Inkonsistensi Manchester United yang Teramat Konsisten

Pemain Everton, Gueye, diusir karena menampar wajah rekannya. Setelah insiden itu, giliran MU yang ditampar realitas setelah kalah dari sepuluh pemain Everton.

25 Nov 2025 07:54 WIB · Olahraga

AP

Oleh Kelvin Hianusa

MANCHESTER, SENIN — Setelah Oktober yang sempurna dengan rekor kemenangan beruntun, Manchester United gagal menang berturut-turut dalam tiga laga selama November. Inkonsistensi akut ”Si Setan Merah” tampak jelas setelah takluk di kandang dari sepuluh pemain Everton.

MU kembali tenggelam dalam ekspektasi di Stadion Old Trafford, Manchester, Selasa (25/11/2025) dini hari WIB. Di tengah kepercayaan diri para pemain yang sangat tinggi berkat empat kemenangan kandang beruntun, Bruno Fernandes dan rekan-rekan justru takluk 0-1 dari tim tamu Everton.

Mirisnya, MU kalah di depan publik sendiri walaupun unggul jumlah pemain. Everton terpaksa tampil dengan sepuluh pemain sejak menit ke-13 setelah gelandang Idrissa Gueye diusir wasit. Di pertengahan babak, tim tamu justru mampu mengejutkan dengan gol dari gelandang Kiernan Dewsbury-Hall.

Itu merupakan kemenangan kedua Everton dalam 33 kunjungan terakhir ke Old Trafford, pertama kali setelah Desember 2013. ”Mereka tim yang lebih baik dengan 11 pemain dan 10 pemain. Kami tidak berada di intensitas yang sama. Mereka pantas menang,” kata Pelatih MU Ruben Amorim.

Insiden tidak normal terjadi saat laga baru berjalan 13 menit. Gueye mendapatkan kartu merah karena bertikai dengan rekannya sendiri, Michael Keane. Mereka berdebat karena kesalahan komunikasi dalam situasi bertahan, lalu Gueye tiba-tiba menampar wajah Keane.

Momentum Everton terancam hancur seketika akibat sikap tidak dewasa dari Gueye. Sebelum kartu merah itu, tim tamu tampil menjanjikan sejak sepak mula. Mereka sangat merepotkan pertahanan MU dengan ancaman di dua sisi sayap sekaligus, lewat Jack Grealish dan Iliman Ndiaye.

Everton's Idrissa Gueye, second left, is held back by teammate Jordan Pickford as he argues with Michael Keane after getting a red card from referee Tony Harrington during the English Premier League soccer match between Manchester United and Everton in Manchester, England, Monday, Nov. 24, 2025. (AP Photo/Dave Thompson)

”Itu momen gila yang seharusnya bisa dihindari. Idrissa sudah meminta maaf saat jeda. Hal terpenting adalah reaksi para pemain setelahnya. Itu tidak bisa dipercaya. Kami sangat mungkin hancur dengan mudah dan kalah begitu saja, tetapi kami malah jadi semakin menyatu,” ujar Dewsbury-Hall.

Alih-alih memanfaatkan keunggulan jumlah pemain, skuad MU justru seperti tertidur. Lini tengah mereka yang tampak berlubang sejak menit pertama kembali berhasil dieksploitasi Everton. Tim tamu memanfaatkannya dengan gol lewat aksi individu Dewsbury-Hall.

Gol itu memperlihatkan betapa buruknya organisasi pertahanan MU. Sudah unggul jumlah, mereka masih gagal menutup ruang umpan ke Dewsbury-Hall dari James Garner. Dua gelandang jangkar MU, Bruno Fernandes dan Casemiro, hanya menyaksikan bola bergerak ke arah Dewsbury-Hall.

Bagi Everton, satu gol sudah cukup untuk bermain aman di sisa laga. Pelatih David Moyes menginstruksikan untuk bertahan total dengan garis sangat rendah. Mereka pun memainkan skema parkir bus, terutama sepanjang paruh kedua. Hanya penyerang Thierno Barry sendirian yang ditinggal di depan.

Amorim menyalakan mode menyerang total selepas turun minum. Dia mengganti bek sayap Noussair Mazraoui dengan gelandang Mason Mount. Mount menjadi gelandang serang dalam formasi 3-4-2-1, sementara Amad Diallo kembali ke sisi sayap untuk mengisi peran Mazraoui.

Setelah bermasalah dengan konsistensi saat bertahan di paruh pertama, MU menunjukkan inkonsistensi dalam penyelesaian akhir. Si Setan Merah menyia-nyiakan total percobaan 17 tembakan pada babak kedua. ”Kualitas di kotak penalti itu penting,” jelas Amorim.

Everton's Kiernan Dewsbury-Hall, left, scores the opening goal during the English Premier League soccer match between Manchester United and Everton in Manchester, England, Monday, Nov. 24, 2025. (AP Photo/Dave Thompson)

MU nyaris hanya mengandalkan umpan-umpan silang. Mereka mengincar penyerang Joshua Zirkzee yang punya tinggi menjulang. Zirkzee menghasilkan dua peluang emas dengan sundulan, tetapi masih bisa digagalkan lewat aksi heroik kiper Jordan Pickford.

Fernandes, kapten tim, juga mendapatkan peluang besar pada pertengahan paruh kedua. Dia berdiri bebas di kotak penalti setelah mendapatkan umpan silang. Namun, eksekusi sang gelandang jauh dari harapan. Tendangannya melambung tinggi di atas mistar gawang Everton.

”Tim lawan membantu kami dengan karti merah. Kami seharusnya bisa melakukan lebih di setiap momen. Kami harus lebih menekan ke sepertiga akhir mereka. Saya merasa ini merupakan kemunduran, terutama dengan cara kami bermain. Semuanya harus tampil lebih baik,” kata Amorim.

Dampak hasil itu, MU harus rela tertahan di peringkat ke-10. Mereka hanya menambah dua poin dalam tiga laga terakhir. Capaian itu jauh berbeda dibandingkan di Oktober lalu saat mereka menang tiga kali dari tiga laga. Pertahanan MU yang sudah kemasukan 19 gol masih jadi masalah terbesar.

Inkonsistensi MU yang sangat konsisten tersebut memperlihatkan tim asuhan Amorim masih dalam fase transisi. Kerangka tim mulai terbentuk, para pemain mulai memahami sistem tiga bek yang dibawa sang pelatih. Namun, sistem itu masih memperlihatkan banyak lubang.

Di sisi lain, Manajer Everton David Moyes tidak terlalu khawatir dengan insiden Gueye. ”Saya cukup suka pemain saya saling berkelahi dan saling kesal (demi kebaikan tim). Jika Anda menginginkan tim dengan mentalitas pemenang, Anda harus memiliki pemain yang bereaksi seperti itu. Tentu saya kecewa pemain kami diusir,” ujarnya. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Emilius Caesar Alexey
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan