Jalur Padang-Gunungsitoli menjadi opsi paling optimal saat ini untuk jaga ketersediaan stok barang. Pengiriman logistik diarahkan melalui Pelabuhan Bungus, Padang.
04 Des 2025 16:13 WIB · Politik & Hukum
Kompas/Willy Medi Christian Nababan
GUNUNGSITOLI, KOMPAS — Bencana hidrometeorologi yang melanda wilayah Sumatera bagian utara berdampak berantai hingga ke Kepulauan Nias, Sumatera Utara. Selain memicu tanah longsor di sejumlah titik lokal, bencana di daratan Sumatera turut memutus rantai pasok logistik utama, memaksa pemerintah daerah merekayasa jalur distribusi guna mencegah krisis pangan dan energi meluas.
Wali Kota Gunungsitoli Sowa’a Laoli mengungkapkan, pasokan kebutuhan pokok ke Nias sempat terhambat signifikan. Hal ini dipicu banjir dan longsor yang melumpuhkan akses jalan nasional di Tapanuli Tengah dan Sibolga. Padahal, jalur Sibolga merupakan pintu gerbang utama pengiriman barang ke kepulauan tersebut.
”Sibolga ini masih tertahan di jalur darat. Ada kabar (jalan) bisa tembus, tapi kendaraan yang lewat hanya yang bermuatan kecil di bawah lima ton, jadi belum optimal,” ujar Sowa’a saat distribusi bahan bantuan dari KRI Semarang-594 di Pelabuhan Gunungsitoli, Kamis (4/12/2025).
Untuk menyiasati isolasi logistik tersebut, arus pengiriman barang kini dialihkan total melalui jalur laut dari Sumatera Barat. Sowa’a menegaskan, jalur Padang-Gunungsitoli menjadi opsi paling optimal saat ini untuk menjaga ketersediaan stok barang. Pemerintah daerah pun mendorong para pengusaha mengarahkan pengiriman logistik melalui Pelabuhan Bungus, Padang.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/04/ecaa245b308c43706f725978004cc53f-IMG_20251204_15131421.jpeg)
Strategi pengalihan jalur ini mulai berdampak positif. Pasokan energi yang menipis kini berangsur pulih. ”Kemarin kita sudah kedatangan 96 metrik ton elpiji 3 kilogram. Suplai BBM untuk pembangkit listrik PLN juga sudah masuk 250 kiloliter,” kata Sowa’a.
Dengan masuknya pasokan BBM jenis B0 tersebut, intensitas pemadaman listrik di Nias dilaporkan mulai berkurang. Selain energi, pasokan kebutuhan pokok lain juga terus berdatangan melalui kapal-kapal kargo dari Padang.
Sibolga ini masih tertahan di jalur darat. Ada kabar (jalan) bisa tembus, tapi kendaraan yang lewat hanya yang bermuatan kecil di bawah lima ton, jadi belum optimal.
Di sisi lain, tantangan berat masih dihadapi sejumlah warga tingkat lokal akibat kerusakan infrastruktur. Curah hujan tinggi memicu tanah longsor yang memutus akses jalan utama menuju desa-desa di pedalaman.
Kondisi tersebut diungkapkan Komandan Lanal Nias Kolonel Lexy Effraim Dumais. Ia bersama dengan Bupati Nias Selatan Sokhiatulo Laia mengunjungi desa terisolasi menggunakan helikopter TNI AL yang menyisir kawasan Nias Selatan, Kamis pagi. Kerusakan parah terlihat jelas di Desa Maze, Kecamatan Idanotae.
”Di sana terdapat akses jalan yang terputus dan kami mendokumentasikan beberapa titik tanah longsor dari gunung di sebelah selatan Desa Maze,” ujarnya.
Berdasarkan data yang dihimpun Lantamal Nias dan pemerintah daerah setempat, setidaknya terdapat 15 desa yang terdampak bencana dengan tingkat isolasi bervariasi. Prioritas penanganan saat ini difokuskan pada pembukaan akses jalan yang tertimbun material longsor agar bantuan bisa masuk.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/12/04/3718f63d-9141-4f29-94b0-43447e98e577.jpg)
Dampak terputusnya jalur logistik darat di Sibolga dirasakan nyata oleh warga. Forti Perdana Putra Zega (30), warga Labuhan Angin, Gunungsitoli, menuturkan, harga kebutuhan pokok melonjak drastis dalam beberapa hari terakhir akibat pasokan dari seberang pulau terhenti.
”Harga cabai yang normalnya Rp 80.000, sekarang tembus Rp 200.000 per kilogram. Naik lebih dari dua kali lipat,” kata Forti.
Kelangkaan juga terjadi pada komoditas beras. Menurut Forti, harga beras di tingkat pengecer naik dari Rp 20.000 menjadi Rp 30.000 per liter. Warga terpaksa melakukan penghematan ketat karena stok di pasaran semakin menipis.
”Stok beras sisa sebelum bencana diirit-iritin. Kami bertahan dengan apa yang ada karena pasokan sempat tidak ada lagi,” tutur Forti.
Tak hanya pangan, Forti juga mengeluhkan sulitnya komunikasi akibat jaringan telekomunikasi yang sering terganggu pascabencana, serta antrean panjang BBM yang sempat terjadi di SPBU sebelum pasokan bantuan masuk.
Penulis:
Willy Medi Christian NababanEditor:
Cyprianus Anto SaptowalyonoPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari