Respons Kebijakan Tarif Trump, Pelaku Industri Mebel Desak Langkah Konkret Pemerintah

Kebijakan tarif resiprokal 32 persen dari AS dinilai akan berdampak signifikan bagi daya saing produk mebel Indonesia. Langkah konkret pemerintah ditunggu.

04 Apr 2025 22:07 WIB · Ekonomi

Oleh Nino Citra Anugrahanto, Cyprianus Anto Saptowalyono

JAKARTA, KOMPAS — Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia atau HIMKI menilai keputusan terbaru Presiden AS Donald Trump yang menaikkan tarif bea masuk bagi produk ekspor Indonesia ke AS hingga 32 persen merupakan tantangan besar bagi industri mebel dan kerajinan nasional. Kebijakan ini diyakini akan berdampak signifikan terhadap daya saing produk Indonesia di pasar AS, yang selama ini menjadi salah satu tujuan ekspor utama.

”Pemerintah perlu segera merespons kebijakan ini dengan langkah konkret, termasuk menggelar diskusi langsung dengan pelaku industri untuk merumuskan strategi negosiasi terbaik dalam hubungan dagang Indonesia-AS. Apalagi, Indonesia kini masuk dalam daftar ”Dirty 15”—kelompok negara dengan surplus perdagangan tinggi terhadap AS—yang dikenai tarif impor lebih besar sebagai bagian dari kebijakan perdagangan resiprokal AS,” kata Ketua Umum HIMKI Abdul Sobur ketika dihubungi di Jakarta, Jumat (4/4/2025).

Sebagai asosiasi yang mengelola sektor hilir industri mebel dan kerajinan nasional, HIMKI telah menyampaikan kekhawatiran ini sejak lebih dari satu bulan lalu kepada pemerintah, khususnya melalui Kementerian Perdagangan saat perhelatan IFEX. ”Bahkan, pada 7 Maret 2025, kami telah berdiskusi langsung dengan Dirjen Perdagangan Luar Negeri, Bapak Budi Santoso, untuk mengantisipasi dampaknya,” ujar Sobur.

Quote

Kenaikan tarif ini akan meningkatkan biaya ekspor produk mebel dan kerajinan Indonesia ke AS, yang berpotensi menurunkan daya saing dan memperlambat pertumbuhan ekspor kita di pasar tersebut.

Sekjen HIMKI Abdul Sobur saat diwawancarai, Kamis (23/1/2020), di Kota Cirebon, Jawa Barat.

HIMKI melihat setidaknya ada lima dampak utama serta langkah yang perlu segera diambil. Pertama, potensi penurunan ekspor. ”Kenaikan tarif ini akan meningkatkan biaya ekspor produk mebel dan kerajinan Indonesia ke AS, yang berpotensi menurunkan daya saing dan memperlambat pertumbuhan ekspor kita di pasar tersebut,” katanya.

Kedua, persaingan dengan negara lain. Setelah pemberlakuan tarif pada 9 April mendatang, pembeli di AS kemungkinan akan mencari alternatif dari negara lain dengan tarif lebih rendah, seperti Vietnam atau negara-negara yang memiliki perjanjian perdagangan preferensial dengan AS.

Ketiga, strategi negosiasi dan lobi level tinggi. HIMKI akan terus mendorong pemerintah untuk melakukan negosiasi dengan AS guna memitigasi dampak kebijakan ini. ”Selain itu, kami juga akan melakukan pendekatan langsung dengan para buyer di AS agar tetap mempertahankan permintaan terhadap produk Indonesia,” ujarnya.

Infografik-Komoditas Ekspor Utama Indonesia ke AS Tahun 2024 *** Local Caption *** Infografik-Komoditas Ekspor Utama Indonesia ke AS Tahun 2024

Empat, diversifikasi pasar. Untuk mengurangi ketergantungan pada pasar AS, industri mebel Indonesia harus mempercepat ekspansi ke pasar alternatif, seperti Timur Tengah, Asia (India, China, Korea, Jepang), Australia, Selandia Baru, dan Afrika. Bahkan, ekspor ke China dapat ditargetkan untuk produk-produk yang tidak diproduksi negara tersebut.

”Lima, efisiensi dan inovasi produksi langkah paling mungkin tahap awal kami lakukan. Dengan meningkatnya biaya ekspor, industri mebel nasional harus lebih efisien dalam produksi serta berinovasi dalam desain dan teknologi. Kami mendorong pemerintah untuk memberikan dukungan dalam bentuk subsidi teknologi dan peremajaan alat produksi agar industri tetap kompetitif,” ujar Sobur.

Langkah berikutnya bagi HIMKI adalah menganalisis dampak lebih lanjut terhadap industri mebel dan kerajinan nasional serta segera menyusun strategi bersama pemerintah dan para pelaku industri untuk menghadapi tantangan ini,” kata Sobur.

Pengunjung melihat koleksi olahan kayu yang menjadi beragam produk mebel dan seni kerajinan saat dipamerkan di Taman Srigunting, Kota Lama, Kota Semarang, Jawa Tengah, Senin (12/12/2022). Produk kerajinan dari berbagai jenis kayu antara lain trembesi, kelengkeng dan jati ini diolah kembali melalui beragam bentuk desain. Kerajinan pengolahan kayu tersebut tidak hanya menjangkau pasar domestik melainkan juga berorientasi ekspor ke Amerika dan Eropa. Kompas/P Raditya Mahendra Yasa 12-12-2022 *** Local Caption ***

Sementara itu, Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan Hasan Nasbi mengungkapkan, pemerintah telah mempersiapkan sejumlah langkah guna menghadapi tarif resiprokal 32 persen dari AS. Langkah paling awal ialah menghitung dampak penerapan tarif resiprokal. Tak cukup itu saja, tim lobi tingkat tinggi hingga peningkatan aspek kompetitif produk buatan dalam negeri juga tengah disiapkan.

”Paralel dengan itu, pemerintah juga mengirimkan tim lobi tingkat tinggi untuk bernegosiasi dengan Pemerintah AS. Di dalam negeri sendiri, pemerintah juga sedang menerapkan penyederhanaan regulasi agar produk-produk Indonesia bisa lebih kompetitif,” kata Hasan, lewat pesan tertulisnya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Nino Citra Anugrahanto, Cyprianus Anto Saptowalyono
 | 

Editor:

Cyprianus Anto Saptowalyono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Rosdiana Sitompul