHSG anjlok, ia tidak menjual saham atau melakukan cut loss. Namun, ia tetap menambah sedikit demi sedikit investasi sahamnya (dollar cost averaging) demi tetap mendapatkan nilai rata-rata rendah.
”Tren IHSG yang menurun tentu berdampak pada portofolio saya, sehingga saya juga diversifikasi aset di tempat lain. Namun, saya belum menjual saham yang fundamentalnya jelek,” ujar Jemie.
Penulis:
Hendriyo Widi, Yosepha Debrina Ratih Pusparisa, Aguido Adri, Agnes TheodoraEditor:
Agnes Theodora