Inflasi Telur MBG dan Dana Rp 20 Triliun

Kementerian Pertanian menyediakan dana Rp 20 triliun untuk membangun peternakan ayam petelur dan pedaging guna menopang program MBG.

05 Nov 2025 12:44 WIB · Ekonomi & Bisnis

KOMPAS/Totok Wijayanto

Oleh Hendriyo Widi

Program Makan Bergizi Gratis atau MBG mulai memicu inflasi. Salah satu tandanya adalah lonjakan permintaan telur dan daging ayam yang memicu kenaikan harga kedua komoditas pangan itu. Di balik itu, Kementerian Pertanian telah menyiapkan dana Rp 20 triliun untuk meningkatkan produksi telur dan daging ayam.

Pada 3 November 2025, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis tingkat inflasi nasional pada Oktober 2025 sebesar 0,28 persen secara bulanan dan 2,86 persen secara tahunan. Beberapa komoditas penyumbang inflasi tersebut adalah telur dan daging ayam ras.

Tingkat inflasi bulanan telur dan daging ayam ras masing-masing sebesar 4,43 persen dan 1,13 persen. Andil kedua komoditas tersebut terhadap inflasi bulanan masing-masing sebesar 0,04 persen dan 0,02 persen.

Adapun tingkat inflasi tahunan telur ayam ras sebesar 9,74 persen dan daging ayam ras 8,11 persen. Telur ayam ras berkontribusi terhadap inflasi tahunan sebesar 0,09 persen, sedangkan daging ayam ras 0,12 persen.

Merujuk data Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok Kementerian Perdagangan, harga telur ayam ras cenderung naik sepanjang Oktober 2025. Sebaliknya, harga daging ayam ras sebenarnya mulai turun meskipun masih mengalami inflasi.

Harga rerata telur ayam ras naik dari Rp 32.100 per kilogram (kg) pada 1 Oktober 2025 menjadi Rp 32.500 per kg pada 31 Oktober 2025. Harga tersebut di atas harga acuan penjualan di tingkat konsumen Rp 30.000 per kg dan naik 0,62 persen secara bulanan.

Dalam periode perbandingan yang sama, harga daging ayam ras turun tipis dari Rp 39.300 per kg menjadi Rp 39.100 per kg. Harga tersebut masih di bawah harga acuan penjualan di tingkat konsumen Rp 40.000 per kg dan turun 1,28 persen secara bulanan.

Quote

Program MBG telah berjalan beberapa bulan sehingga turut mendorong lonjakan permintaan telur dan daging ayam ras.

Komoditas yang Mengalami Inflasi Bulanan pada Oktober 2025

Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini mengatakan, program MBG telah berjalan beberapa bulan sehingga turut mendorong lonjakan permintaan telur dan daging ayam ras. Ini mengingat kedua bahan pangan itu merupakan bagian dari menu MBG.

Namun, ada faktor lain yang memicu kenaikan harga kedua komoditas pangan itu, yakni kenaikan biaya produksi. Sejumlah komponen biaya produksi itu, antara lain, jagung pakan, anak ayam berusia sehari (DOC) dan ayam hidup (live bird).

Dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah pada Selasa (4/11/2025), Kantor Sekretariat Presiden (KSP) memberikan catatan perihal itu. Dalam kesempatan yang sama, Menteri Pertanian dan juga Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman tak menampik bahwa MBG mulai memicu inflasi.

Pelaksana Tugas Deputi II Bidang Perekonomian dan Pangan Kantor Staf Presiden (KSP) Telisa Aulia Falianty mengungkapkan, harga rerata telur ayam ras memang masih di atas harga acuan penjualan. Sebaliknya, harga daging ayam ras yang pernah melonjak kini sudah mulai turun.

Kenaikan harga kedua bahan pangan pokok itu terjadi lantaran lonjakan permintaan. Selain itu, lonjakan harganya juga dipicu kenaikan harga pakan, terutama jagung.

Ia mencatat, per 31 Oktober 2025, harga rerata nasional jagung di tingkat petani sebesar Rp 6.740 per kg. Harga tersebut 16,21 persen di atas harga acuan pembelian jagung di tingkat petani yang sebesar Rp 5.800 per kg.

”Pemerintah memang telah berupaya menyalurkan jagung SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) kepada peternak ayam. Bahkan, waktunya diperpanjang. Kami berharap penyaluran tersebut dipercepat, terutama menyasar peternak rakyat,” katanya.

Seorang peternak di Desa Pohgajih, Kecamatan Selorejo, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, Widodo Setiohadi, Selasa (14/9/2021), tengah memungut telur ayam ras dari kandang. Saat ini peternak ayam layer di Blitar mengeluhkan rendahnya harga jual telur yang mencapai Rp 14.500 per kilogram, sedang di sisi lain harga jagung mahal mencapai Rp 6.000 per kg.

Selain itu, lanjut Telisa, KSP mendukung gerakan pangan murah, termasuk telur ayam. Dalam gerakan itu, telur ayam dapat dijual dengan harga terjangkau, terutama di daerah-daerah yang harga telurnya masih tinggi. Namun, upaya itu perlu dibarengi dengan subsidi transportasi untuk wilayah-wilayah tertentu.

Namun, KSP meminta agar gerakan pangan murah berupa telur dan daging ayam tetap terukur. Jangan sampai harga telur dan daging ayam justru terlalu murah sehingga merugikan peternak ayam.

Ia mencontohkan, per 31 Oktober 2025, harga ayam ras pedaging hidup sebesar Rp 22.175 per kg. Harga tersebut 11,3 persen di bawah harga acuan pembelian di tingkat produsen yang sebesar Rp 25.000 per kg.

”Hal itu dapat menimbulkan risiko kerugian peternak ayam pedaging, terutama peternak mandiri rakyat,” kata Telisa.

Aman (48) peternak di Desa Payungagung, Kecamatan Panumbangan, Kabupaten Ciamis memeriksa pipa air minum untuk ayam pedagingnya, Rabu (25/4/2018). Sejak larangan antibiotik sebagai imbuhan pakan dilarang per Januari 2018, pertumbuhan ayam pedaging menurun.

Membangun peternakan ayam

Sementara itu, Amran menuturkan, selama ini, Indonesia sudah swasembada telur dan daging ayam ras. Namun, dengan bertambahnya permintaan seiring bergulirnya program MBG, produksi kedua komoditas itu memang perlu ditingkatkan agar tidak memicu inflasi.

”Saat ini, inflasi kedua komoditas itu masih terkendali. Inflasi tersebut juga bagus lantaran menggerakkan ekonomi kerakyatan, termasuk para peternak ayam petelur dan pedaging,” tuturnya.

Berdasarkan data proyeksi Neraca Pangan Bapanas, produksi telur ayam ras pada 2024 mencapai 6,34 juta ton ton. Pada 2025, produksi telur tersebut diestimasikan naik 2,78 persen menjadi 6,52 juta ton dengan total kebutuhan konsumsi nasional sebanyak 6,22 juta ton.

Adapun produksi daging ayam ras pada 2024 sebesar 3,83 juta ton. Pada 2025, produksinya diperkirakan meningkat 10,25 persen menjadi 4,25 juta ton dengan total kebutuhan konsumsi nasional mencapai 3,87 juta ton.

Pada awal Desember 2024, Bapanas pernah menyimulasikan kebutuhan telur dan daging ayam ras untuk program MGB pada 2025. Kebutuhan kedua komoditas pangan itu dihitung berdasarkan rekomendasi porsi Isi Piringku dari Kementerian Kesehatan dengan sasaran 15,4 juta orang penerima manfaat.

Simulasi itu juga mensyaratkan variasi menu. Telur ayam, misalnya, disajikan tiga kali per minggu dengan porsi masing-masing satu butir atau 50 gram per orang. Sementara daging ayam disajikan dua kali per minggu dengan porsi masing-masing 50 gram per orang.

Berdasarkan hal itu, telur dan daging ayam yang dibutuhkan selama setahun sekitar 127.000 ton dan 70.000 ton. Dengan rerata nasional produksi tahunan telur yang sebesar 6,3 juta ton dan daging ayam 3,8 juta ton, kebutuhan kedua komoditas pangan untuk MBG dapat dipenuhi dari dalam negeri.

Quote

Kami sudah menyiapkan dana Rp 20 triliun untuk membangun peternakan-peternakan tersebut. Fokusnya adalah di daerah-daerah yang kerap mengalami kenaikan harga telur dan daging ayam ras.

Tangkapan layar Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang tengah menjelaskan rencana pembangunan peternakan ayam petelur dan pedaging dengan dana Rp 20 triliun. Amran mengungkapnya dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah yang digelar Kementerian Dalam Negeri secara hibrida di Jakarta, Selasa (4/11/2025).

Sementara itu, berdasarkan penghitungan terbaru Kementerian Pertanian (Kementan), Amran menyebutkan masih ada kekurangan telur dan daging ayam untuk memenuhi kebutuhan 82,9 juta penerima manfaat MBG. Kekurangan telur dan daging ayam itu masing-masing sebanyak 700.000 ton dan 1,1 juta ton.

Untuk itu, peningkatan produksi telur dan daging ayam ras di Indonesia sangat diperlukan. Peningkatan produksi kedua komoditas pangan itu juga bakal semakin menggeliatkan ekonomi desa, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan peternak ayam petelur dan pedaging.

”Kami sudah menyiapkan dana Rp 20 triliun untuk membangun peternakan-peternakan tersebut. Fokusnya adalah di daerah-daerah yang kerap mengalami kenaikan harga telur dan daging ayam ras. Kami juga sudah punya konsepnya,” kata Amran dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah, Selasa.

Merujuk paparan Kementan, pengembangan peternakan ayam petelur dan pedaging bakal melibatkan badan usaha milik negara (BUMN) sektor pangan, Koperasi Desa Merah Putih, dan peternak ayam. BUMN bakal berperan sebagai penyedia ayam, vaksin, dan pakan, serta offtaker (penjamin serapan).

Adapun koperasi desa merah putih dapat berperan sebagai pembudidaya atau offtaker. Untuk mengembangkan peternakan ayam itu dibutuhkan 60,27 juta pullet (ayam petelur berusia 4 bulan) dan 1,23 miliar ayam pedaging. Targetnya, produksi telur dan daging ayam masing-masing bisa mencapai 1 juta ton dan 1,5 juta ton.


Kerabat Kerja

Penulis:

Hendriyo Widi
 | 

Editor:

Agnes Theodora
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto