Industri Karet Terdampak Tarif Impor AS, Indonesia Harus Segera Cari Pasar Baru

Sehari setelah pengumuman Trump, pasar karet dunia langsung panik dan terjadi penurunan harga. Pemerintah harus segera mencari pasar potensial baru di luar AS.

04 Apr 2025 12:27 WIB · Nusantara

Oleh Nikson Sinaga

Pemberlakuan tarif resiprokal sebesar 32 persen oleh Amerika Serikat berdampak sangat signifikan pada industri karet Indonesia. Sebagai salah satu negara tujuan ekspor utama, tarif itu mengancam penurunan volume ekspor dan menekan harga karet. Indonesia harus segera mencari pasar baru untuk menyelamatkan industri karet nasional.

”Komoditas karet sangat terdampak pada kebijakan tarif Trump. Sehari setelah pengumuman Trump, pasar komoditas karet langsung panik dan terjadi penurunan harga,” kata Sekretaris Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gakindo) Sumut Edy Irwansyah, Jumat (4/4/2025).

Di bursa Singapore Exchange (SGX), kata Edy, harga karet jenis Technical Specified Rubber (TSR 20) untuk kontrak Mei sebesar 185,6 sen dollar AS per kilogram, turun 7,5 sen atau 3,88 persen dalam sehari. Penurunan harga cukup dalam juga masih terus berlanjut hingga Jumat siang ini.

Edy menyebut, AS merupakan negara tujuan utama ekspor karet Indonesia. Pada 2024, Ekspor karet Sumut ke AS mencapai 20,11 persen, berada di urutan kedua setelah Jepang yang mencapai 29,66 persen. Kontribusi negara tujuan ekspor lainnya jauh lebih kecil, yakni India 6,62 persen, China 6,60 persen, dan Brasil 5,03 persen.

Penerapan tarif impor AS menyebabkan harga karet Indonesia menjadi lebih mahal di pasar AS dibandingkan dengan produk negara penghasil karet dengan tarif resiprokal yang lebih rendah. ”Dengan kenaikan tarif, importir dari AS akan mencari pemasok alternatif dan menurunkan volume pembelian dari Indonesia,” kata Edy.

Kebijakan tarif yang berubah-ubah juga menciptakan ketidakpastian bagi industri karet Indonesia sehingga sulit membuat strategi bisnis jangka panjang. Hal ini membuat pelaku usaha lebih rentan terhadap kerugian dan penurunan pendapatan.

Para pekerja mengumpulkan getah karet hasil sadapan dari Kebun Gunung Para PT Perkebunan Nusantara III, di Kecamatan Dolok Merawan, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara, Selasa (27/3). Dalam beberapa tahun belakangan, industri karet dalam negeri terpuruk akibat harga karet remah dunia yang anjlok dari 4,5 dollar Amerika Serikat menjadi sekitar 1,5 dollar AS per kilogram. Di tingkat petani, harga getah karet anjlok dari Rp 18.000 menjadi Rp 5.000 per kilogram.KOMPAS/NIKSON SINAGA (NSA)27-03-2018

Edy menyebutkan, penurunan harga di pasar dunia akan berdampak hingga ke tingkat petani. Padahal, petani baru saja bangkit setelah harga karet mulai naik lagi dalam setahun terakhir.

Quote

Dengan kenaikan tarif, importir dari AS akan mencari pemasok alternatif dan menurunkan volume pembelian dari Indonesia.

Edy mengatakan, Indonesia harus segera mencari pasar di luar AS sebagai kompensasi terhadap penurunan ekspor ke AS. India dan China merupakan pasar paling potensial. Konsumsi karet kedua negara itu terus meningkat dengan meningkatnya industri otomotif.

Negara potensial lainnya adalah Brasil yang bisa digarap dengan kerja sama dagang antarpemerintah. ”Sebagai negara tujuan ekspor utama, peningkatan ekspor ke Jepang juga masih sangat potensial,” kata Edy.

Infografik halaman 1 Kebijakan Tarif Donald Trump

Selain memperluas pasar, industri karet nasional juga harus memperkuat daya saing. Persaingan di pasar karet dunia akan semakin tinggi karena negara penghasil karet terbesar lainnya juga terdampak, yakni Thailand dan Vietnam. Kedua negara itu juga akan mencari pasar baru.

Peningkatan daya saing karet perlu dilakukan dengan mempertahankan kualitas produk sesuai standar internasional, efisiensi produksi agar tetap kompetitif, dan meningkatkan aspek keberlanjutan agar lebih menarik bagi pasar global.

Edy menyebutkan, pemerintah perlu membantu insentif ekspor dan menggarap perjanjian dagang dengan negara lain. Di sisi lain, pelaku usaha juga perlu memperkuat ekspor ke negara potensial.

Ilustrasi trump as perang tarif amerika

Pemerintah juga perlu mengantisipasi dampak penerapan tarif AS hingga ke tingkat petani. Gapkindo mencatat, dari 3,8 juta hektar kebun karet Indonesia, sekitar 89 persen merupakan milik petani. Sebanyak 2,1 juta petani menggantungkan ekonomi keluarganya pada perkebunan karet.

Sungkunen Tarigan, Ketua Kelompok Tani Mbuah Page di Kecamatan Sinembah Tanjung Muda Hilir, Kabupaten Deli Serdang, mengatakan, petani sedang bergairah dalam satu tahun belakangan setelah harga karet naik hingga Rp 14.500 per kilogram.

”Saat ini harga karet mulai turun ke Rp 13.500 per kilogram. Kami berharap, penurunan harga tidak berlanjut,” kata Sungkunen.

Sungkunen menyebutkan, petani mulai menyadap lagi kebun karetnya yang sudah lama terbengkalai setelah kenaikan harga karet. Kelompok tani itu kini bisa mengumpulkan 30 ton karet per dua minggu, meningkat dua kali lipat dari sebelumnya 15 ton. Jika harga turun lagi, petani akan meninggalkan kebun karet.

Pada Kamis (3/4/2025) malam, Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan, pengenaan tarif resiprokal itu akan memberikan dampak signifikan terhadap daya saing produk-produk ekspor RI di pasar AS. Selama ini produk ekspor utama RI di pasar AS, antara lain, adalah elektronik, tekstil dan produk tekstil, alas kaki, minyak sawit, karet, furnitur, udang, dan produk-produk perikanan laut.

”Kami akan segera menghitung dampak pengenaan tarif resiprokal AS terhadap komoditas-komoditas itu. Kami juga akan mengambil langkah-langkah strategis untuk memitigasi dampak negatif terhadap perekonomian nasional Indonesia,” ujarnya, (Kompas.id, 3/4/2025).

Infografik-Komoditas Ekspor Utama Indonesia ke AS Tahun 2024 *** Local Caption *** Infografik-Komoditas Ekspor Utama Indonesia ke AS Tahun 2024

Di tingkat ASEAN, tarif resiprokal Indonesia tersebut masih lebih rendah daripada sejumlah negara anggota ASEAN. Kamboja dikenai tarif resiprokal tertinggi, yakni 49 persen, disusul Vietnam 46 persen dan Thailand 36 persen. Namun, tarif resiprokral RI itu masih lebih tinggi dibandingkan dengan Malaysia (24 persen), Singapura (10 persen), dan Filipina (17 persen).

Menurut Susiwijono, sejak awal 2025, Pemerintah RI telah mempersiapkan berbagai strategi dan langkah untuk menghadapi penerapan tarif baru AS. Pemerintah RI juga telah bernegosiasi dengan Pemerintah AS.

Sebagai bagian dari negosiasi, Pemerintah RI telah menyiapkan berbagai langkah untuk menjawab berbagai permasalahan yang diangkat AS. Permasalahan-permasalahan itu tertuang dalam laporan tahunan Estimasi Perdagangan Nasional (NTE) 2025 yang diterbitkan Kantor Perwakilan Dagang AS (USTR).


Kerabat Kerja

Penulis:

Nikson Sinaga
 | 

Editor:

Siwi Yunita Cahyaningrum
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase