Indonesia-Arab Saudi Buka Peluang Pengembangan Hulu Hilir Mineral

Indonesia dapat memanfaatkan peluang investasi dari Arab Saudi untuk pertambangan berkelanjutan.

18 Apr 2025 13:59 WIB · Ekonomi

Oleh Erika Kurnia

JAKARTA, KOMPAS - Pemerintah Indonesia dan Arab Saudi menyepakati kerja sama strategis di bidang pertambangan dan hilirisasi, terutama terkait komoditas mineral strategis. Pengamat berpendapat, kerja sama bilateral itu juga dapat dimanfaatkan Indonesia untuk menunjukkan kemampuan sumber daya manusia Indonesia selain potensi investasi besar dari negara pemilik cadangan minyak terbesar kedua di dunia itu.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dan Menteri Industri dan Sumber Daya Mineral Arab Saudi Bandar bin Ibrahim Al-Khorayef menandatangani Memorandum Saling Pengertian (MSP) di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, pada Kamis (17/4/2025). Kegiatan itu turut didampingi Wakil Menteri Urusan Pertambangan Arab Saudi, Khalid Al-Mudaifer.

Mengutip siaran pers, Jumat (18/4/2025), MSP yang ditandatangani mencakup ruang lingkup kerja sama eksplorasi dan pemanfaatan mineral, pengembangan industri, hingga penerapan teknologi modern dalam kegiatan pertambangan. Kesepakatan ini merupakan kelanjutan dari penandatanganan MSP di bidang energi pada 16 November 2022 di Bali, yang mulai berlaku sejak 16 Juni 2023.

Selain penandatanganan MSP, kedua menteri juga membahas arah kolaborasi jangka panjang di sektor pertambangan, khususnya pengelolaan mineral, yang tidak lepas dari dinamika geopolitik global. "Mineral menjadi salah satu kunci masa depan energi. Karena itu, kolaborasi semacam ini sangat krusial," ujarnya.

Quote

Mineral menjadi salah satu kunci masa depan energi. Karena itu, kolaborasi semacam ini sangat krusial.

Bahlil mengatakan, sejumlah komoditas utama menjadi prioritas kerja sama. Ini termasuk nikel, bauksit, timah, tembaga, emas, perak, dan besi. Kerja sama ini diharapkan dapat membuka jalan bagi peningkatan nilai tambah dan hilirisasi mineral nasional.

Indonesia, menurut dia, juga akan menerapkan pendekatan yang lebih fleksibel terhadap persyaratan kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Aturan TKDN yang lebih fleksibel dengan Arab Saudi diharapkan memperlancar investasi, sembari tetap memastikan adanya transfer teknologi dan pengembangan rantai pasok lokal secara bertahap.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia, Bahlil Lahadalia, dan Menteri Industri dan Sumber Daya Mineral Arab Saudi, Bandar bin Ibrahim Al-Khorayef menandatangani Memorandum Saling Pengertian (MSP) di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, pada Kamis (17/4/2025).

Pada hari yang sama, delegasi Arab Saudi juga bertemu dengan perwakilan pengusaha dari Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia. Ketua Umum Kadin, Anindya Bakrie, dalam rilisnya menyampaikan, industrialisasi sektor pertambangan menjadi wacana yang mencuat dalam kunjungan bilateral tersebut.

Delegasi Arab Saudi membuka peluang kolaborasi dalam proses produksi industri tambang untuk meningkatkan efisiensi dan membuka akses ke pasar Amerika dan Eropa. "Tadi kami bahas misalnya proses setengah jalan di Indonesia, setengah jalan di Saudi, sehingga bisa membuka pasar global," katanya.

Teknologi masa depan seperti kecerdasan buatan (AI), industri halal, keuangan digital, intellectual property di sektor gim juga masuk dalam pembahasan. Pentingnya kerja sama dalam pengembangan talenta dan peningkatan keterampilan tenaga kerja Indonesia di Arab Saudi juga disinggung. Jumlah tenaga kerja asal Indonesia di Arab Saudi diperkirakan mencapai 4-5 juta orang.

Foto bersama antara pihak Kamar Dagang dan Industri Indonesia dengan delegasi Arab Saudi di Jakarta, Kamis (17/4/2025).

Ekonomi pasca-minyak

Menteri Bandar menyampaikan, Arab Saudi mengangkat tiga prioritas utama dalam kerja sama ini. Pertama, peningkatan impor produk pertambangan untuk mendukung perdagangan dua arah.

Kedua, memperkuat rantai pasok industri mineral. Ketiga, menjalin kemitraan dalam perdagangan dan investasi, termasuk potensi kolaborasi antar BUMN kedua negara.

Ia berharap kerja sama ini juga mencakup pengembangan kapasitas sumber daya manusia, melalui berbagi pengalaman dan praktik terbaik di sektor pertambangan. Ini sejalan dengan Visi 2030 Arab Saudi yang menempatkan sektor pertambangan sebagai salah satu pilar utama diversifikasi ekonomi pasca-minyak.

Melalui Visi 2030, Arab Saudi berkomitmen mengembangkan industri pertambangan yang berkelanjutan dan berdaya saing global. Fokusnya adalah pemanfaatan potensi mineral seperti emas, fosfat, bauksit, dan logam tanah jarang. Strategi ini diharapkan dapat menciptakan lapangan kerja, menarik investasi asing, serta membangun rantai nilai domestik yang kuat.

cover tutur visual logam tanah jarang mineral

Pada Rabu (16/4/2025), Menteri Bandar menemui Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita. Kedua pihak menjajaki kerja sama di bidang petrokimia dan pengembangan kawasan industri.

Agus menyampaikan, Arab Saudi sedang mengembangkan kawasan industri. Adapun Indonesia bisa menjadi contoh dalam pembangunan industri di Arab Saudi.

Peneliti Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (PUSHEP), Akmaluddin Rachim, saat dihubungi Kompas, menilai, kerja sama tersebut menunjukkan upaya kuat dari Arab Saudi untuk menjadi salah satu pemain kunci dalam pengembangan industri mineral dan produksi kendaraan listrik.

"Arab Saudi punya fulus (uang) yang banyak, tetapi tidak memiliki sumber daya alam mineral seperti yang dimiliki Indonesia. Negara itu sedang gencar dalam membangun perekonomiannya dan belakangan ini mereka secara perlahan mulai meninggalkan minyak bumi," ujarnya.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI), Hendra Sinadia

Direktur Eksekutif Indonesia Mining Association (IMA) Hendra Sinadia, saat dihubungi terpisah menyampaikan, IMA bersama beberapa asosiasi lainnya seperti PERHAPI dan ASPINDO turut hadir dalam pertemuan terbatas dengan Menteri Industri dan Sumber Daya Mineral Arab Saudi, Kamis kemarin.

Mereka berharap, kerja sama bilateral ini bisa memberi peluang penambang Indonesia untuk berinvestasi di Arab Saudi untuk mengolah cadangan mineral di sana. Investasi di Arab Saudi dinilai menarik karena pemerintah setempat menawarkan rezim fiskal dengan tarif royalti yang relatif rendah, termasuk berbagai dukungan insentif lainnya  termasuk kepemilikan saham asing yang bisa 100 persen tanpa divestasi.

"Regulasi pemerintah Arab Saudi cukup atraktif untuk berinvestasi, apalagi didukung oleh infrastruktur yang bagus termasuk infrastruktur digital," tuturnya.

Dalam waktu dekat, asosiasi-asosiasi yang hadir di acara tersebut juga telah menyatakan minat untuk menggali peluang berinvestasi dengan ikut di acara Future Mineral Conference Januari 2026 di Riyadh.

Nilai tawar Indonesia

Sementara, Indonesia punya mineral kritis dan strategis yang menjadi salah satu bahan baku unggulan di masa depan. Sumber daya ini belakangan mulai gencar dicari berbagai negara, termasuk Arab Saudi.

Pemerintah Indonesia, Akmaludiin melanjutkan, perlu memaksimalkan kerja sama tersebut dalam menarik investasi padat modal dan alih teknologi. Langkah ini penting untuk eksplorasi hingga hilirisasi yang berkelanjutan dengan mempertimbangkan fenomena perubahan iklim dan hak asasi manusia.

Terkait harapan Saudi tentang pengembangan kapasitas sumber daya manusia melalui berbagi pengalaman dan praktik terbaik di sektor pertambangan, menurut Akmaludiin, menunjukkan kapasitas ahli-ahli pertambangan Indonesia yang banyak dilirik oleh negara luar.

Indonesia dapat mengirimkan sumber daya manusia (SDM) terbaiknya untuk berkarir di Arab Saudi dalam mengembangkan industri pertambangan di negara itu. "SDM Indonesia dalam kegiatan usaha pertambangan sangat bisa diandalkan baik dari aspek pekerja lapangan maupun para ahli yang mendukung tata kelola dan kebijakan yang akan digunakan nantinya," ujarnya.

Pekerja mengawasi proses penuangan material ke dalam alat penghancur setelah ditambang di Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Jumat (6/9/2024). Kawasan pegunungan Jayawijaya menyimpan keanekaragaman hayati serta kekayaan mineral tambang yang hingga saat ini masih dieksplorasi untuk perak, tembaga, dan emas. Kompas/P Raditya Mahendra Yasa 06-09-2024

Potensi lain yang bisa dioptimalkan oleh Indonesia di luar sektor pertambangan mineral, masih menurut Akmaludiin, adalah sumber daya alam minyak bumi Arab Saudi yang dapat dijual ke Indonesia dengan harga relatif lebih murah. Indonesia berkepentingan karena kebutuhan minyak untuk dalam negeri sangat tinggi. Sementara, pasokan dalam negeri tidak cukup sehingga impor menjadi andalannya.

Potensi lainnya yang dapat dioptimalkan adalah pengalaman dan praktik baik Arab Saudi dalam mengelola minyak bumi. Misalnya adalah metode meningkatkan produksi minyak, memanfaatkan sumur tua, penemuan sumber minyak baru, serta peningkatan kapasitas manusia di industri minyak bumi.

"Jadi, ada kerja sama atau pertukaran pemanfaatan sumber daya alam. Arab Saudi membutuhkan mineral kritis dan strategis Indonesia. Sementara Indonesia membutuhkan minyak bumi dari Saudi, yang notabenenya mereka perlahan mau meninggalkannya," katanya.

Sampai dengan 2024, total perdagangan nonmigas Indonesia dan Arab Saudi mencapai 3,3 miliar dollar AS. Tingkat pertumbuhannya sebesar 14,5 persen selama periode 2020-2024.

Ekspor Arab Saudi ke Indonesia mencapai sekitar 4 miliar dollar AS. Ekspor Indonesia ke Arab Saudi sekitar 3 miliar dollar AS. Ke depan, kedua negara menargetkan pengembangan nilai perdagangan menjadi 17-27 miliar dollar AS.

Penjajakan kerja sama diharapkan meningkatkan nilai investasi Arab Saudi ke Indonesia. Dalam periode 2019-2024, total realisasi investasi Arab Saudi di Indonesia mencapai 23,6 juta dollar AS. Ini meliputi 437 proyek.


Kerabat Kerja

Penulis:

Erika Kurnia
 | 

Editor:

FX Laksana Agung Saputra
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .