Trump Membangkitkan Industri Otomotif AS dengan Tarif Impor

Industri kendaraan listrik AS tertinggal dari industri di negara lain. Beragam insentif dikeluarkan untuk membangkitkan industri itu.

23 Mar 2025 04:00 WIB · Internasional

Oleh Mahdi Muhammad

Di luar kebiasaan, halaman Gedung Putih, Selasa (11/3/2025), bak ruang pamer. Di sana berjejer beberapa mobil listrik Tesla, termasuk salah satunya adalah Cybertruck.

Setelah melihat-lihat, Presiden Amerika Serikat Donald Trump masuk salah satunya, sedan berwarna merah mengilap. ”Woww..,” kata Trump saat memasuki ruang kabin pengemudi Tesla model S itu. ”Indah sekali,” imbuhnya.

Berbincang sejenak dengan bos Tesla sekaligus orang kepercayaannya, Elon Musk, Trup mengatakan, akan menulis cek senilai 80.000 dollar AS atau sekitar Rp 1,322 miliar untuk bisa membeli mobil itu.

Namun, dia tidak akan mengemudikannya. Trump mengaku tidak bisa mengemudikan mobil. ”Ini produk hebat,” kata Trump, memuji keempat produk yang dipamerkan di hadapannya.

Setelah itu, di pelantar media sosial miliknya Truth Social, Trump mengunggah pembelian satu unit Tesla itu. Pembelian tersebut tanda kepercayaan dan dukungan untuk Musk.

”Kepada Partai Republik, Konservatif, dan semua warga Amerika yang hebat, Elon Musk 'bertaruh pada tujuannya' untuk membantu Negara kita, dan ia melakukan PEKERJAAN yang LUAR BIASA!,” tulis Trump.

Pembelian itu dilakukannya setelah saham Tesla anjlok. Penjualan Tesla menurun drastis di Eropa serta banyaknya laporan tentang vandalisme terhadap produk tersebut.

Tak hanya menunjukkan dukungannya terhadap produk Tesla, Trump juga mengancam pelaku vandalisme akan dilabeli teror domestik. ”Anda melakukannya pada Tesla dan Anda melakukannya pada perusahaan mana pun, kami akan menangkap Anda dan Anda akan mengalami neraka,” katanya.

Selang sepekan kemudian, saham produsen otomotif China BYD melonjak ke rekor tertinggi, Selasa (18/3/2025). Lonjakan terjadi setelah perusahaan itu meluncurkan teknologi baterai baru dengan pengisian daya super cepat.

Teknologi baterai baru dan sistem pengisian daya yang dinamai Super e-platform ini memiliki daya puncak 1.000 kilowatt (kW) membuat baterai terisi penuh hanya dalam waktu lima menit. Daya itu memungkinkan mobil melaju hingga 470 kilometer. BYD akan menggunakan teknologi baru itu di dua mobil listrik anyarnya, yakni sedan Han L dan SUV Tang L.

Jetour X90 yang diluncurkan pada pameran Indonesia Internasional Motor Show (IIMS) 2025 di JI Expo Kemayoran, Jakarta, Kamis (13/2/2025). Kompas/Riza Fathoni (RZF)

Agenda Trump

Pembelian Tesla Model S oleh Trump membuat sikapnya soal ”green mobility”, transisi energi khususnya di bidang otomotif menjadi tanda tanya. Di masa pemerintahan Joe Biden, AS mendorong peralihan mobil dengan bahan bakar minyak menjadi mobil listrik. Dorongan bagian dari penurunan emisi.

Tak lama setelah menjabat, Trump mau mengubah kebijakan itu. Ia menghentikan mandat peralihan dari mobil BBM ke mobil listrik. Subsidi hingga 7.500 dollar AS untuk pembelian mobil listrik dihentikan. Ia juga menghentikan Green New Deal, kebijakan transisi energi bersih AS yang dibuat Joe Biden.

Di sisi lain, ia memerintahkan penambangan besar-besaran minyak, gas bumi, dan batubara. Ia berkilah, AS butuh bahan bakar untuk inovasi dan pertumbuhan ekonomi. ”Kebangkitan AS adalah dominasi energi. Kita cabut semua aturan yang menghalangi industri manufaktur,” kata Direktur EPA Lee Zeldin di kolom opini Wall Street Journal.

Nanto Sriyanto, pengamat hubungan internasional BRIN, mengatakan, tindakan ini memperlihatkan sosok sebenarnya Trump, yaitu pebisnis. Di satu sisi, menurut dia, Trump merasa masih unggul dalam teknologi kendaran berbasis energi fosil. Di sisi lain, Trump juga ingin menjaga keunggulan AS dalam penggunaan energi baru terbarukan.

Infografik-Alasan Membeli dan Mengendarai Mobil Listrik *** Local Caption *** Infografik-Alasan Membeli dan Mengendarai Mobil Listrik

Sejumlah analis menilai, industri kendaraan listrik AS tertinggal terutama dari China dan Korea Selatan. Ketertinggalan baik dari sisi produksi baterai sampai distribusi produk.

China sangat dominan dalam rantai pasok teknologi baterai lithium-ion, mulai dari proses penambangannya (ekstraksi) hingga manufakturnya. China diperkirakan menguasai antara 60 dan 80 persen rantai pasok teknologi rendah karbon.

Beijing tak cuma unggul soal produksi dan rantai pasok kendaraan listrik. China unggul di produksi panel surya sampai hidrogen hijau.

Lydia Powell, peneliti ORF Centre for Resource Management mengatakan, hampir 100 persen kapasitas produksi baterai jenis Lithium-Ferrous Phosphate (LFP), satu jenis baterai mobil listrik. ”Negeri Tirai Bambu” ini juga menguasai 75 persen kapasitas produksi baterai jenis lithium nickel manganese cobalt oxide (NMC).

Produksi baterai China bisa menyuplai tidak hanya produsen otomotif di China sendiri. Produksi China bisa memasok kebutuhan AS dan Eropa.

Ini bisa terjadi, menurut Powell, karena China mendominasi dan mengendalikan pemrosesan semua mineral penting untuk produksi baterai. Mineral itu termasuk lithium, nikel, kobalt, mangan dengan tingkat kemurnian tinggi, dan grafit.

Powell menyebutkan, gabungan kapasitas produksi AS dan Eropa hanya menyumbang 13 persen angka produksi kendaraan listrik global. Sementara, Jepang dan Korea Selatan, yang juga dikenal sebagai produsen baterai dan kendaraan listrik, memegang pangsa pasar minoritas.

Employees work on an electric vehicle production line at the Leapmotor factory in Jinhua, China's eastern Zhejiang province on September 18, 2024. (Photo by ADEK BERRY / AFP)

Ketertinggalan dalam penguasaan mineral untuk produksi baterai menjadi salah satu alasan Trump menguasai tambang mineral penting di luar AS. Ukraina serta Greenland di Denmark jadi bidikan Trump.

Memiliki luas tiga kali lipat Texas, Greenland diketahui memiliki cadangan mineral tanah jarang, minyak, dan gas. Greenland juga memiliki posisi yang strategis di jalur perdagangan.

Hasil studi Suvei Geologi AS (USGS), Greenland diperkirakan memiliki 1,5 juta ton cadangan logam mineral tanah jarang. Selain itu, ada sekitar 17,5 miliar barel minyak yang belum dimanfaatkan dan 148,2 triliun kaki kubik gas alam di lepas pantai Greenland.

Sementara Ukraina diketahui memiliki kandungan uranium, litium, dan titanium. Penguasaan cadangan mineral di Ukraina dan Greenland diyakini akan memperbaiki posisi AS dalam persaingan teknologi transisi energi terbarukan.

Harga kompetitif

China tak cuma unggul soal rantai pasok. China unggul karena harga produknya kompetitif. Harga mobil listrik China bisa lebih murah sampai 40 persen dibandingkan kendaraan AS atau Eropa.

Hal ini akhirnya mengganggu pendapatan perusahaan otomotif AS yang bisa berujung pada pengurangan jumlah karyawannya. Kondisi itu bisa menimbulkan gejolak pada kelas pekerja AS.

AS, sejak era Biden, mencoba membalikkan keadaan antara lain lewat pengenaan tarif bea masuk impor (BMI) sampai 100 persen untuk kendaraan listrik China. Oleh Trump, aneka BMI komoditas China ditambah lagi. Harapannya, kenaikan BMI membuat harga komoditas China naik. Dengan demikian, komoditas AS bisa bersaing.

AS, lewat Undang-undang Pengurangan Inflasi (IRA), juga menyediakan insentif besar bagi industri otomotif AS. Menurut Powell, insentif itu diharapkan bisa mendorong industri otomotif AS membuat kendaraan listrik yang bisa bersaing dengan buatan China.

AS juga berusaha meredam China dengan hambatan ekspor semikonduktor. Hambatan itu, menurut analis Lee Kuan Yew School of Public Policy dalam artikel di The Diplomat, juga untuk memberi waktu bagi industri otomotif AS mengembangkan kemampuan produksi kendaraan listrik. Bukan cuma membuat produk, melainkan menciptakan rantai pasok dan produk yang lebih murah.

Dalam artikel di Foreign Policy, Charles Yang menyebut Trump punya kesempatan menyelamatkan industri otomotif AS. Direktur Eksekutif Center for Industrial Strategy menyebutkan, cara penyelamatannya seperti dulu diterapkan Presiden AS Ronald Reagan.

Dulu, Reagan meminta Jepang membangun pabrik di AS kalau mau mengakses pasar AS. Pabrik itu harus menggandeng perusahaan AS dan mempekerjakan warga AS.

Trump berulang kali menyatakan hal senada. Kalau produsen asing mau produknya murah di AS, bangun pabrik di AS dan pekerjakan orang AS.

Yang menulis, kewajiban bangun pabrik tetap harus diikuti dengan tarif dan aneka pembatasan lain. Dengan cara itu, kejayaan otomotif AS bisa dipulihkan. (AP/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Mahdi Muhammad
 | 

Editor:

Kris Mada
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase