Berbagai pemberitaan tentang gejolak dan kompleksitas kehidupan yang mengalir dalam kanal digital turut memengaruhi dampak sosial dan psikologis masyarakat.
01 Jul 2025 10:00 WIB · Kesehatan
Dengan kemajuan teknologi digital, beragam informasi mengalir tanpa batas. Berbagai pemberitaan mengenai peristiwa yang terjadi baik dalam skala lokal, nasional, hingga internasional dapat diakses secara mudah. Beragam kanal media arus utama dan juga media sosial senantiasa menyajikan potongan peristiwa tersebut setiap saat. Lantas, apakah berbagai pemberitaan tentang sejumlah gejolak dan kompleksitas yang mengalir dalam kanal digital itu turut memengaruhi dampak sosial dan psikologis bagi masyarakat?
Pasca-dihantam pandemi yang menyebabkan resesi dunia, masyarakat global kini dihadapkan dengan berbagai persoalan yang kompleks. Di antaranya seperti ancaman eskalasi konflik geopolitik, dampak krisis iklim, hingga ketidakstabilan ekonomi yang dapat terjadi setiap saat. Beragam ancaman ini dapat terjadi secara bersamaan dan cenderung kian memperburuk kondisi masyarakat suatu bangsa. Bahkan, dampak buruknya dapat menjalar ke negara atau kawasan lainnya.
Ada sejumlah eskalasi konflik yang turut menjadi perhatian dunia karena memiliki risiko mengganggu stabilitas internasional. Misalnya saja, seperti konflik Ukraina-Rusia, Israel-Palestina, Israel-Iran, dan kini ada potensi ketegangan antara Amerika Serikat-Iran. Sejumlah konflik geopolitik ini rentan memicu gejolak dunia, salah satunya dari sisi perekonomian.
Pasalnya, sejumlah negara yang bertikai itu merupakan salah satu produsen minyak bumi terbesar di dunia. Bahkan, wilayah konflik itu sebagian berada di jalur perdagangan minyak dan gas terbesar secara global sehingga rentan memicu inflasi di sejumlah kawasan akibat harga minyak melambung akibat peperangan. Meskipun saat ini kondisi konflik relatif terkendali, tetapi risiko untuk meningkat kembali eskalasinya tetap saja besar. Artinya, konflik geopolitik masih terus membayangi hingga kini.
Menurut laporan temuan Armed Conflict Location and Event Data (ACLED), dalam lima tahun terakhir (2020-2024) konflik secara global meningkat hampir dua kali lipat. Hal ini turut berdampak pada rantai pasok energi, konfrontasi geoekonomi, bahkan gejolak krisis kemanusiaan akibat konflik bersenjata.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/16/6be31f5d-e001-40d3-a37d-79d0d824e6c5_jpg.jpg)
Kondisi saat ini relatif relevan dengan istilah polycrisis atau polikrisis yang dalam beberapa tahun kebelakang telah menjadi perhatian para ahli maupun organisasi global. Salah satunya muncul dalam diskusi panel di pertemuan tahunan World Economic Forum di Davos. Dalam forum tersebut para ahli telah membahas terkait tantangan jangka pendek dan jangka panjang untuk Global Risk Report 2023, dalam forum diskusi tersebut para ahli menemukan adanya risiko polikrisis yang berpotensi semakin meningkat.
Di tengah lanskap krisis global yang kompleks, informasi dinamika problem global ini juga dapat dengan mudah diakses melalui berbagai kanal media digital. Kemudahan akses informasi dan pemberitaan melalui media digital telah mengubah cara masyarakat mengonsumsi pemberitaan secara fundamental. Arus informasi tanpa henti mengabarkan tentang beragam peristiwa yang terjadi saat ini. Termasuk di dalamnya pemberitaan tentang konflik geopolitik, bencana alam, ketidakstabilan ekonomi, hingga krisis kemanusiaan disertai narasi dan visual lapangan.
Tingginya konsumsi beragam informasi tersebut sejalan dengan animo masyarakat dalam mengakses media digital. Dalam laporan Digital 2025 pada Februari lalu oleh datareportal menunjukkan sebesar 62,8 persen responden survei memilih alasan utama menggunakan internet untuk mencari informasi. Salah satu tujuannya untuk mendapatkan informasi terbaru terkait pemberitaan dan peristiwa terkini.
Informasi yang berisi sajian konflik umumnya memiliki animo audiens yang relatif tinggi. Hal ini tak lepas dari psikologis manusia yang cenderung bersifat bad news bias atau negativity bias, di mana manusia biasanya tertarik dan memiliki memori kuat pada informasi bernuansa problem daripada pemberitaan yang bernuansa positif.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/18/b9c6e8a2-7bc0-4a09-b11a-d8600c311409_jpg.jpg)
Dalam studi neurosains yang salah satunya sudah dilakukan oleh beberapa gabungan peneliti berjudul What triggers causal attributions? The impact of valence and subjective probability European, 1988, menunjukkan bahwa respons otak terhadap stimulus negatif dari suatu fenomena lebih intens dan cepat dibandingkan stimulus positif.
Secara evolusioner, otak manusia dirancang untuk memprioritaskan informasi yang berpotensi mengancam. Bentuk dari insting bertahan hidup itu menjadi akar dari negativity bias, di mana informasi negatif diproses lebih cepat dan cenderung melekat lebih lama dalam ingatan dibanding informasi positif
Dalam studi terbaru yang diterbitkan pada Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS), menyajikan bukti komprehensif tentang negativity bias atau bias negatif di sejumlah negara di dunia. Penelitian yang dilakukan di 17 negara di 6 benua itu menemukan bahwa rata-rata individu lebih aktif secara fisiologis terhadap informasi negatif daripada berita positif. Studi ini menunjukkan bahwa bias negatif adalah fenomena yang meluas secara global, bukan hanya terbatas pada lingkup area atau kawasan tertentu saja.
Di era digital sekarang, bias informasi seperti menemukan lahan suburnya. Terutaman platform media sosial dan aplikasi berita yang di desain untuk memaksimalkan keterlibatan pengguna atau audiens. Hal ini tampak dalam laporan Digital 2025, di mana terjadi pola perubahan konsumsi pemberitaan dan informasi yang bergeser pada sosial media dengan rata-rata global mencapai 34,5 persen. Hal ini dinyatakan oleh responden berusia di atas 16 tahun yang menjadi obyek survei tersebut.
Fenomena itu sejalan dengan algoritma media sosial yang cenderung mempromosikan konten yang menghasilkan reaksi kuat dari para audiensnya. Tentu saja, konten yang cenderung berisi berita buruk, konflik, dan drama seringkali lebih menarik perhatian para pengguna.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/26/1d434421-c74e-41c7-a1c6-e80952ab74ab_png.png)
Semakin maraknya konten dengan nuansa negatif tersebut memungkinkan pengguna internet terpapar pada krisis secara real-time. Fenomena ini mendorong pengguna terjebak dalam doomscrolling yaitu kebiasaan terus menerus mencari dan mengonsumsi berita negatif, meskipun dampaknya menyebabkan kecemasan dan kegelisahan.
Sebagai contoh, di masa pandemi jutaan orang mengaku terjebak dalam lingkaran tak berujung membaca berita buruk tentang virus dan dampaknya. Ini diperkuat dengan laporan Reuters Institute Digital News Report 2023 yang menunjukkan bahwa meskipun ada upaya menghindari berita secara selektif (selective news avoidance), banyak pengguna tetap terpapar berita negatif secara pasif melalui media sosial. Dampak psikologis individu dari paparan kronis terhadap polikrisis dan "bad news bias" atau negativity bias sangat nyata.
Selain dampak stres yang dirasakan, muncul juga kelelahan informasi (information fatigue atau information overload). Derasnya arus berita yang seakan tidak ada habisnya membuat individu kewalahan. Otak sulit memproses dan menyaring informasi, menyebabkan kelelahan mental, sulit berkonsentrasi, dan rasa putus asa. Sekain itu, juga berisiko menimbulkan mati rasa emosional. Paparan berulang dapat membuat kita menjadi kurang responsif secara emosional.
Kebiasaan mengakses informasi (negatif) itu bisa jadi merupakan mekanisme mitigasi pertahanan diri agar tidak terdampak efek buruknya. Hanya saja, kebiasaan ini berisiko mengikis empati dan kepedulian terhadap penderitaan orang lain. Sebuah studi oleh American Psychological Association pada 2023 mencatat bahwa paparan berita konflik berkepanjangan dapat menurunkan tingkat respons emosional.
Melalui dokumentasi DW Documentary yang diunggah pada tahun ini, salah satu narasumber Dominique Wirz seorang asisten profesor dari riset komunikasi di Universitas Amsterdam memberikan simulasi reaksi sistem saraf dari stimulus negatif.
Dari simulasi tersebut tampak bahwa stimulus negatif memberikan perbedaan pada reaksi pertama dan reaksi berikutnya. Meski terkejut di awal, stimulus selanjutnya membuat responden simulasi justru telah mempersiapkan dan merespon dengan emosi biasa. Menurut Dominique, reaksi tersebut juga sama terjadi ketika dihadapkan dengan pemberitaan krisis saat ini. Alih-alih memicu membawa kewaspadaan, pemberitaan tersebut justru membawa pada respon emosi mati rasa.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/17/f45728a1-665e-4982-9af5-f8e4e010cb2c_jpg.jpg)
Dampak polikrisis yang diperkuat oleh dinamika informasi dan pemberitaan digital tidak hanya berhenti pada level individu, tetapi merambah ke cakupan yang lebih luas. Hal tersebut turut menjadi tantangan bagi kohesi masyarakat global. Beberapa dampak seperti polarisasi dan fragmentasi sosial serta isu menurunnya kepercayaan juga turut menjadi tantangan terkait dampak masifnya informasi negatif itu.
Media digital melalui algoritma personalisasi cenderung menciptakan echo chambers dan filter bubbles. Hal ini membuat individu hanya terpapar pada pandangan yang memperkuat keyakinan mereka sendiri. Dalam konteks polikrisis, seperti debat sengit seputar konflik geopolitik atau kebijakan iklim memperburuk narasi antarkelompok yang pada dasarnya telah memiliki keyakinan sendiri-sendiri.
Di Indonesia misalnya, perdebatan tentang konflik Israel-Palestina di media sosial seringkali memicu polarisasi. Pengguna media sosial terpecah menjadi kubu pro dan kontra yang sulit berdialog, bahkan antarkelompok yang sebelumnya dianggap homogen sekalipun. Fenomena ini dapat diamati dari beragam kanal media sosial seperti di antaranya di X dan Facebook.
Aliran beragam berita buruk yang tiada henti tersebut, serta ditambah dengan maraknya disinformasi dan misinformasi kian mengikis kepercayaan antarindividu, antarkelompok, dan bahkan kepercayaan terhadap institusi formal (pemerintah, media arus utama, dan bahkan ilmuwan).
Dalam laporan Global Edelman Trust Barometer 2024 menunjukkan bahwa indeks kepercayaan publik terhadap NGO, bisnis, pemerintah, dan media menunjukan bahwa pemerintah dan media dilihat kurang kompeten dan etis daripada NGO dan bisnis.
Dari sudut pandang psikologi sosial, kondisi polikrisis juga memicu menguatnya dinamika in group maupun out group. Dalam situasi ancaman dan ketidakpastian, individu secara naluriah mencari rasa aman dalam identitas kelompok mereka. Hal ini memang dapat memperkuat solidaritas di dalam kelompok, tetapi juga seringkali meningkatkan prasangka dan permusuhan terhadap kelompok luar. Seperti contohnya, di tengah krisis ekonomi global, sentimen anti imigran cenderung meningkat di beberapa negara sehingga memperburuk ketegangan sosial.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/26/1fd940e0-4c1b-44c2-9e17-d765a7675f66_png.png)
Meskipun cenderung menjadi kanal besar bagi informasi negatif, kehadiran media digital juga memberikan peluang bagi kanalisasi berita dan informasi yang positif. Media digital juga memfasilitasi mobilisasi sosial positif seperti halnya aksi kampanye donasi untuk korban bencana kemanusiaan atau gerakan advokasi iklim. Hanya saja, sering kali hal itu hanya berbentuk solidaritas virtual yang tidak selalu diterjemahkan ke dalam aksi nyata atau perubahan struktural berkelanjutan.
Dalam konteks Indonesia, polikrisis yang difasilitasi digitalisasi sangat terasa dampaknya. Selain polarisasi akibat konflik global, isu-isu domestik seperti kenaikan harga bahan pokok akibat inflasi, fenomena PHK, dan kebijakan pemerintah secara cepat memicu kekhawatiran dan perdebatan di media sosial. Dengan tingkat literasi digital masyarakat Indonesia yang rata-rata di bawah angka 4.0 dari skala 5.0 (Survei Indeks Literasi Digital Kominfo) membuat audiens media digital rentan terhadap disinformasi. Hal ini berisiko dapat memperparah kepanikan atau ketidakpercayaan terhadap fakta empiris.
Dampak pemberitaan dan distribusi konten informasi yang didukung digitalisasi dan bahkan kini ditopang oleh keandalan teknologi akal imitasi (AI) akan semakin berdampak pada psikologis audiens. Alih-alih menambah kesiapsiagaan dalam menghadapi berbagai persoalan yang kompleks, yang terjadi justru berpotensi membawa pada mati rasa emosi. Selain itu, tantangan seperti disintegrasi, polariasi, hingga kohesi kelompok juga kian meningkat.
Oleh karena itu, perlu kebijaksanaan bagi para audiesn media digital untuk meningkatkan derajat literasi digitalnya sehingga tak mudah terprovokasi, melakukan penyaringan informasi, serta berbagi informasi yang sudah tervalidasi kebenarannya. Mengasup konten-konten positif agar berimbang dengan informasi negatif yang diterima sehingga empati dan emosi tetap terjaga dalam memberikan makna. (LITBANG KOMPAS)
Penulis:
Budiawan Sidik A, Zikrina RatriEditor:
Budiawan Sidik APenyelaras Bahasa:
Nur Adji