Kunjungan Prabowo ke Rusia sempat menjadi sorotan karena ada pula undangan untuk hadir di ”leaders outreach” negara-negara G7. Namun, Prabowo memilih ke Rusia.
19 Jun 2025 20:43 WIB · Internasional
JAKARTA, KOMPAS — Indonesia dan Rusia berkomitmen untuk terus meningkatkan hubungan kerja sama. Terlebih, Indonesia telah menjadi anggota penuh BRICS, organisasi kerja sama ekonomi yang didirikan oleh Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan. Namun, hal tersebut berisiko memunculkan ketidakpercayaan dari negara mitra lain karena memberikan sinyal keberpihakan pada negara tertentu.
Presiden Prabowo Subianto diterima oleh Presiden Rusia Vladimir Putin dalam kunjungan kenegaraannya di Istana Konstantinovsky, Saint Petersburg, Rusia, Kamis (19/6/2025) waktu setempat.
Presiden yang didampingi Menteri Luar Negeri Sugiono dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya itu juga diundang menjadi tamu kehormatan dan berbicara dalam Forum Ekonomi Internasional Saint Petersburg, Jumat (20/6/2025).
Sebelum bertemu dengan Putin, Prabowo berziarah ke Piskaryovskoe Memorial Cemetery. Ia meletakkan bunga di tempat pemakaman ratusan ribu warga sipil dan prajurit yang gugur selama blokade Leningrad oleh pasukan Nazi dalam Perang Dunia II (1941-1944), Kamis. Selain itu, Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia di Saint Petersburg juga menerbitkan buku Kepemimpinan Militer karya Prabowo ke dalam bahasa Rusia.
Saat diterima Putin, Prabowo berterima kasih tidak hanya atas penerimaan terhadap kunjungan kenegaraan saat ini, tetapi juga tahun lalu. Pada Agustus 2024, Prabowo yang masih menjabat sebagai Menteri Pertahanan, tetapi sudah memenangi Pemilihan Presiden 2024 sempat bertemu dengan Putin di Moskwa.
”Juga terima kasih saya kepada Bapak Presiden (telah) mengirim utusan senior (untuk) menghadiri pelantikan saya (pelantikan Prabowo sebagai Presiden ke-8 RI, 20 Oktober 2024),” ujarnya.
Presiden melanjutkan, ia juga berterima kasih atas dukungan Rusia kepada Indonesia untuk menjadi anggota Penuh BRICS, organisasi kerja sama ekonomi yang didirikan Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan. Berkat dukungan Rusia, Indonesia bisa bergabung dalam organisasi tersebut dalam waktu cepat.
”Sesungguhnya, saya ingin hadir langsung di KTT Khazakstan, tapi saat itu saya baru dilantik satu hari dan saya harus melantik kabinet saya,” ungkap Prabowo.
Menurut Presiden, hubungan Indonesia dengan Rusia semakin meningkat dalam beberapa waktu terakhir. Selain berada dalam organisasi kerja sama ekonomi yang sama, pejabat senior Rusia pun semakin intens datang ke Indonesia. Wakil Perdana Menteri Rusia Denis V Manturov, misalnya, sudah dua kali datang ke Jakarta. Menteri Luar Negeri Sugiono pun sudah tiga kali berkunjung ke Rusia dalam waktu kurang dari setahun.
”Banyak kemajuan di berbagai bidang, hubungan ekonomi kita membaik, kerja sama di banyak bidang dan perjanjian-perjanjian. Kita ikut serta dalam Eurasian Free Trade Area berjalan dengan sangat baik,” kata Prabowo.
Sama halnya dengan Prabowo, Putin juga mengaku senang bisa kembali berjumpa setelah pertemuan terakhir mereka di Moskwa pada Agustus 2024 sebelum Prabowo dilantik. Menurut dia, sejumlah pertemuan ini akan memperkuat hubungan bilateral Rusia dengan Indonesia. Apalagi, Indonesia kini telah menjadi anggota penuh BRICS.
”Harapan saya bahwa Indonesia akan memberikan sumbangan besar dalam kegiatan organisasi ini (BRICS),” kata Presiden Putin.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/09/8dda8765-fd72-4afd-be18-76fbfb283f29_png.png)
Kali ini, lanjut Putin, pihaknya juga mengundang Prabowo untuk menjadi tamu utama dalam Forum Ekonomi Internasional Saint Petersburg 2025.
Menurut dia, ini merupakan forum yang sangat penting dalam pembangunan kerja sama antarnegara karena mempertemukan para pengusaha, pakar, dan politikus. Bagi Rusia, ada banyak peluang kerja sama yang bisa dijajaki dengan Indonesia, antara lain dalam bidang pertanian, penjelajahan luar angkasa, energi, dan militer.
Kunjungan Prabowo ke Rusia sempat menjadi sorotan publik karena Presiden juga menerima undangan untuk hadir dalam leaders outreach negara-negara G7 di Kananaskis, Alberta, Kanada, pada 17 Juni 2025.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari KTT G7 yang diselenggarakan di tempat yang sama pada 15-17 Juni. Adapun undangan disampaikan langsung oleh Perdana Menteri Kanada Mark Carney kepada Prabowo. Akan tetapi, Prabowo lebih memilih untuk berkunjung ke Rusia.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/19/f4c217ed-2a91-4823-8ba3-e61921c9a5c9_jpg.jpg)
Pengamat kawasan Rusia dan Eropa Timur sekaligus pengajar di Departemen Hubungan Internasional Universitas Airlangga, Surabaya, Radityo Dharmaputra, mengatakan, pilihan Prabowo untuk berkunjung ke Rusia memang mengundang pertanyaan. Sebab, kemungkinan investasi yang didapatkan dari Forum Ekonomi Internasional Saint Petersburg tidak besar. Apalagi, dikabarkan ada banyak pemimpin perusahaan yang absen dari forum ekonomi tersebut.
Menurut Radityo, kesan preferensi personal Presiden lebih kuat dalam kunjungan ini. Hal itu setidaknya tampak dari pernyataan terima kasih Prabowo kepada Putin atas undangan personalnya. ”Akhirnya, ini bisa jadi dibaca, terutama oleh negara-negara lain bahwa Prabowo (dan Indonesia) mendekat ke Rusia,” ujarnya.
Radityo mengingatkan, kecenderungan itu berisiko menimbulkan ketidakpercayaan dari negara-negara mitra lain, misalnya Eropa, Australia, dan Jepang. Ditambah lagi, Indonesia sempat dikabarkan akan mengizinkan Rusia untuk menggunakan pangkalan militer Indonesia. Kendati isu tersebut dibantah pemerintah, hal itu sudah menimbulkan pertanyaan dan kecurigaan dari sejumlah negara.
Oleh karena itu, kata Radityo, Indonesia perlu tetap menjaga kepercayaan dari negara-negara lain. Sebagai negara yang menganut politik luar negeri bebas aktif, kerja sama dengan sejumlah mitra strategis, misalnya, di Eropa, Jepang, dan Turki, perlu untuk terus ditingkatkan.
Penulis:
Kurnia Yunita RahayuEditor:
A. Ponco AnggoroPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto