Bencana di Sumatera Turut Pengaruhi Inflasi Nasional 2025

Pada 2025 Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara mengalami inflasi tahunan masing-masing sebesar 6,71 persen, 5,15 persen, dan 4,66 persen.

05 Jan 2026 13:48 WIB · Ekonomi & Bisnis

Oleh Hendriyo Widi

JAKARTA, KOMPAS — Tingkat inflasi nasional pada 2025 sebesar 2,92 persen secara tahunan. Tingkat inflasi tersebut, terutama pada Desember 2025, turut dipicu inflasi di tiga daerah yang terdampak bencana di Sumatera, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Badan Pusat Statistik (BPS), Senin (5/1/2026), merilis, per Desember 2025, tingkat inflasi nasional sebesar 0,64 persen secara bulanan dan 2,92 persen secara tahunan. Tingkat inflasi tahunan pada 2025 itu lebih tinggi daripada di 2024 yang sebesar 2,26 persen. Namun, tingkat inflasi tersebut masih di rentang target inflasi 2025 yang ditetapkan pemerintah dan Bank Indonesia, yakni 2,5 persen-3,5 persen.

Quote

Tingkat inflasi tahunan pada 2025 itu lebih tinggi daripada di 2024 yang sebesar 2,26 persen.

Komoditas yang dominan memicu inflasi tahunan itu adalah emas dan perhiasan dengan andil sebesar 0,79 persen, cabai merah sebesar 0,19 persen, daging ayam ras sebesar 0,14 persen. Sementara ikan segar, cabai rawit, dan beras masing-masing sebesar 0,15 persen andilnya.

Sepanjang Januari-Desember 2025, emas dan perhiasan mengalami inflasi sebelas kali. Adapun cabai merah lima kali, ikan segar delapan kali, cabai rawit lima kali, beras delapan kali, dan daging ayam ras tujuh kali.

Tangkapan layar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Pudji Ismartini yang tengah menjelaskan tingkat inflasi Desember 2025 di tiga daerah terdampak bencana di Sumatera. Pudji memaparkannya dalam konferensi pers yang digelar BPS secara hibrida di Jakarta, Senin (5/1/2026).

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, mengatakan, tingkat inflasi bulanan secara nasional pada Desember 2025 juga turut dipicu kenaikan harga komoditas di tiga daerah yang terdampak bencana di Sumatera. Ketiga daerah itu adalah Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat.

Pada Desember 2025, Aceh, Sumut, dan Sumbar mengalami inflasi bulanan masing-masing sebesar 3,6 persen, 1,66 persen, dan 1,48 persen. Sebulan sebelumnya, Aceh, Sumut, dan Sumbar mengalami deflasi masing-masing sebesar 0,67 persen, 0,42 persen, dan 0,24 persen.

Menurut Pudji, secara umum, inflasi itu dipicu kenaikan harga komoditas kelompok makanan, minuman, dan tembakau akibat dampak bencana banjir dan longsor pada akhir November 2025. Komoditas yang dominan menyebabkan inflasi di Aceh adalah beras dengan andil 0,8 persen. Bahan bakar rumah tangga dan minyak goreng masing-masing memberikan andil sebesar 0,26 persen dan 0,26 persen.

Quote

Secara umum, inflasi itu dipicu kenaikan harga komoditas kelompok makanan, minuman, dan tembakau akibat dampak bencana banjir dan longsor pada akhir November 2025.

Di Sumut, komoditasnya berupa cabai rawit dengan andil 0,41 persen, bawang merah dengan andil 0,24 persen, dan kelapa dengan andil 0,14 persen. Adapun di Sumbar, komoditas yang berandil besar terhadap inflasi adalah bawang merah (0,22 persen), cabai rawit (0,18 persen), dan beras (0,14) persen.

”Ketiga provinsi tersebut termasuk dalam kelompok provinsi dengan tingkat inflasi tertinggi. Aceh bahkan mengalami inflasi tahunan tertinggi pada 2025,” katanya.

BPS mencatat, pada 2025 terdapat empat daerah di Sumatera yang mengalami inflasi tahunan yang tinggi atau jauh di atas tingkat inflasi nasional. Aceh menempati peringkat ke-1 dengan tingkat inflasi tahunan sebesar 6,71 persen. Berturut-turut menyusul adalah Sumbar sebesar 5,15 persen, Riau sebesar 4,88 persen, dan Sumut sebesar 4,66 persen.

Pedagang sayur mayur menunggu pembeli di Pasar Pagi Kuala Simpang, Aceh Tamiang, Aceh, Minggu (7/12/2025). Hampir dua pekan setelah banjir bandang, aktivitas ekonomi di kota tersebut mulai terlihat. Pedagang mengaku mendatangkan dagangannya dari Brastagi, Sumatera Utara.

Stok beras awal 2026

Sementara itu, Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyebutkan, stok beras nasional pada awal 2026 mencapai 12,53 juta ton. Stok beras itu cukup untuk memenuhi konsumsi masyarakat hingga Ramadhan-Lebaran 2026, bahkan hingga Mei 2026.

Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menuturkan, stok beras nasional sebanyak 12,53 juta ton itu sudah termasuk cadangan beras pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog sebesar 3,25 juta ton. Selain di Bulog, stok beras nasional tersebar di tingkat rumah tangga produsen dan konsumen, penggilingan, pedagang, serta hotel, restoran, dan katering.

”Stok beras nasional pada awal 2026 itu meningkat pesat dalam dua tahun terakhir. Peningkatannya mencapai 203,05 persen terhadap stok awal 2024 yang saat itu sebanyak 4,13 juta ton dan 49,12 persen dari stok awal 2025 yang sebesar 8,4 juta ton,” tuturnya melalui siaran pers.

Quote

Stok beras nasional pada awal 2026 masih mencukupi hingga Ramadhan-Lebaran (Februari-Maret 2026), bahkan hingga Mei 2025.

Perkembangan dan potensi produksi beras nasional pada 2024 hingga Februari 2026 berdasarkan Kerangka Sampel Area (KSA) Padi Amatan November 2025.

Kepala Bapanas dan juga Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan, stok beras nasional pada awal 2026 sangat tinggi. Stok tersebut masih mencukupi hingga Ramadhan-Lebaran (Februari-Maret 2026).

Bahkan, dengan kebutuhan konsumsi beras bulanan sebanyak 2,6 juta ton, stok beras nasional tersebut dapat memenuhi kebutuhan masyarkat hingga lima bulan atau Mei 2025. Sementara produksi beras nasional sepanjang 2026 dan stok beras nasional pada akhir 2026 diperkirakan masing-masing sebesar 34,77 juta tondan 16,19 juta ton.

”Berdasarkan kondisi stok itulah, pemerintah memutuskan tidak mengimpor beras untuk keperluan konsumsi dan industri. Stok beras nasional masih aman. Begitu juga dengan CBP di Bulog yang lebih dari 3 juta ton atau tertinggi sepanjang sejarah,” kata Amran.


Kerabat Kerja

Penulis:

Hendriyo Widi
 | 

Editor:

FX Laksana Agung Saputra
 | 

Penyelaras Bahasa:

FX Sukoto