Upaya nelayan Sri Lanka yang mencoba mengendalikan penyebaran ikan gabus.
13 Nov 2025 14:45 WIB · Internasional
AP/Eranga Jayawardena
Pagi itu, seperti biasanya Ilshan Madhuthisara dan Ranjith Kumara bergebas mendayung perahu mereka, menuju tengah Waduk Deduru Oya, di Desa Walpaluwa, Sri Lanka, Rabu (29/10/2025). Ilshan mencoba tempat baru yang belom pernah ia datangi sebelumnya. Tempat itu tidak seberapa dalam. Rumput dan tanaman air lainnya terlihat tumbuh di bagian waduk tersebut.
Menurut pengalamannya, ikan senang berada di tempat seperti itu karena banyak makanan. Berdua mereka segera menyiapkan kail, memberi umpan diujung, dan segera turun ke dasar danau yang hanya setinggi dengkulnya. Tak menunggu lama, kail Ilshan menegang pertanda umpannya disambar ikan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/13/e0891a5f-f8b4-46ea-a770-c0f2d5ec7b7c_jpg.jpg)
Ranjith segera meletakkan joran pancingnya dan berganti memegang jaring ikan. Saat ikan yang tersangkut kail mendekat, ia segera mengambilnya dengan jaring. Sebuah ikan gabus yang dikenal dengan nama ikan kepala ular raksasa seukuran lengannya berhasil mereka dapatkan. Setelah itu mereka berdua bergantian mendapatkan ikan yang sama.
Dalam dua tahun terakhir, ikan gabus yang dikenal dengan nama ilmiah Channa striata menjadi ancaman bagi spesies ikan lokal dan kerang yang sebelumnya menghuni waduk Eduru Oya. Kini, penduduk semakin jarang mendapatkan ikan spesies asli, sebagai gantinya mereka mendapatkan dengan mudah ikan invasif gabus. Ikan yang sebelumnya bahkan belum pernah mereka lihat.
Ikan gabus, yang banyak dijumpai di negara-negara seperti Thailand dan Indonesia, diperkirakan tiba di Sri Lanka bersama ikan hias impor. Ketika ikan-ikan tersebut mulai tumbuh dan berkembang biak dengan pesat di akuarium, kemungkinan besar pemiliknya melepaskannya ke waduk. Bagi ikan gabus, waduk itu menjadi tempat tinggal dan berkembang biak yang ideal karena banyak makanan dan minim predator.
Jenis ikan ini sering muncul ke permukaan untuk menghirup oksigen. Ia juga mampu bertahan hidup hanya dengan air yang sangat sedikit. Mereka memiliki gigi yang tajam, rahang yang kuat, dan pemakan yang agresif. Peningkatan kehadiran mereka dapat merusak ekosistem lokal yang telah berevolusi selama ribuan tahun.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/13/41bc150f-4b32-4bdf-b347-21cf5bf6c674_jpg.jpg)
Mereka juga tumbuh lebih cepat dan lebih besar dibandingkan spesies ikan air tawar tradisional. Nishantha Sujeewa Kumara, seorang nelayan yang tinggal di pinggir waduk mengatakan ia pernah menangkap ikan seberat 7 kilogram, sementara spesies asli yang biasa ia tangkap kebanyakan beratnya kurang dari satu kilogram.
Untuk mengatasi masalah ini, pihak berwenang menyelenggarakan kompetisi pemancing untuk mencoba mengendalikan populasi ikan gabus, tetapi tidak berhasil. Tak mau menyerah, para nelayan segera beralih memanfaatkan jenis ikan yang melimpah dan gampang didapat ini.
Sujeewa dan penduduk desa lainnya memanfaatkan ikan gabus menjadi ikan asin. Sebagian mengolah daging ikan menjadi makanan dengan digoreng maupun diasap. Namun permintaan ikan gabus dalam bentuk kering lebih tinggi dan harganya lebih menguntungkan.
Kini Sujeewa berupaya mengembangkan bisnis ini lebih lanjut. Dalam pikirannya seiring dengan meningkatnya permintaan, maka akan banyak ikan gabus yang ditangkap untuk produksi. Harapannya, selain mendapatkan manfaat ekonomi, ini juga akan membantu mengendalikan penyebaran dan populasi ikan kepala ular raksasa ini. (AP)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Heru Sri KumoroPenyelaras Bahasa:
Nur Adji