China Sudah Lebih Siap Hadapi Genderang Perang Trump

Menghadapi kebijakan tarif Trump, China langsung membalas dengan pengenaan tarif atas produk AS. China belajar dari 2018.

09 Mar 2025 18:13 WIB · Internasional

Oleh Helena Fransisca Nababan

WASHINGTON, MINGGU - Dibandingkan Kanada dan Meksiko, China sudah lebih siap menghadapi perang dagang baru yang dilancarkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Alih-alih bernegosiasi, China sudah menyiapkan strategi untuk membalas.

China bakal mengenakan tarif 15 persen atas aneka produk pertanian dan peternakan AS. Mulai Senin (10/3/2025), tarif itu diberlakukan antara lain untuk kacang kedelai serta daging, mencakup babi, sapi, dan ayam. Pada 2024, China mengimpor total 24,7 miliar dollar AS untuk produk pertanian dan peternakan AS.

Beijing juga memasukkan 10 perusahaan AS ke dalam daftar perusahaan yang tidak dapat dipercaya. Seluruh perusahaan China atau yang beraktivitas di China dilarang bertransaksi ekspor dan impor dengan 10 perusahaan tersebut.

Selain itu ada pembatasan ekspor kepada 15 perusahaan AS. China menilai ke-15 perusahaan itu membahayakan kepentingan nasional China.

Sebelumnya, Senin (3/3/2025) malam waktu Washington DC atau Selasa (4/3) dini hari WIB, Presiden AS Donald Trump memastikan tarif impor atas barang-barang dari Kanada, Meksiko, dan China mulai berlaku. AS memberlakukan tarif impor 25 persen untuk Kanada dan Meksiko. China juga terkena tambahan bea masuk dari 10 persen menjadi total 20 persen.

Usai pengumuman Trump, pemimpin Kanada dan Meksiko langsung bereaksi. Mereka melakukan perundingan melalui sambungan telepon dengan Trump.

A cargo ship full of  containers docks at the Port of Los Angeles on March 5, 2025, in San Pedro, California, one day after US President Donald Trump initiated sweeping tariffs on Canada, Mexico and China. Consumer items ranging from avocados and strawberries to electronics and gasoline look poised for price hikes in the wake of President Donald Trump's tariffs on Mexico, Canada and China. "The consumer will likely see some price increases over the next couple of days," Target Chief Executive Brian Cornell said this week. (Photo by Frederic J. BROWN / AFP)

Hasilnya, Trump kemudian memundurkan masa pemberlakuan tarif 25 persen bagi Kanada dan Meksiko. Pada Jumat (7/3/2025) Trump menyatakan menunda penerapan tarif bagi Kanada dan Meksiko hingga 2 April 2025 mendatang.

Langkah China

Sementara China tidak demikian. China memilih anteng menghadapi pernyataan Trump. Beijing meyakini, apabila melakukan negosiasi dengan AS, maka setiap negosiasi harus dilakukan dengan pijakan yang sama.

China memilih diam dan langsung beraksi. China menyiapkan balasan atas pengenaan tambahan bea masuk Trump sebesar 20 persen itu.

“Ketika Washington menaikkan tarif, Beijing tidak melihat pilihan lain selain membalas,” kata Sun Yun, Direktur Program China pada  Stimson Center, sebuah lembaga pemikir yang berpusat di Washington.

Balasan tarif oleh China itu senada dengan tanggapan tajam dari Kementerian Luar Negeri China pekan lalu. “Jika perang adalah yang diinginkan AS, baik itu perang tarif, perang dagang, atau jenis perang lainnya, kami siap berperang sampai akhir,” demikian dinyatakan oleh Lin Jian, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China.

Para analis menilai, tanggapan China hari ini mirip dengan yang dilakukan China saat menghadapi perang dagang Trump yang pertama. Pada 2018, saat Trump melancarkan perang dagang pertamanya dengan China, China juga melakukan tindakan balasan.

This photo taken on February 20, 2025 shows an employee working in a clothing sewing workshop in Guangzhou, China's southern Guangdong province. US President Donald Trump has targeted friends and foes alike since taking office a month ago, notably slapping additional 10 percent duties on products imported from China. (Photo by Pedro PARDO / AFP) / To go with China-US-economy-tariffs-trade-exports, FOCUS by Peter CATTERALL

Beijing saat itu juga menerapkan seperangkat tarif, pembatasan impor, pengontrolan ekspor, penerapan sanksi, meninjau regulasi, hingga menetapkan pembatasan bisnis bagi perusahaan-perusahaan AS. Semua pembatasan dan kontrol itu dirancang untuk menimbulkan kesulitan bagi ekonomi dan bisnis AS sebagai tanggapan atas pengenaan tarif Trump.

Menurut pengamat, dari langkah yang diambil Beijing hari ini, China belum mau membuka ruang untuk bernegosiasi dengan AS. “Xi Jinping yang memutuskan bahwa belum saatnya berbicara dengan Trump,” kata Daniel Russel, Wakil Presiden Bidang Keamanan dan Diplomasi Internasional pada Asia Society Policy Institute merujuk pada Presiden China.

Menurut Russel, Xi tidak akan mau menelepon Trump jika berpotensi dilecehkan atau dipermalukan. “Untuk alasan politik dan strategis, Xi tidak akan mau memohon (kepada AS),” jelas Russel.

Pada konferensi pers tahunannya, Jumat (7/3/2025), Menteri Luar Negeri China Wang Yi juga menegaskan, “tidak ada negara yang boleh berfantasi bahwa mereka dapat menekan, mengekang China sambil mengembangkan hubungan baik dengan China.”

“Tindakan bermuka dua seperti itu tidak hanya buruk bagi stabilitas hubungan bilateral tetapi juga tidak akan membangun rasa saling percaya,” kata Wang.

Ia menambahkan China menyambut baik kerja sama dengan AS. Namun ia menggarisbawahi, jika AS terus menekan, China akan membalas tegas.

Pedagang aneka aksesoris terkait Donald Trump di dekat China Town, Washington DC, Amerika Serikat pada Minggu (19/1/2025). Para pedagang itu mendatangi massa pendukung Trump yang menggelar perayaan di Capitol One Arena

Scott Kennedy, Ketua Wali Amanat bidang Bisnis dan Ekonomi China pada Pusat Studi Strategis dan Internasional yang berpusat di Washington, mengatakan, langkah-langkah yang dilakukan China kali ini menunjukkan China tidak terkejut secara psikologis dengan langkah Trump. Belajar dari 2018, China sudah mengantisipasi hal itu.

Ekonomi China memang melambat tetapi masih tumbuh pada kecepatan tahunan hampir 5 persen. Di bawah kepemimpinan Xi, China  berinvestasi besar-besaran dalam teknologi canggih, pendidikan, dan bidang lainnya.

China juga mengembangkan dan memiliki hubungan dagang lebih kuat dengan banyak negara lain dibandingkan pada masa jabatan pertama Trump. Kerja sama dagang dengan banyak negara itu membuat China bisa mendapatkan produk-produk utama, selain dari AS. Misalnya, China membeli sebagian besar kedelai dari Brasil dan Argentina, bukan dari AS.

Pada akhirnya, jelas Kennedy, persentase barang-barang China yang dijual ke AS turun. “Mereka (China) lebih siap untuk menghadapi  guncangan, dibandingkan dengan beberapa tahun yang lalu," kata Kennedy.

Sementara, di saat ekspor barang-barang China ke AS turun, lebih dari 80 persen tujuan ekspor Meksiko adalah ke AS. Kanada mengirim 75 ekspornya ke AS.

“China sudah belajar dari hubungan sebelumnya dengan Trump,” kata Russel.  (AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Helena Fransisca Nababan
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari