Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia Juga Terancam oleh Tarif Trump

Indonesia masuk daftar ”Dirty 15” sehingga dikenai tarif impor lebih besar ke AS. Pemerintah agar cepat rumuskan strategi negosiasi terbaik dalam hubungan dagangnya.

05 Apr 2025 18:27 WIB · Nusantara

Oleh Jumarto Yulianus

BANJARMASIN, KOMPAS – Industri mebel dan kerajinan Indonesia bakal terdampak kebijakan tarif bea masuk baru ke Amerika Serikat. Negosiasi dengan AS perlu segera dilakukan untuk memitigasi dampak kebijakan itu bagi industri mebel dan kerajinan Indonesia yang sudah tumbuh melambat dan cenderung turun.

Pada 2 April 2025, Presiden AS Donald Trump mengenakan tarif resiprokal kepada Indonesia sebesar 32 persen. Tarif akan berlaku mulai 9 April mendatang.

”Kami menilai bahwa pemerintah perlu segera merespons kebijakan ini dengan langkah konkret, termasuk menggelar diskusi langsung dengan pelaku industri untuk merumuskan strategi negosiasi terbaik dalam hubungan dagang Indonesia-AS,” kata Abdul Sobur, Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), saat dihubungi, Sabtu (5/4/2025).

Sobur menilai keputusan terbaru Presiden Trump mengenai kenaikan tarif bea masuk bagi produk ekspor Indonesia ke AS merupakan tantangan besar bagi industri mebel dan kerajinan nasional. Kebijakan tersebut dipastikan akan berdampak signifikan terhadap daya saing produk Indonesia di pasar AS, yang selama ini menjadi salah satu tujuan ekspor utama.

Ketua Presidium Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur saat ditemui setelah pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) HIMKI ke-3 di Jakarta, Rabu (30/8/2023).

Ia mengatakan, Indonesia kini masuk dalam daftar ”Dirty 15”, yakni kelompok negara dengan surplus perdagangan tinggi terhadap AS, sehingga dikenai tarif impor lebih besar sebagai bagian dari kebijakan perdagangan resiprokal AS.

Sebagai asosiasi yang mengelola sektor hilir industri mebel dan kerajinan nasional, HIMKI menyampaikan kekhawatiran ini sejak lebih dari satu bulan lalu kepada pemerintah, khususnya melalui Kementerian Perdagangan. Itu persisnya saat perhelatan Indonesia International Furniture Expo (IFEX) di Jakarta International Expo (JIExpo) di Kemayoran, 6-9 Maret 2025.

Bahkan, pada 7 Maret 2025, HIMKI telah berdiskusi langsung dengan Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag Budi Santoso untuk mengantisipasi dampaknya, di antaranya soal adanya potensi penurunan ekspor.

”Kenaikan tarif ini akan meningkatkan biaya ekspor produk mebel dan kerajinan Indonesia ke AS, yang berpotensi menurunkan daya saing dan memperlambat pertumbuhan ekspor Indonesia di pasar tersebut,” katanya.

Sejumlah produk mebel khas Cirebon dipamerkan dalam acara Bangga Buatan Cirebon di Mall UKM, Kantor Dinas Koperasi, UKM, Perdagangan, dan Perindustrian Kota Cirebon, Kamis (23/11/2023). Kegiatan itu menampilkan berbagai produk unggulan Cirebon, mulai dari furnitur, kuliner khas, hingga laptop.

Dampak berikutnya, yaitu adanya persaingan dengan negara lain pasca-pemberlakuan tarif pada 9 April mendatang. Sobur mengatakan, pembeli (buyer) di AS kemungkinan akan mencari alternatif dari negara lain dengan tarif lebih rendah, seperti Vietnam atau negara-negara yang memiliki perjanjian perdagangan preferensial dengan AS.

Quote

Kami juga akan melakukan pendekatan langsung dengan para buyer di AS agar tetap mempertahankan permintaan terhadap produk Indonesia.

Untuk mengantisipasi dampak tersebut, menurut Sobur, diperlukan strategi negosiasi dan lobi level tinggi. HIMKI terus mendorong pemerintah untuk bernegosiasi dengan AS guna memitigasi dampak kebijakan ini.

”Selain itu, kami juga akan melakukan pendekatan langsung dengan para buyer di AS agar tetap mempertahankan permintaan terhadap produk Indonesia,” ujarnya.

Suasana tempat membuat mebel berbahan kayu jati Belanda di sentra kerajinan kayu di Jalan Semarang, Surabaya, Rabu (3/1/2023). Kayu jati Belanda merupakan kayu limbah palet barang-barang impor. Banyak pesanan didpaat perajin untuk memenuhi bangku dan kursi warung kopi yang menjamur di Surabaya. Kompas/Bahana Patria Gupta (BAH)

Diversifikasi pasar

Tak kalah pentingnya, kata Sobur, yaitu mengupayakan diversifikasi pasar untuk mengurangi ketergantungan pada pasar AS. Industri mebel Indonesia harus mempercepat ekspansi ke pasar alternatif, seperti Timur Tengah, Asia (India, China, Korea, Jepang), Australia, Selandia Baru, dan Afrika. Bahkan, ekspor ke China dapat ditargetkan untuk produk-produk yang tidak mereka produksi.

HIMKI juga berpandangan efisiensi dan inovasi produksi menjadi langkah yang paling mungkin dilakukan pada tahap awal ini. Dengan meningkatnya biaya ekspor, industri mebel nasional harus lebih efisien dalam produksi serta berinovasi dalam desain dan teknologi.

”Kami mendorong pemerintah untuk memberikan dukungan dalam bentuk subsidi teknologi dan peremajaan alat produksi agar industri tetap kompetitif,” katanya.

Berdasarkan data HIMKI, ekspor mebel dan kerajinan Indonesia pada 2021 senilai total 3,47 miliar dollar AS. Namun pada 2022 dan 2023, nilai ekspor mebel dan kerajinan tersebut turun masing-masing menjadi 3,21 miliar dollar AS dan 2,44 miliar dollar AS. (Kompas.id, 18/2/2025)

Pada Januari-November 2024, total nilai ekspor kedua jenis komoditas itu sebesar 2,37 miliar dollar AS, naik dari periode yang sama 2023 yang sebear 2,22 miliar dollar AS. Capaian ekspor mebel dan kerajinan tersebut masih di bawah target ekspor HIMKI pada 2026 yang mencapai 5 miliar dollar AS.

”HIMKI akan melakukan analisis dampak lebih lanjut terhadap industri mebel dan kerajinan nasional serta segera menyusun strategi bersama pemerintah dan para pelaku industri untuk menghadapi tantangan ini,” kata Sobur.

Slamet Riaman (42), pemilik Usaha Dagang Nabil Reihan Rotan, memperlihatkan tikar rotan yang sudah jadi dan siap dipasarkan di Desa Pulau Telo Baru, Kecamatan Selat, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, Senin (15/5/2023). Tikar rotan tersebut dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia hingga ke Jepang. Harganya mulai dari Rp 350.000 hingga Rp 650.000 per lembar dengan ukuran 1,5 meter x 2 meter.

Slamet Riaman, pemilik Usaha Dagang (UD) Nabil Reihan Rotan di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, mengatakan, ada tren penurunan penjualan produk kerajinan rotan pada 2025. Tidak menutup kemungkinan tren penurunan itu akan berlanjut ketika tarif resiprokal AS kepada Indonesia diberlakukan.

”Untuk sekarang ini lagi sepi, rata-rata penjualan Rp 100 juta per bulan. Sebelumnya, rata-rata penjualan kami mencapai Rp 150 juta per bulan,” katanya saat dihubungi, Sabtu (5/4/2025).

Selama ini, Slamet menjadi salah satu pemasok produk kerajinan rotan ke berbagai daerah di Indonesia, antara lain ke Cirebon, Jakarta, Surabaya, Gresik, Pasuruan, dan Bali.


Kerabat Kerja

Penulis:

Jumarto Yulianus
 | 

Editor:

Irma Tambunan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase