IHSG Turun 2 Persen sejak Awal Januari 2025

Investor asing diharapkan kembali masuk dengan ramainya aksi penghimpunan dana korporasi Indonesia.

13 Jan 2025 17:44 WIB · Ekonomi

Oleh Erika Kurnia

JAKARTA, KOMPAS — Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan menurun signifikan dalam hampir dua pekan pertama di Januari 2025. Namun, analis menilai penurunan ini tidak akan bertahan lama karena sejumlah sentimen di pasar modal akan membuat investor asing kembali masuk.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yang pada hari perdagangan pertama di 2025 ada di posisi 7.164, pada Senin (13/1/2025), ditutup di level 7.016. Penurunan hingga 2 persen terjadi karena masih ramainya modal asing yang keluar dari pasar reguler dengan nilai bersih lebih dari Rp 1 triliun.

Analis Pasar Modal Stocknow.id, Hendra Wardana, membaca, pelemahan ini terjadi di tengah minimnya sentimen positif yang mampu menopang pasar. Kebijakan moneter Bank Sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), yang mengindikasikan suku bunga tidak akan diturunkan bulan ini, menjadi faktor eksternal utama yang memengaruhi pergerakan IHSG.

”Sentimen dari kebijakan The Fed yang mempertahankan suku bunga tinggi serta kurangnya katalis positif dari dalam negeri, seperti pembatalan PPN 12 persen yang belum cukup untuk mendorong pasar, akan membuat pergerakan IHSG cenderung terbatas,” ungkapnya.

Namun, adanya potensi pemulihan ekonomi global dan stabilitas inflasi di dalam negeri dapat memberikan sedikit dorongan positif bagi pasar. Selain itu, Hendra juga menyoroti ramainya aksi penerbitan saham perdana (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Hari ini, tiga emiten melantai di BEI, yaitu PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (kode emiten CBDK), PT Delta Giri Wacana Tbk (DGWG), dan PT Brigit Biofarmaka Teknologi Tbk (OBAT). Hendra mengatakan, tiga perusahaan yang membuat total emiten di bursa mencapai 951 perusahaan itu memiliki prospek kinerja yang menarik.

”Sentimen positif yang dapat mendorong kinerja ketiga emiten ini meliputi pemulihan ekonomi, peningkatan kesadaran akan kesehatan, serta dukungan pemerintah untuk sektor-sektor terkait,” ujarnya.

PT Bangun Kosambi Sukses Tbk resmi tercatat dengan kode CBDK di Bursa Efek Indonesia dengan melepas 566 juta lembar saham ke publik, dalam acara di Jakarta, Senin (13/1/2025).

Tiga emiten itu menjadi bagian delapan emiten baru dari beragam sektor yang bergabung di pasar modal sejak awal tahun, dengan total dana yang dihimpun mencapai Rp 3,6 triliun.

Pekan sebelumnya, IPO dilakukan emiten PT Asuransi Digital Bersama Tbk (YOII), PT Kentanix Supra International Tbk (KSIX), dan PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU). Kemudian, PT Raja Roti Cemerlang Tbk (BRRC) dan PT Hero Global Investment Tbk (HGII).

Selain itu, ada juga penerbitan tiga obligasi, dua sukuk, dan satu waran dalam periode yang sama dengan dana yang dihimpun sebesar Rp 7 triliun.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, David Kurniawan, dalam laporannya, menyebutkan, pekan ini akan ada sentimen positif yang datang dari investor asing. Penjualan efek oleh investor asing di minggu kedua awal tahun 2025 disebut mulai melandai. Ini sejalan dengan data musiman 10 tahun terakhir di mana IHSG cenderung bergerak positif di bulan Januari.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Inarno Djajadi (keempat kiri) bersama Direktur Utama BEI Iman Rachman (ketiga kanan), Direktur Utama KSEI Samsul Hidayat (kiri) bersama, Dirut KPEI Iding Pardi (kanan), serta Anggota Dewan Komisioner OJK menutup peradangan Bursa Efek Indonesia 2024 di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (30/12/2024). Bursa Efek Indonesia 2024 resmi ditutup pada Senin (30/12/2024) dengan IHSG menguat 43,33 poin atau 0,62 persen ke posisi 7.079,90. Sementara itu, saham unggulan kelompok 45 atau indeks LQ45 naik 1,52 poin yaitu 0,18 persen ke posisi 826,62. Total investor pasar modal Indonesia mencapai sebanyak 14,84 juta Single Investor Identification (SID) per 27 Desember 2024. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan akhir tahun 2023 dengan jumlah sebanyak 12,16 juta SID. Dari total 14,84 juta investor, sebanyak 99,73 persen merupakan investor lokal dan sebesar 0,27 persen merupakan investor asing yang sebagian besar merupakan investor institusi. KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK) 30-12-2024

Investor asing dinilai akan kembali masuk menyambut jadwal pembagian dividen emiten perbankan yang menggiurkan. Pada 2024, saham-saham perbankan yang membagikan dividen senilai Rp 60,53 triliun kepada investor, yang naik 19,69 persen dari Rp 50,57 triliun di 2023.

”Dividen bank besar yang biasanya akan dibagikan di bulan Maret saat ini memberikan yield (imbal hasil) sangat menarik. Tentu ini akan menarik investor asing untuk masuk kembali ke IHSG,” ucap David.

Di sisi lain, David mengingatkan potensi kehati-hatian investor asing dalam menghadapi pertemuan rutin Federal Open Market Committee (FOMC). Pertemuan itu akan membahas berbagai indikator ekonomi, termasuk tingkat inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan data ketenagakerjaan untuk menentukan kebijakan moneter.

”Hasil dari pertemuan ini akan memengaruhi pergerakan pasar keuangan, nilai tukar dollar, dan strategi investasi di berbagai sektor ekonomi,” tutur David.


Kerabat Kerja

Penulis:

Erika Kurnia
 | 

Editor:

Aris Prasetyo