Bersama 14 negara lain, Indonesia masuk daftar penikmat surplus terbesar dari berdagang dengan AS. Gara-gara itu, ekspor Indonesia ke AS bisa kena tambahan tarif.
25 Mar 2025 19:44 WIB · Internasional
WASHINGTON DC, SELASA — Indonesia dan 14 negara lain perlu bersiap menanggung tambahan bea masuk impor untuk berdagang dengan Amerika Serikat. Surplus neraca perdagangan jadi penyebabnya.
Presiden AS Donald Trump mengumumkan, tambahan tarif bea masuk impor (BMI) akan mulai berlaku pada 2 April 2025. Ia menyebut tanggal itu sebagai ”Hari Pembebasan” ekonomi AS. ”Kita telah banyak ditipu,” ujarnya kala mengumumkan rencana pemberlakuan tarif itu, Senin (24/3/2025) siang waktu Washington DC atau Selasa WIB.
Media AS, The Wall Street Journal dan Bloomberg, melaporkan, ada dugaan pengenaan BMI akan ditunda. Sementara Reuters, mengutip dua pejabat AS, menyebut pembahasan BMI masih berlangsung. Ada peluang BMI akan diberlakukan.
Pekan lalu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan Penasihat Keuangan Gedung Putih Kevin Hasset mengatakan, AS fokus menaikkan tarif ke 15 negara. Sasarannya adalah 15 penikmat surplus terbesar dari perdagangan dengan AS. Bessent menyebutnya ”dirty 15”.
Merujuk data Biro Sensus AS, Indonesia persis di peringkat 15 dalam daftar itu. Jakarta, menurut data AS, menikmati surplus 19 miliar dollar AS dari perdagangan dengan Washington DC pada 2024.
Surplus bagi Indonesia dan negara lain berarti defisit bagi AS. Biro Sensus AS mencatat, defisit neraca perdagangan AS selalu melebihi 1 triliun dollar AS per tahun sejak 2021. Trump menilai itu sebagai penipuan dan mau mengubah keadaan. Caranya, antara lain, mengenakan BMI.
Kawan dan lawan dibidik BMI oleh Trump. China paling disasar karena mencatat surplus paling besar di antara mitra dagang AS, yakni 319 miliar dollar AS pada 2024 saja.
Meksiko dan Vietnam menyusul masing-masing dengan 175 miliar dollar AS dan 129 miliar dollar AS pada tahun lalu. Taiwan juga mendapat surplus 79 miliar dollar AS dari berdagang dengan AS pada 2024.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/03/6a2a5b3a-f563-49c2-9e0d-26ccc1899421_jpg.jpg)
Trump menawarkan pengurangan BMI bagi negara yang mau menyeimbangkan neraca perdagangan dengan AS. Penyeimbangan berarti mitra membeli lebih banyak produk AS. Dengan demikian, industri AS diharapkan mengekspor lebih banyak.
BMI juga bisa dikurangi kalau pengusaha asing memindahkan produksi ke AS. Dengan demikian, produk mereka di pasar AS tidak dikenai BMI.
Tawaran dan kebijakan soal tarif BMI berubah terus. Pekan depan, semua mobil yang diekspor ke AS akan dikenai BMI. Setelah itu akan menyusul komoditas farmasi, semikonduktor, hingga aluminium.
Farmasi adalah andalan ekspor Uni Eropa ke AS. Sementara semikonduktor jadi komoditas utama ekspor Taiwan ke AS.
Sementara itu, China gusar dan mengecam AS gara-gara Venezuela. Sebab, AS mengancam mengenakan tambahan tarif BMI hingga 25 persen untuk komoditas dari negara mana pun yang membeli minyak Venezuela.
Donald Trump mengumumkan rencana tambahan BMI itu pada Senin (24/3/2025). Tambahan mulai berlaku pada 2 April 2025. Di antara daftar importir minyak itu termasuk AS, China, India, dan Spanyol. ”Venezuela telah sangat memusuhi AS dan kebebasan yang kami dukung,” tulis Trump di media sosial.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/05/10/6374e29b-c9c9-4019-a7d7-ddcae2389475_jpg.jpg)
China menilai pengumuman Trump sebagai intervensi urusan Venezuela. ”Kami meminta AS berhenti mencampuri urusan dalam negeri Venezuela dan menghapuskan sanksi sepihak yang ilegal pada Venezuela,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, Selasa (25/3/2025), soal tarif baru itu.
Pengumuman Trump berarti akan ada tambahan BMI untuk komoditas dari China ke AS. Sebelumnya, komoditas China ke AS sudah dikenai tambahan BMI 20 persen oleh Trump.
Jika digabung dengan BMI terkait Venezuela, komoditas China ke AS kena tambahan 45 persen. Pantas saja Beijing merutuk.
Tambahan itu, kata Guo, hanya akan memberatkan pengusaha dan konsumen AS. Sebab, pada akhirnya, komponen harga yang dikenakan ke importir dan konsumen di AS akan termasuk BMI.
Sejak dilantik, Trump telah mengumumkan aneka tambahan BMI. Walakin, pemberlakuan tambahan itu maju mundur. Untuk Kanada dan Meksiko, misalnya, awalnya akan segera berlaku.
Lalu dimundurkan beberapa waktu dengan alasan akan ada perundingan. Setelah itu, diumumkan lagi segera berlaku.
Pemberlakuan tarif BMI bagi importir minyak Venezuela diserahkan kepada Departemen Luar Negeri AS. Deplu bisa menilai mana saja negara bisa kena tarif tambahan itu.
Pada Februari 2025, China membeli 503.000 barel minyak mentah dari Venezuela. Ekspor ke China setara 55 persen total ekspor minyak mentah Venezuela. (AFP/AP/REUTERS)
Penulis:
Mahdi MuhammadEditor:
Kris MadaPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto