Kekerasan aparat saat razia di kantong imigran memakan korban. Insiden ini memicu protes keras.
08 Jan 2026 14:32 WIB · Internasional
AFP/Getty Images/Scott Olson
MINNEAPOLIS, RABU — Petugas Penindakan Imigrasi dan Bea Cukai Amerika Serikat (ICE) menembak mati seorang perempuan warga negara AS dalam operasi di Minneapolis, Negara Bagian Minnesota. Insiden itu memicu protes keras dari warga dan pemimpin setempat.
Kantor berita AFP, Kamis (8/1/2025), melaporkan, perempuan itu bernama Renee Nicole Macklin Good (37). Ia ditembak dari jarak dekat saat ia tampaknya mencoba menyelamatkan diri dari agen ICE yang mengerumuni mobilnya. Menurut petugas, mobil itu menghalangi jalan mereka.
Rekaman kejadian menunjukkan seorang agen ICE dengan masker menembak tiga kali ke arah mobil yang ditumpangi Good. Mobil yang melaju di jalanan bersalju itu lantas melaju tak terkendali serta menabrak hidran dan kendaraan yang terparkir. Para saksi mata yang ketakutan pun meneriaki para petugas ICE.
Wali Kota Minneapolis Jacob Frey mengecam keras tindakan aparat ICE dan menyebutnya melanggar hukum. ”Omong kosong kalau mereka bilang itu tindakan pembelaan diri oleh aparat,” kata Frey. Ia mendesak ICE segera meninggalkan kota itu.
Pemerintah AS dengan cepat membela tindakan agen ICE dan menyebutnya pembelaan diri. Mereka mengklaim Good mencoba membunuh para agen.
Menteri Keamanan Dalam Negeri Kristy Noem mengatakan, perbuatan yang dilakukan Good adalah terorisme domestik. Ia mengatakan, Good telah menguntit dan menghalangi pekerjaan ICE sepanjang hari.
”Dia lalu menggunakan mobilnya untuk menyerang dengan melindas aparat,” kata Noem dalam jumpa pers.
Menurut Noem, kendaraan Good menabrak aparat. Namun, dalam video yang beredar tidak terlihat mobil itu menabrak aparat seperti dituduhkan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/08/7cfb896ebce16187cd7bcd5b451e64f1-APTOPIX_Immigration_Enforcement_Minnesota.jpg)
Insiden itu terjadi di tengah protes atas razia imigrasi di Minneapolis, Minnesota. Di sana terdapat komunitas migran asal Somalia. Anggota Kongres dari Partai Republik, Ilhan Omar, yang keturunan Somalia juga berasal dari daerah pemilihan Minnesota.
Negara bagian ini merupakan basis Partai Demokrat yang menentang razia imigrasi dan penggerebekan yang kerap diwarnai kekerasan terhadap imigran. Kelompok-kelompok anti-Trump menggelar protes di berbagai kota di AS. Terlebih Trump dinilai sengaja mengincar kota-kota dan wilayah pendukung Demokrat.
Kepolisian Minnesota menegaskan, Good bukanlah sasaran operasi inti yang diadakan ICE. Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) menyebut, ini operasi dan razia terbesar yang dilakukan di Minnesota. Setidaknya 2.000 petugas federal diarahkan untuk menangkap penjahat dan anggota geng.
Operasi didasari dugaan adanya jaringan penipu yang melibatkan imigran Somalia. Noem mengatakan, DHS telah menahan sekitar 1.500 orang dalam serangkaian razia selama beberapa pekan terakhir.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/08/7fac86fe7f8840be59039ae0283c1b0a-Immigration_Enforcement_Minnesota.jpg)
Namun, Wali Kota Frey mengecam versi kejadian yang disampaikan Noem sebagai ”sampah”. Ia juga mengkritik pengerahan lebih dari 2.000 petugas federal ke Kota Kembar, yakni Minneapolis dan St Paul, sebagai bagian dari penegakan imigrasi.
”Yang mereka lakukan bukanlah untuk memberikan keamanan di Amerika. Yang mereka lakukan adalah menimbulkan kekacauan dan ketidakpercayaan,” kata Frey.
”Mereka memisahkan keluarga. Mereka menabur kekacauan di jalanan kita, dan dalam kasus ini, benar-benar membunuh orang.”
Gubernur Negara Bagian Minnesota Tim Walz, pesaing Trump dalam pemilihan presiden 2024, menentang keras keterangan pemerintah federal soal tewasnya Renee Good. Dia juga menyatakan akan menyiapkan Garda Nasional untuk menjaga keamanan.
”Kita sudah melihat seperti apa pemerintahan yang menjalankan agenda ketakutan dan konflik. Kecerobohan itu mengakibatkan seseorang tewas hari ini,” kata Walz.
Agen federal ICE telah berada di garis depan upaya deportasi imigran yang dicanangkan pemerintahan Trump, terlepas dari keberatan para pejabat setempat.
DHS meluncurkan kampanye perekrutan agresif musim panas tahun 2025 untuk menambah 10.000 agen ICE. Saat ini jumlah aparat ICE sekitar 6.000 orang.
Hal itu memicu kritik bahwa petugas baru di lapangan kurang terlatih.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/08/3d406f7a0af42cf7ea88142a0dc9e63b-Protesters_Gather_Outside_ICE_Headquarters_In_Washington_After_Woman_Shot_Dead_By_Agents_In_Minneapolis.jpg)
Sejumlah besar demonstran berkumpul di lokasi kejadian setelah penembakan. Mereka memberikan penghormatan terakhir kepada Good sekaligus melampiaskan kemarahan kepada petugas lokal dan federal yang berada di sana.
”Dia (Good) menyetir kendaraan untuk menjauhi mereka (agen ICE) lalu mereka membunuh dia,” kata Lynette Reini-Grandell, warga setempat, yang turut merekam penembakan tersebut.
Di akun media sosialnya, Good menggambarkan dirinya sebagai ”penyair, penulis, istri, dan ibu”. Ia ibu tunggal yang memiliki tiga anak berusia 15 tahun, 12 tahun, dan 6 tahun. Mantan suaminya mengatakan, Good bukanlah seorang aktivis dan dia tidak pernah mengetahui istrinya berpartisipasi dalam protes apa pun.
Dalam rekaman video terlihat para pengunjuk rasa mencemooh aparat ICE sambil meneriakkan, ”ICE keluar dari Minnesota.” Mereka juga meniup peluit, suara yang kerap terdengar selama operasi ICE.
Sekolah-sekolah diliburkan pada Kamis dan Jumat karena muncul kekhawatiran soal keselamatan terkait dengan insiden penembakan itu.
”Banyak razia ICE, tetapi tidak yang seperti ini. Saya sangat marah dan merasa tidak berdaya,” kata Venus de Mars, warga yang tinggal dekat lokasi penembakan.
Muncul seruan di media sosial untuk menuntut petugas yang menembak Good. Komisaris Bob Jacobson dari Departemen Keamanan Publik Minnesota mengatakan, otoritas negara bagian akan menyelidiki penembakan tersebut bersama dengan otoritas federal.
”Ingatlah, ini penyelidikan yang masih dalam tahap awal. Jadi, spekulasi apa pun tentang apa yang telah terjadi hanyalah spekulasi,” kata Jacobson kepada wartawan. (REUTERS/AP/AFP)
Penulis:
Iwan SantosaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Nur Adji