Presiden Prabowo: Kita Malah Suka Kritik

Di hadapan pengusaha dan pakar ekonomi, Presiden Prabowo kembali menegaskan bahwa pemerintah tidak antikritik. Kritik yang tak rasional perlu diklarifikasi.

08 Apr 2025 18:23 WIB · Politik & Hukum

Oleh Nina Susilo

JAKARTA, KOMPAS – Presiden Prabowo Subianto kembali menegaskan dirinya tidak antikritik. Namun, dia juga menyebut kerap kali kritik muncul sebagai kebohongan yang terus dipropagandakan.

“Di zaman sekarang, pemimpin harus terbuka untuk masukan. Kita tidak anti-kritik, kita malah suka kritik. Kritik itu membantu kita, membuat kita lebih aware, lebih waspada,” tuturnya dalam Silaturahmi Ekonomi Bersama Presiden RI: Memperkuat Daya Tahan Ekonomi Nasional yang diselenggarakan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian di Jakarta, Selasa (8/4/2025).

Acara ini dihadiri sejumlah menteri Kabinet Merah Putih dan pejabat pemerintah lain. Sarasehan juga dihadiri guru besar bidang ekonomi, ekonom, dan perwakilan assosiasi/himpunan ekonomi dan sektor usaha antara lain Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), dan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi).

Namun, lanjut Prabowo, kritik yang tidak rasional perlu diklarifikasi. Sebab, mengutip buku ”The Art of Propaganda”, Prabowo menyebut, kebohongan yang berulang-ulang bisa membuat orang percaya dengan kebohongan itu.

“Jadi kritik itu bagus menurut saya, tapi kalau suatu program untuk menciptakan suatu kondisi yang tidak rasional ini harus terus diadakan, istilahnya, klarifikasi dan penjelasan,” katanya.

Presiden Prabowo Subianto memimpin Sidang Kabinet Paripurna menjelang Idul Fitri di Kantor Presiden, Jumat (21/3/2025). Rapat membahas capaian pemerintah serta persiapan Lebaran.

Selain itu, lanjutnya, kebohongan hanya bisa dihadapi dengan membuka diri memberi penjelasan apa adanya berdasarkan fakta, berdasarkan ilmu dan matematika. Dengan demikian, suatu rezim, suatu organisasi, atau suatu kelompok yang melancarkan sesuatu atas dasar kebohongan, menurut Prabowo, akan dipatahkan.

Salah satu yang dicontohkan adalah tudingan Indonesia Gelap, seperti yang diusung dalam unjuk rasa mahasiswa beberapa waktu lalu.

“(Tapi) Saya bangun pagi, saya lihat Indonesia cerah. Kalau saya ketemu petani, mereka gembira, peningkatan hasil mereka naik drastis, produksi naik drastis, kita potong semua regulasi yang nggak benar, kita sederhanakan,” katanya.

Suasana demo Indonesia Gelap yang dilaksanakan 500an mahasiswa Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang di depan Kantor DPRD Sumsel, Palembang, Kamis (20/2/2025). Demo Indonesia Gelap di Palembang dibagi dua sesi, yakni sesi pertama oleh 500an mahasiswa UIN Raden Fatah pada pukul 10.00-13.00 dan sesi kedua oleh 1.000an mahasiswa Universitas Indonesia dan koalisi masyarakat sipil. Mereka menuntut evaluasi kebijakan efisiensi anggaran yang telah berdampak terhadap dunia pendidikan dan mengancam keberlangsungan kuliah mahasiswa karena banyak orangtua yang telah dan akan dipecat dari kerja karena dampak kebijakan tersebut.

Dalam wawancara dengan sejumlah pemimpin redaksi di kediaman pribadinya di Hambalang, Kabupaten Bogor, Minggu (6/4/2025), Presiden pun sempat menanggapi pertanyaan mengenai unjuk rasa menolak revisi UU TNI yang berlangsung di berbagai wilayah bahkan sampai di 58 kota.

Demo dinilainya sebagai hal biasa dalam negara yang berdemokrasi. Unjuk rasa pun dijamin Undang-Undang Dasar sebagai hak untuk berserikat dan berkumpul.

Namun, Presiden justru meminta para pemred untuk memerhatikan secara objektif dan jujur mengenai murni tidaknya unjuk rasa tersebut, mengenai ada tidaknya bayaran untuk para pengunjuk rasa tersebut.

Massa mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa menolak Undang-undang TNI di halaman Kantor DPRD Jawa Tengah, Kota Semarang, Kamis (20/3/2025). Setelah menuai penolakan DPR tetap menyetujui pengesahan revisi Undang-undang TNI. UU TNI mendapatkan penolakan dari masyakarat sipil dan mahasiswa karena dianggap tidak sejalan dengan prinsip demokrasi, supremasi sipil, dan HAM.

Kompas/Raditya Mahendra Yasa
20-03-2025
 *** Local Caption ***

Direktur Eksekutif The Indonesian Institute, Center for Public Policy Research (TII), Adinda Tenriangke Muchtar menilai pernyataan Presiden menerima kritik tak sejalan dengan respons Presiden dan pemerintah secara umum ketika menerima kritik.

“Sepertinya Presiden mendengar tapi bukan benar-benar mendengar dan memahami. Karenanya, kemudian bisa mengeluarkan kata “Ndasmu” kepada para pengritik dan menuduh ada campur tangan asing atas suara kritis,” tuturnya.

Semestinya, menurut Adinda, Presiden lebih peka dan peduli dengan masukan dan kritik. Ketika berkebalikan dengan hal itu kemudian menyatakan tidak antikritik, akhirnya pernyataan dan tindak lanjutnya tidak konsisten.

Mahasiswa mengepalkan tangannya saat turut aksi unjuk rasa menolak pengesahan RUU TNI di depan Kantor DPRD Kota Surakarta, Jawa Tengah, Rabu (19/3/2025). Saat ini Revisi Undang-undang Nomor 34 Tahun 2004 TNI dalam proses pengesahannya. Masyarakat sipil yang menolak RUU TNI karena berimplikasi pada sejumlah kebijakan dan partisipasi publik. Selain itu kemungkinan anggota dan pejabat TNI aktif dapat mengisi jabatan sipil di sejumlah lembaga pemerintahan. kementerian dan BUMN. Publik juga khawatir akan munculnya kembali peran ganda TNI seperti pada era Orde Baru.

Kompas/Raditya Mahendra Yasa
19-03-2025
 *** Local Caption ***

Dia pun mempertanyakan tuduhan Presiden atas unjuk rasa yang tidak murni suara mahasiswa.

“Kalau bohong semata, kenapa pasar bursa negara lain hijau, sementara pasar bursa kita merah (anjlok)? Dan ini bertepatan dengan gaduhnya RUU TNI. Pasar tidak bisa dibohongi dan pasar membaca signal, bukan hanya harga, tetapi situasi kondisi dan fenomena yang ada,” tambahnya.

Karenanya, Adinda pun meminta pemerintah tak berpura-pura menjadi “korban” (playing victim) dan tak sungguh-sungguh mendengarkan aspirasi masyarakat.



Kerabat Kerja

Penulis:

Nina Susilo
 | 

Editor:

A. Ponco Anggoro