Untuk mewujudkan Solusi Dua Negara, Indonesia menekankan kemerdekaan Palestina sebagai prioritas dan syarat pokok.
25 Sep 2025 07:40 WIB · Internasional
NEW YORK, KOMPAS — Negara-negara yang telah mengakui Palestina masih terus bergerak mewujudkan Solusi Dua Negara. Bagi Indonesia, syarat pokok solusi itu adalah kemerdekaan dan kedaulatan penuh Palestina.
Upaya terbaru digelar pada Selasa (23/9/2025) siang di New York, Amerika Serikat, atau Rabu dini hari WIB. Ada dua pertemuan terbatas, yakni tingkat kepala negara dan menteri luar negeri.
Pertemuan tingkat kepala negara diprakarsai AS. Selain Presiden RI Prabowo Subianto, Presiden AS Donald Trump mengundang pemimpin negara lain.
Dalam rapat itu, Trump menyebut tragedi Palestina sudah terlalu lama. Gencatan senjata perlu segera dicapai karena korban tewas terus bertambah.
Menlu RI Sugiono mengatakan, Indonesia dan negara-negara Timur Tengah mengajak AS menyatukan pandangan soal solusi atas masalah Palestina. Kondisi di kawasan tidak bisa membaik selama masalah Palestina belum diselesaikan.
Sugiono menuturkan, keterlibatan AS adalah wajib. Negara-negara di Timur Tengah tidak memiliki pilihan dalam memperoleh jaminan keamanan, selain jika AS ikut serta. ”Hanya AS yang bisa menekan Israel untuk menghentikan serangan dan kembali ke meja perundingan,” ujar Sugiono.
Ia juga menegaskan, masalah belum selesai saat Palestina merdeka. Ada tugas bina damai, bina kawasan, dan menjaga hubungan dengan Israel serta negara-negara di kawasan Timur Tengah. Itu yang membuat perdamaian bisa langgeng.
Sesuai nama istilah Solusi Dua Negara, kedaulatan Palestina dan Israel sama-sama diakui. ”Syarat pertama ialah kemerdekaan dan kedaulatan Palestina diakui terlebih dulu,” kata Sugiono.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/21/f62d1630dc7125edfb0995c164f37a7a-FAK_5202.jpg)
Perdamaian di Palestina penting untuk kestabilan kawasan. Imbas konflik di Palestina dialami oleh negara-negara tetangganya. Sesuai prinsip Solusi Dua Negara, Indonesia akan mengakui Israel jika mereka mengakui Palestina. ”Tidak cuma itu, jika Israel berjanji menjaga perdamaian dengan Palestina, Indonesia siap membantu mewujudkannya,” kata Sugiono.
Ini adalah praktik politik luar negeri yang bebas aktif. Perdamaian harus dicapai oleh kesepakatan kedua negara.
Ia mengatakan, ini bukan persoalan sentimen emosional. Ini karena fakta global. Apabila kemerdekaan dan kedaulatan Palestina diakui, keamanan Israel juga terjamin.
Hal ini sesuai dengan ucapan Presiden Perancis Emmanuel Macron dan Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas. Palestina yang merdeka dan sejahtera itu tidak akan melahirkan kelompok perjuangan lagi. Hal ini yang membuat Israel ataupun negara-negara di kawasan Timur Tengah bisa melanjutkan hidup dengan damai.
Sementara itu, negara-negara penyusun Deklarasi New York tentang Solusi Dua Negara bertemu di sela-sela Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pertemuan para menlu negara-negara itu dipimpin Menlu Perancis Jean-Noel Barrot.
Ia, antara lain, membahas keresahan Jordania dan Mesir soal pengusiran warga Palestina. Bukan karena Amman dan Kairo tidak mau menerima mereka.
Jordania-Mesir khawatir, bangsa Palestina tidak akan pernah bisa kembali ke tanah airnya bila mereka mengungsi kali ini. Kampung mereka, seperti dalam delapan dekade terakhir, akan dicaplok dan diduduki Israel.
Sugiono mengatakan, negara perumus Deklarasi New York akan berbagi peran. Mereka akan membantu Palestina soal ekonomi, politik, keamanan, hingga sosial.
Ia juga mengatakan, Indonesia mengapresiasi negara-negara yang mengakui kemerdekaan Palestina. Mereka berada di sisi sejarah yang benar.
Indonesia terus berkomunikasi dengan sejumlah negara soal Palestina. Untuk saat ini, pembahasan prioritasnya soal gencatan senjata dan pengiriman bantuan kemanusiaan ke Gaza.
Penulis:
Laraswati Ariadne Anwar dari New York, Amerika SerikatEditor:
Kris MadaPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar