Perjananan Janice Tjen di Grand Slam Amerika Serikat Terbuka 2025 berlanjut ke babak kedua. Dia menyingkirkan unggulan dalam debut pada babak utama Grand Slam.
25 Agt 2025 11:53 WIB · Olahraga
Janice Tjen tak hanya mewujudkan mimpi bermain pada babak utama turnamen tenis Grand Slam. Dalam debutnya yang dimulai dari babak kualifikasi Amerika Serikat Terbuka 2025, tunggal putri Indonesia itu memenangi babak pertama dengan mengalahkan petenis unggulan.
Momen tersebut berlangsung di Lapangan 13 Flushing Meadows, New York, Amerika Serikat, Minggu (24/8/2025) siang waktu setempat atau Senin (25/8/2025) dini hari waktu Indonesia. Janice mengalahkan petenis peringkat ke-26 dunia yang menjadi unggulan ke-24, Veronika Kudermetova, dengan skor 6-4, 4-6, 6-4, dalam pertandingan selama 2 jam 12 menit.
Janice menjadi salah satu petenis Asia Tenggara yang memenangi babak pertama AS Terbuka dengan mengalahkan petenis unggulan. Alexandra Eala, petenis Filipina yang untuk ketiga kalinya tampil pada babak utama Grand Slam, menyingkirkan unggulan ke-14, Clara Tauson, 6-3, 2-6, 7-6 (11).
Sebelum mengalahkan Kudermetova, Janice membuat catatan untuk kariernya di arena tenis profesional dan bagi tenis Indonesia. Tiga kemenangan pada babak kualifikasi membuat petenis berusia 23 tahun itu menjadi petenis Indonesia pertama yang lolos ke babak utama Grand Slam setelah Angelique Widjaja di AS Terbuka 2004.
Adapun kemenangan atas Kudermetova membuatnya menjadi petenis Indonesia yang memenangi babak pertama Grand Slam setelah Angelique di Wimbledon 2003.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/25/8a34d168c230f362a4caf81165083784-3e949706d74548e0981ba27e71f80940_0_5cdb3e9676734f69a8db5341334ebbc8.jpg)
Janice mendapat tempat pada babak kualifikasi dengan status petenis peringkat ke-149 dunia. Dia menempati posisi tersebut setelah berada di urutan ke-578 pada awal tahun. Peringkatnya naik berkat enam gelar juara turnamen ITF dari sembilan final. Ditambah dengan gelar juara sejak Juni 2024, Janice mendapat 13 gelar dari 22 final.
Dalam struktur turnamen ITF, kejuaraan untuk pemain putri terdiri dari W15, W35, W50, W75, W100, dan WTA 125 dari tingkat terendah ke tertinggi. Untuk level atas dalam struktur turnamen WTA Tour, turnamen terdiri dari WTA 250, 500, dan 1000. Janice mendapat gelar dari level W15 hingga W50 dan sudah bisa mencapai final W75 dan W100.
Juni 2024 menjadi awal kembalinya petenis kelahiran Jakarta itu ke persaingan profesional setelah vakum sejak Oktober 2022 karena fokus menyelesaikan kuliah di Universitas Pepperdine. Janice lulus pada Mei 2024.
Saat kuliah, Janice tetap bertanding tenis, yaitu di NCAA, kompetisi olahraga tingkat universitas di AS. Meskipun di tingkat mahasiswa, NCAA dikenal sebagai kompetisi dari berbagai cabang olahraga yang sangat kompetitif. Janice menjadi finalis ganda putri NCAA 2024 bersama Savannah Broadus.
Saat dia (Raducanu) juara, saya di universitas dan cedera. Jadi, saya menonton banyak pertandingan. Melihat perjalanannya sangat menginspirasi saya.
Pada tiga pertandingan kualifikasi dan saat melawan Kudermetova, Janice mendapat winner dan menyulitkan lawan dengan servis dan forehand keras. Dia juga bisa memvariasikan pukulan keras dengan slice, pukulan pelan yang membuat bola berputar, untuk mengubah ritme.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/25/ff19d280-4a44-44a5-af53-090ee6a99f99_jpg.jpg)
Atlet peringkat ke-149 dunia itu juga memiliki persentase cukup baik dalam pukulan net. Dari 30 percobaan pukulan net melawan Kudermetova, dia mendapat 20 poin (67 persen), termasuk ketika momen match point. Saat konferensi pers, Janice mengatakan, dia selalu berdiskusi dan berlatih bermain ke dekat net untuk mendapat poin terakhir.
Janice sebenarnya berkesempatan menang dua set ketika unggul 2-0 pada set kedua, tetapi dia kehilangan set itu karena Kudermetova meningkatkan level permainannya.
”Permainan saya pada salah satu service game tidak begitu baik. Saya belajar dari momen itu pada set ketiga, serta berusaha untuk tetap tenang, tidak panik,” ujar Janice yang memenangi poin terakhir melalui winner di depat net.
Setelah ini, Janice akan menghadapi tantangan lebih besar, yaitu melawan juara AS Terbuka 2021, Emma Raducanu. Petenis Inggris ini memenangi babak pertama atas Ena Shibahara 6-1, 6-2.
Raducanu memiliki perjalanan yang sama dengan Janice di AS Terbuka, yaitu bermain sejak babak kualifikasi pada 2021. Dia bahkan membuat kejutan dengan menjadi juara meskipun setelah itu performanya menurun.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/25/ea73bbb91dda7b69f88ae96e5c724efd-2231888870.jpg)
Setelah AS Terbuka 2021, hasil terbaik Raducanu di arena Grand Slam adalah babak ketiga di Australia Terbuka dan Wimbledon 2025. Petenis berusia 22 tahun itu tak pernah mencapai final pada level apa pun.
Raducanu bahkan baru menang lagi di Flushing Meadows sejak juara pada 2021. Di AS Terbuka 2022, dia kalah pada babak pertama, absen pada tahun berikutnya karena cedera, lalu tersingkir di babak pertama pada 2024.
”Ini kemenangan pertama di sini setelah 2021. Jadi, rasanya sangat spesial. Babak pertama selalu sulit, apalagi dalam turnamen Grand Slam. Saya sangat gugup, tetapi senang bisa melaluinya,” kata Raducanu.
Perjalanan Raducanu di AS Terbuka 2021 membuat Janice membayangkan apa yang akan terjadi pada pertemuan mereka. ”Melawan Emma, penonton akan lebih banyak karena dia petenis sangat terkenal dan saya sangat senang mendapat kesempatan ini,” katanya.
Janice mengatakan itu saat konferensi pers di Flushing Meadows, momen yang tak bisa dialami semua petenis di arena Grand Slam. Biasanya, hanya nama-nama besar yang hadir di konferensi pers atau petenis lain yang membuat kejutan dan Janice mendapat kesempatan langka itu pada Grand Slam pertamanya.
Selain bercerita tentang pertandingan babak pertama dan melawan Raducanu, Janice bercerita tentang perjalanannya di tenis profesional, siapa yang mendukungnya, dan tentang hobinya bermain video game.
Berikut wawancara Janice saat konferensi pers yang videonya diunggah di laman resmi AS Terbuka.
Moderator: Selamat Janice. Silakan utarakan pendapatmu tentang pertandingan tadi.
Janice: Saya sangat senang dengan permainan hari ini, bisa mengeksekusi semua yang saya dan pelatih rencanakan.
Bagaimana awal perjalananmu di tenis dan bisa mencapai level seperti sekarang?
Saya bermain tenis karena terinspirasi teman saya yang juga petenis, Priska Madelyn Nugroho. Kami tak hanya teman di tenis, tetapi juga di luar lapangan. Dia bertanya, apakah saya ingin bermain tenis.
Orangtua saya mengatakan agar saya mencobanya, punya aktivitas olahraga agar tidak hanya diam di kamar tanpa mengerjakan apa pun. Itu awal perjalanan saya di tenis.
(Priska adalah petenis Indonesia yang menjuarai ganda putri yunior Grand Slam Australia Terbuka 2020 bersama Eala. Dia pun aktif bermain di tenis profesional dengan dua gelar juara tunggal putri ITF dan dua gelar ganda putri bersama Janice pada 2025).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2020/01/31/AP20031312911277_1580462981.jpg)
Tentang pertandingan hari ini. Kamu unggul pada set kedua, tetapi kehilangan set tersebut. Bagaimana pola pikirmu pada set ketiga? Bisa ceritakan tentang poin terakhir? Kamu mendapatkannya dengan baik melalui pukulan di depan net.
Veronika meningkatkan level permainannya pada set kedua. Permainan saya pada salah satu service game set itu tidak begitu baik. Saya belajar dari momen itu pada set ketiga, serta berusaha untuk tetap tenang, tidak panik.
Tentang poin terakhir melalui pukulan net, saya dan pelatih selalu berdiskusi dan latihan cara itu, peluangnya memang fifty-fifty. Tetapi, karena persentase pukulan net saya cukup bagus, saya mencobanya.
Apa yang kamu lakukan saat Emma Raducanu juara AS Terbuka?
Saat dia juara, saya di universitas dan cedera. Jadi, saya menonton banyak pertandingan. Melihat perjalanannya sangat menginspirasi saya untuk melakukan sebaik mungkin seperti yang dia lakukan. Semua menyukai Emma.
Banyak yang mengatakan permainanmu mirip (Ashleigh) Barty. Apakah kamu pernah mendengar itu? Apakah kamu memang meniru permainannya?
Ya, saya mendengarnya. Banyak yang membandingkan permainan saya dengan Barty, terutama dalam variasi pukulan dengan slice. Saya mengidolakannya dan mencoba meniru beberapa pukulannya yang cocok untuk saya dan yang tidak, serta mencoba memahami permainannya. Saya mencoba bermain seperti itu sejak dulu dan pelatih di universitas membantu mengembangkannya.
(Ashleigh Barty adalah petenis Australia yang bermain di arena profesional pada 2010-2022 yang menjuarai Perancis Terbuka 2019, Wimbledon, 2021, dan Australia Terbuka 2022. Barty terkenal dengan pola permainan variatif dibandingkan petenis lain. Salah satu senjatanya adalah slice yang membuat bola melayang pelan dengan putaran cepat dan jatuh dekat net).
Kamu dari Indonesia yang sudah lama tidak punya petenis tunggal di Grand Slam. Bagaimana pendapatmu?
Sangat berarti bagi saya. Saya bangga bisa melakukan ini untuk negara saya. Semoga keberadaan saya di sini bisa menginspirasi lebih banyak petenis. Semoga lebih banyak anak yang bermain tenis dan percaya bahwa mereka juga bisa berada di jalan seperti ini.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/25/b7123cdd24cffb12641e351bc45d3966-2231867297.jpg)
Sejak bermain di sini, apakah banyak pesan yang kamu terima?
Ya, saya mendapat banyak notifikasi dan pesan. Saya mencoba memilah dan membacanya. Senang dengan pesan-pesan yang mendukung saya.
Bagaimana emosimu dengan kemenangan ini dan bagaimana kamu melihat pertandingan berikutnya melawan Emma?
Saya masih belum memproses emosi dan semua yang terjadi, tapi saya sangat senang bisa meneruskan perjalanan di sini. Di lapangan, saya sedikit emosional dan menangis sedikit. Pasti rasanya sangat senang.
Melawan Emma, penonton akan lebih banyak. Dia petenis sangat terkenal dan saya sangat senang mendapat kesempatan ini.
Apakah pernah merasakan emosi seperti ini sebelumnya? Apa yang dibicarakan dengan pelatih setelah pertandingan?
Sepertinya belum pernah seperti ini. Kami belum berbicara banyak, dia hanya bilang bangga pada saya dan bilang senang bahwa game plan kita berjalan.
Kamu suka bermain video game. Ada yang sedang kamu mainkan saat ini?
Saat ini, saya dan pelatih suka bermain Mario Kart. Saya memainkannya sejak muda.
Bagaimana dukungan untukmu sebagai petenis di Indonesia? Apakah ada dukungan dari federasi? Bagaimana dengan keluarga?
Dalam menjalani proses untuk berkembang, orangtua sangat mendukung. Perjalanan saya menuju profesional sangat tidak mudah pada setiap langkahnya. Ini adalah olahraga mahal, kami harus melakukan perjalanan setiap saat. Orangtua mengarahkan saya untuk berkembang dalam tenis melalui universitas.
Apa yang kamu pelajari di universitas? Bagaimana membuat keputusan untuk tenis profesional?
Saya belajar sosiologi. Pada masa kontemplasi, saya mempertimbangkan apakah harus terjun ke tenis profesional atau tidak. Pada akhirnya, saya memutuskan untuk mencoba dan pelatih di Pepperdine mengatakan saya harus mencoba setidaknya untuk dua tahun. Saya mempercayai mereka dan di sinilah saya sekarang.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2023/01/23/44c71951-453f-4ffe-af84-2f6d768957c4.jpg)
Saat ini, Indonesia mempunya petenis lain di tur profesional, Aldila Sutjiadi. Bagaimana hubunganmu dengan dia? Kalau tidak salah kalian memenangkan medali perunggu ganda putri Asian Games.
Saya sangat dekat dengan Aldila. Dia selalu menjadi kakak yang baik buat saya. Dia menjaga dan membantu saya, juga salah satu orang yang mengatakan bahwa saya harus mencoba bermain tenis profesional. Saya sangat senang menjadi petenis Indonesia selain Aldila yang ada di sini.
(Janice mendapat medali perunggu saat berpasangan dengan Aldila pada Asian Games Hangzhou 2022. Itu menjadi satu-satunya medali Indonesia dari cabang tenis).
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan