”Indonesia Cerah” dan Gencarnya Prabowo Temui Publik

Presiden Prabowo Subianto ditengarai gencar menemui berbagai pihak untuk memperbaiki kontroversi komunikasi publik pemerintah.

10 Apr 2025 11:06 WIB · Politik & Hukum

Oleh Kurnia Yunita Rahayu

Pekan libur Lebaran masih berlangsung, tetapi Presiden Prabowo Subianto sudah kembali bekerja. Selama tiga hari berturut-turut sejak 6 April 2025, Presiden menemui sejumlah pihak, mulai dari pemimpin redaksi media massa, petani, investor, hingga mantan presiden. Rangkaian aktivitas itu berbeda dengan pola kerja Presiden yang sebelumnya lebih banyak berada di Istana Kepresidenan Jakarta mengadakan rapat-rapat dengan para anggota kabinet.

Dalam pertemuan dengan para pemangku kepentingan, Presiden juga meluangkan waktu panjang untuk menjelaskan kebijakan pemerintah selama lima bulan terakhir. Saat diwawancara oleh para pemimpin redaksi media massa di kediamannya di Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Minggu (6/4/2025), Prabowo menjawab seluruh pertanyaan terkait kebijakan dan kontroversi yang menyertainya selama hampir empat jam.

Begitu pula saat hadir dalam ”Sarasehan Ekonomi Bersama Presiden” di Menara Mandiri, Jakarta, Selasa (8/4/2025) siang. Prabowo yang didampingi para menteri ekonomi Kabinet Merah Putih berdiskusi dengan para investor selama hampir lima jam.

Presiden Prabowo memberi kesempatan kepada tujuh pemimpin redaksi media massa nasional untuk mewawancarainya, Minggu (6/4/2025) di kediamannya, Padepokan Garudayaksa, Hambalang, Kabupaten Bogor, Minggu (7/4/2025). Dalam acara bertajuk Presiden Prabowo Menjawab itu, banyak persoalan disampaikan para wartawan.

Di diskusi-diskusi panjang itu, Prabowo juga kerap menyelipkan diksi ”cerah” atau pernyataan-pernyataan yang menegasikan narasi ”Indonesia Gelap”.

Adapun Indonesia gelap merupakan frasa yang mengemuka bersamaan dengan kritik masyarakat terhadap berbagai kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Frasa tersebut digunakan masyarakat sipil dan mahasiswa dalam berbagai demonstrasi, juga dalam narasi kritik terhadap pemerintah yang disebarkan di media sosial.

Diksi ”cerah” salah satunya disampaikan Prabowo dalam sarasehan ekonomi bersama para investor. Saat membahas situasi ekonomi, Prabowo mengatakan bahwa saat ini berita bohong atau hoaks mudah disebarkan. Kebohongan bisa dihadapi dengan cara membuka diri dan memberikan penjelasan berdasarkan fakta dan secara saintifik.

Suasana saat Presiden Prabowo Subianto  berpidato dalam Sarasehan Ekonomi Bersama Presiden Republik Indonesia di Plaza Mandiri, Jakarta, Selasa (8/4/2025). Dalam sarasehan ini mengangkat tema Memperkuat Daya Tahan Ekonomi Indonesia di Tengah Gelombang Perang Tarif Perdagangan. Dalam kesempatan ini Presiden menyatakan Indonesia mampu berhadapan dengan situasi ekonomi global saat ini. Terkait kebijakan tarif perdagangan yang diterapkan Amerika Serikat, pemerintah berupaya untuk melakukan jalan lain untuk menghadapi situasi tersebut. 

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO
8-4-2025

”Saya juga heran, ada orang yang mengatakan Indonesia gelap. Ya, kalau dia merasa memang gelap, ya, itu hak dia. Tapi, saya bangun pagi, saya lihat Indonesia cerah,” kata Prabowo.

Indonesia yang cerah itu, kata Prabowo, setidaknya terlihat ketika bertemu petani yang gembira. Mereka bergembira karena peningkatan hasil panen dan pemangkasan regulasi yang berdampak mempermudah akses petani terhadap pupuk.

Ketika bertemu dengan para petani di acara panen raya di Majalengka, Jawa Barat, Senin (7/4/2025), Prabowo menjelaskan soal kerja kabinetnya di sektor pertanian serta keberpihakan kepada petani. Ia menyebut, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman selalu turun ke lapangan, dari sawah ke sawah, memastikan produksi pangan terjaga, bahkan meningkat.

Kendati tak disebut secara langsung oleh Presiden, diksi ”cerah” tetap muncul dalam pertemuan Prabowo dengan petani. Hal itu disebutkan oleh Andi Amran Sulaiman saat menyampaikan peningkatan produksi beras dalam dalam beberapa bulan ini. ”Ini betul-betul cerah bagi petani, secerah kebijakan Bapak (Prabowo) selama 169 hari. Ini luar biasa bagi petani Indonesia,” tutur Amran.

Presiden Prabowo Subianto menghadiri panen raya di Majalengka, Jawa Barat, Senin (7/4/2025).

Sebelum dikemukakan dalam pertemuan dengan para petani dan investor, Prabowo juga menyinggung soal ”Indonesia Gelap” saat diwawancarai para pemimpin redaksi media massa.

Ketika menjawab pertanyaan terkait kebijakan tarif Presiden Amerika Serikat Donald Trump, ia mengatakan, kunci menghadapinya adalah kerukunan antarpihak. Oleh karena itu, dibutuhkan dialog dengan para pihak, termasuk mereka yang mengemukakan bahwa ”Indonesia Gelap”.

”Saya mau ketemu lah sama siapa, mari kita bahas, mungkin tidak usah di publik, tokoh-tokoh yang Indonesia gelap. Oke, kalau memang Indonesia gelap, mari kita kerja supaya Indonesia tidak gelap. Iya, kan?” ujar Prabowo.

Memperbaiki komunikasi

Tak hanya menegasikan narasi ”Indonesia Gelap”, dalam sejumlah pertemuan itu Prabowo juga mengakui kelemahan komunikasi di pemerintahannya.

Saat bertemu para pemimpin redaksi media massa, ia mengakui bahwa komunikasi pemerintah belum optimal. Ia bahkan sempat menyebut, salah satu pejabatnya teledor dalam berkomunikasi dengan publik.

Persoalan komunikasi juga dibahas Prabowo dalam sarasehan ekonomi. ”Saya sadar dalam beberapa minggu lalu bahwa komunikasi dari pemerintah yang saya pimpin memang agak kurang. Dan, itu adalah tanggung jawab saya,” tuturnya.

Presiden Prabowo Subianto memimpin rapat terbatas di bidang politik keamanan di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (17/2/2025). Judi daring sampai perlindungan anak di dunia digital dibahas dalam ratas.

Dalam beberapa pekan terakhir, persoalan komunikasi menjadi perhatian Prabowo. Pada akhir Maret lalu, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono mengatakan, Presiden mengevaluasi hal tersebut dalam sejumlah rapat terbatas dengan anggota Kabinet Merah Putih. Para menteri dan wakil menteri diminta lebih aktif dalam menyebarkan narasi positif terkait hasil kerja di bidangnya masing-masing. 

Quote

Perlu ada pembuktian dan Pak Prabowo harus walk the talk, menghidupi apa yang disampaikan dalam wawancara-wawancara dan pidato-pidatonya.

Sebab, kekurangan dalam komunikasi itu berdampak pada berkembangnya pesimisme warga terhadap kerja pemerintah. Pesimisme dimaksud salah satunya mewujud dalam menyebarnya narasi ”Indonesia Gelap”. ”Jangan sampai rakyat itu digiring dengan opini-opini yang enggak bener gitu,” kata Sudaryono (Kompas, 24/3/2025).

Dihubungi terpisah, pakar komunikasi politik dari Universitas Padjajaran, Bandung, Kunto Adi Wibowo, melihat, rangkaian aktivitas Prabowo dalam beberapa hari terakhir tidak terlepas dari kontroversi komunikasi publik pemerintah. Menurut dia, Prabowo menyadari betul ada problem komunikasi terutama setelah demonstrasi menolak revisi Undang-Undang TNI serta ancaman teror terhadap jurnalis yang direspons secara tidak empatik oleh Kantor Komunikasi Presiden. 

Sebelum itu, ada pula kontroversi komunikasi terkait kebijakan gas elpiji 3 kilogram, juga terkait dengan narasi ”Indonesia Gelap”. Sejumlah kontroversi itu menjadi pukulan balik terhadap pemerintah dan memunculkan reaksi negatif dari masyarakat.

Mahasiswa, kelompok aktivis, serta masyarakat sipil, yang tergabung dalam aliansi Jogja Memanggil menggelar unjuk rasa di Jalan Malioboro, Yogyakarta, Kamis (20/2/2025). Demo tersebut merupakan bagian dari aksi Indonesia Gelap yang juga dilaksanakan di sejumlah daerah lainnya. Berdasarkan kondisi bangsa saat ini, aliansi Jogja Memanggil menuntut Presiden dan Wakil Presiden Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka turun dari jabatan mereka, pembubaran Kabinet Merah Putih, dan pembentukan demokrasi kerakyatan di mana rakyat berdaulat di tangannya sendiri.

”Mau tidak mau, Presiden mengambil langkah drastis untuk take over pekerjaan-pekerjaan komunikasi yang seharusnya sudah selesai oleh bawahan-bahawannya,” kata Kunto.

Selain itu, tambahnya, Prabowo juga berupaya untuk membalik narasi ”Indonesia Gelap”. Hal itu dilakukan dengan membangun optimisme masyarakat lewat penjelasan tentang kebijakan-kebijakannya. ”Tetapi, ucapan itu tidak cukup. Perlu ada pembuktian dan Pak Prabowo harus walk the talk, menghidupi apa yang disampaikan dalam wawancara-wawancara dan pidato-pidatonya,” tutur Kunto.

Pakar komunikasi politik dari Universitas Airlangga, Surabaya, Suko Widodo, juga melihat bahwa rangkaian kegiatan Presiden mulai dari bertemu para pemimpin redaksi, petani, investor, hingga Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri merupakan upaya untuk memperbaiki komunikasi pemerintah serta membangun stabilitas.

Akan tetapi, perbaikan komunikasi tidak cukup hanya dilakukan dengan memberikan penjelasan mengenai kebijakan pemerintah. Komunikasi harus berjalan secara dua arah, yakni dengan mendengarkan kritik publik dan menjadikannya sebagai bahan evaluasi kebijakan.

”Presiden jangan hanya mempromosikan kebijakan, tetapi mengomunikasikan kebijakan. Komunikasi itu, kan, mau mendengarkan, ada proses dialektika, tidak searah,” ucap Suko.


Kerabat Kerja

Penulis:

Kurnia Yunita Rahayu
 | 

Editor:

A. Ponco Anggoro
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra