Inggris dan China memulai pemulihan hubungan dan siap bekerja sama. Presiden AS Donald Trump peringatkan Inggris akan bahaya berurusan dengan China.
30 Jan 2026 16:23 WIB · Internasional
AFP/Carl Court/POOL
WASHINGTON, JUMAT — Sejak Rabu pekan ini, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer berkunjung ke China. Selain untuk memulihkan hubungan kedua negara, London juga ingin meningkatkan kerja sama ekonomi dengan Beijing. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menanggapi kunjungan itu dengan mengingatkan Inggris tentang bahaya berurusan dengan China.
Seusai menggelar pertemuan bilateral selama lebih kurang tiga jam dengan Presiden China Xi Jinping, Kamis (29/1/2026), di Balai Agung Rakyat, Beijing, Starmer mengatakan, hubungan Inggris dengan China berada dalam kondisi yang baik dan kuat. Starmer juga mengumumkan manfaat ekonomi yang akan diperoleh dari pemulihan hubungan dengan China.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/30/882e96e454b7c92f64f918456c521cc0-US_PRESIDENT_TRUMP_RETURNS_TO_WASHINGTON_DC_FROM_SWITZERLAND_135494180.jpg)
Pernyataan inilah yang memunculkan reaksi dari Trump. ”Ya, itu sangat berbahaya bagi mereka untuk melakukan itu,” kata Trump kepada wartawan menjelang pemutaran perdana film Melania di Kennedy Center, seperti dikutip BBC.
Selain kepada Inggris, Trump juga melontarkan peringatan senada kepada Kanada. Trump mengatakan, ”(Hubungan dengan China) Itu bahkan lebih berbahaya, menurut saya, bagi Kanada.”
”Kanada tidak dalam kondisi baik. Mereka dalam kondisi sangat buruk dan Anda tidak bisa melihat China sebagai jawabannya,” imbuh Trump.
Sebelumnya pada Minggu (25/1/2026), Trump mengancam akan mengenakan tarif pada Kanada jika negara itu melanjutkan kesepakatan ekonomi dengan China. Kesepakatan ekonomi itu disepakati Kanada dan China dalam kunjungan Perdana Menteri Kanada Mark Carney ke Beijing pertengahan Januari lalu.
Sebagaimana Kanada, Inggris pun tidak terlalu peduli dengan kritikan Trump. Bahkan, kantor PM Inggris mengungkapkan bahwa Washington mengetahui rencana perjalanan dan tujuan perjalanan Starmer ke China.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/01/30/5c6e2f78-248a-4329-90dc-1ecab8ec4a0a.jpg)
Merasa tidak terbebani dengan tekanan Trump, Starmer pun tetap melanjutkan lawatan empat harinya di China. Dalam lawatan itu, Starmer antara lain menghadiri pertemuan Forum Bisnis Inggris-China di Bank of China di Beijing. Dalam agenda itu, Starmer mengatakan bahwa pertemuan yang sangat hangat dengan Xi memberikan kesepahaman sebagaimana diharapkan.
”Kami terlibat secara hangat dan benar-benar membuat beberapa kemajuan nyata karena Inggris memiliki banyak hal untuk ditawarkan,” kata Starmer menambahkan.
”Hangatnya” perjumpaan kedua pemimpin terefleksi pada sejumlah kesepakatan. Keduanya di antaranya menyepakati perjanjian bebas visa dan tarif wiski yang lebih rendah. Selain itu, ada pula rencana investasi senilai 10,9 miliar pound sterling oleh AstraZeneca untuk membangun fasilitas manufaktur di China.
Starmer mengapresiasi kesepakatan-kesepakatan itu. Menurut dia, kebijakan bebas visa dan tarif wiski yang lebih rendah merupakan akses yang sangat penting. ”Simbolis dari apa yang kami capai dalam pertemuan ini. Itulah upaya kita membangun kepercayaan dan rasa hormat timbal balik yang sangat penting,” kata Starmer.
Selain dalam sektor perdagangan, kesepakatan kerja sama lebih lanjut juga dicapai untuk penanganan kejahatan terorganisasi dan imigrasi ilegal.
Ketua Kamar Dagang Inggris di China, Chris Torrens, mengatakan, kunjungan Starmer ke Beijing sebagai berhasil. ”Masuk akal bagi Inggris untuk memperhatikan China karena China adalah salah satu mitra dagang terbesarnya,” kata Torrens kepada BBC.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/01/30/a1905020-2ec6-4489-a7ee-ca72065491a6_jpg.jpg)
Selain Starmer, sejumlah pemimpin Barat juga mendatangi China dalam kurun Desember 2025-Januari 2026. Kunjungan terjadi di tengah ancaman Trump yang berubah-ubah tentang tarif ekspor dan niat Trump untuk menguasai Greenland.
Starmer kepada wartawan di pesawat dalam perjalanan ke China mengatakan, Inggris dapat terus memperkuat hubungan ekonomi dengan China tanpa membuat Trump marah. Hal itu karena sejarah panjang hubungan kerja sama Inggris-AS.
”Hubungan yang Inggris miliki dengan AS adalah salah satu yang terdekat yang kita miliki,” ujar Starmer, seraya menyebutkan area kerja sama Inggris-AS di bidang-bidang seperti pertahanan, keamanan, intelijen, dan perdagangan.
Starmer mengatakan, Inggris tidak perlu memilih antara hubungan yang lebih dekat dengan AS atau dengan China. Ia lalu menyoroti kunjungan Trump ke Inggris pada bulan September 2025 yang membawa masuk investasi AS sebesar 150 miliar pound sterling.
Seusai mengunjungi Beijing, Starmer dijadwalkan mengunjungi Shanghai sebagai tujuan terakhir di China. Setelah itu, Starmer dijadwalkan berangkat ke Tokyo untuk bertemu dengan mitranya dari Jepang, PM Sanae Takaichi.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/01/30/528d94b5-2223-4b8c-9dac-f05f541a77c7_jpg.jpg)
Sebelum Trump memberikan tanggapan atas pernyataan Starmer, Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick sudah lebih dulu melontarkan komentar. Ia mengatakan bahwa upaya Starmer dengan China kemungkinan besar tidak akan membuahkan hasil.
”China adalah eksportir terbesar dan mereka sangat, sangat sulit ketika Anda mencoba mengekspor kepada mereka,” katanya kepada wartawan.
”Jadi, semoga Inggris berhasil mencoba mengekspor ke China. Itu sangat tidak mungkin,” kata Lutnick.
Saat ditanya wartawan apakah Trump akan mengancam Inggris dengan tarif seperti yang dilakukannya terhadap Kanada, Lutnick mengatakan, ”Saya pikir Kanada memainkan hal-hal sedikit berbeda.”
”Mereka mengatakan ada dua kekuatan dunia dan kita akan memilih mana yang ingin kita ajak berdagang, serta hal-hal seperti itu. Kecuali jika Perdana Menteri Inggris menantang AS dan mengatakan hal-hal yang sangat sulit, saya ragu itu akan terjadi,” tambah Lutnick.
Perjalanan Starmer ke China juga menuai kritikan dari anggota parlemen oposisi. Kunjungan ini merupakan kunjungan pertama pemimpin Inggris sejak 2018.
Menteri Dalam Negeri bayangan, Chris Philp, mengatakan, Starmer ”pergi ke Beijing untuk menjilat Presiden Xi”. Ia juga menuduh pemerintah menukar keamanan nasional Inggris dengan ”remah-remah ekonomi” dari meja China. (REUTERS)
Penulis:
Helena Fransisca NababanEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan