Inter Milan di Bawah Bayang-bayang Ramalan Kuno Liga Champions

Inter Milan memiliki segala modal untuk memenangi final Liga Champions. Namun, ada ramalan kuno, yang selalu terbukti tepat, menjadi penghalang besar mereka.

31 Mei 2025 12:37 WIB · Olahraga

Oleh I Gusti Agung Bagus Angga Putra

Persiapan Inter Milan jelang final Liga Champions Eropa menghadapi Paris Saint-Germain di Stadion Allianz Arena, Muenchen, Minggu (1/6/2025) dini hari WIB, bisa dikatakan telah mencapai 100 persen. Seluruh pemain yang cedera sudah kembali pulih.

Fokus tim pun sepenuhnya tertuju ke final seusai gagal menghalangi Napoli di puncak klasemen Liga Italia. Akan tetapi, persiapan Inter sedikit terusik dengan adanya ramalan atau mitos kuno di Liga Champions.

Ramalan kuno itu menyebutkan, kota Muenchen bukanlah tempat yang ramah untuk tim-tim yang pernah menjadi juara. Sepanjang sejarahnya, setiap kali final Liga Champions diselenggarakan di Muenchen, selalu muncul juara baru. Fakta ini tentunya kurang menguntungkan bagi Inter yang sudah pernah menjuarai Liga Champions sebanyak tiga kali.

Final Liga Champions tercatat pernah empat kali dimainkan di Muenchen. Klub pertama yang memulai mitos atau ramalan kuno ini adalah Nottingham Forest saat menjadi juara pada 1979 seusai mengalahkan Malmo. Olympique Marseille melanjutkan mitos itu kala menjungkalkan AC Milan di Muenchen pada 1993.

Pelatih Inter Milan Simone Inzaghi (tengah) berbicara dengan para pemainnya saat sesi latihan jelang final Liga Champions melawan PSG di Muenchen, Sabtu, Jumat (30/5/2025).

Tim juara baru lainnya yang merasakan mitos Muenchen adalah Borussia Dortmund yang mengalahkan Juventus di final pada 1997. Pertandingan yang pada akhirnya memperkuat mitos tidak lain ketika Chelsea meraih gelar Liga Champions pertama sepanjang sejarah dengan mengalahkan Bayern Muenchen.

Kemenangan Chelsea di luar prediksi mengingat Muenchen termasuk tim yang ditakuti saat itu dan memainkan final di kandang sendiri.

Dengan adanya ramalan atau mitos kuno tersebut, PSG menjadi lebih difavoritkan memenangi final. Hingga saat ini, belum sekali pun PSG menjuarai Liga Champions.

Selain itu, ada kepercayaan lama yang mengakar kuat di Liga Champions yang menyebutkan bahwa suatu tim harus merasakan pahitnya kegagalan di final terlebih dulu sebelum merasakan manisnya juara. PSG telah melalui kesengsaraan saat kalah dari Bayern Muenchen pada final edisi 2020.

”Ada banyak rasa percaya diri di tim kami. Dalam filosofi kami dan dalam rencana permainan yang akan kami terapkan besok. Semua yang telah kami lalui musim ini, semua pertandingan yang telah kami mainkan, semua kesulitan yang kami hadapi telah mempersiapkan kami untuk kesempatan ini, telah memungkinkan kami untuk menghadapi pertandingan ini dengan percaya diri,” ujar kapten PSG, Marquinhos, Sabtu (31/5/2025).

APTOPIX Germany Soccer Champions League Final

Meski lebih diunggulkan, Pelatih PSG Luis Enrique mewaspadai Inter yang, menurut dia, berbeda dengan kebanyakan tim besar Eropa lainnya. Di bawah arahan Simone Inzaghi, Inter menjelma menjadi tim yang amat cair. Walaupun sepanjang musim terbiasa dengan formasi 3-5-2, mereka bisa dengan mudah mengubah-ubah formasi sesuai kebutuhan.

Dalam beberapa pekan belakangan, Inzaghi telah membuat beberapa perubahan taktis dengan mengubah formasi 3-5-2 menjadi 3-4-2-1. Dalam formasi baru itu, Nicola Zalewski mendapat peran bebas di belakang penyerang. Skema itu berjalan sukses seiring kemenangan atas Torino dan Como. Perubahan ini sangat mungkin kembali diterapkan Inzaghi untuk mengejutkan PSG.

”Inter sedikit berbeda dengan banyak tim lain karena mereka memiliki dua penyerang murni di lini depan, seperti Marcus Thuram dan Lautaro Martinez,” kata Enrique.

”Tujuan kami, seperti biasa, adalah mempersiapkan pertandingan dengan cara terbaik sehingga kami bisa menjadi tim yang lebih baik. Untuk melakukan itu, kami harus menguasai bola, tidak ada cara lain untuk mencapainya,” lanjut Enrique.

APTOPIX Germany Soccer Champions League Final

Manfaatkan ”set piece”

Walau kurang diunggulkan, pada laga final nanti Inter setidaknya bisa melakukan perlawanan keras dengan senjata rahasia mereka, yakni eksekusi set piece atau bola mati. Musim ini Inter mencetak 32,9 persen gol mereka di Liga Italia dari skema bola mati.

Di Liga Champions, empat dari sembilan gol terakhir inter berasal dari tendangan sudut, termasuk saat menyingkirkan Barcelona di semifinal.

Kemampuan memanfaatkan bola mati menyebabkan Inter acap kali bisa mencetak gol di saat-saat genting. Hal ini pula yang menyebabkan ”Nerazzurri” berkali-kali bisa mematahkan prediksi, termasuk dari Superkomputer Opta yang dikenal cukup akurat memprediksi peluang.

Contoh yang paling fenomenal adalah saat mereka menyingkirkan Barca. Setelah hasil imbang 3-3 pada laga pertama semifinal, Superkomputer Opta memprediksi Inter hanya memiliki peluang 44 persen untuk melaju ke final. Namun, Inter menjungkirbalikkan prediksi dengan menang 7-6 pada babak perpanjangan waktu.

Inter Milan's Marcus Thuram, right, and Inter Milan's Marko Arnautovic smile during a training session ahead of the Champions League final soccer match between Paris Saint-Germain and Inter Milan in Munich, Germany, Friday, May 30, 2025. (AP Photo/Luca Bruno)

”Kami telah meningkat sebagai sebuah tim, menghadapi lawan-lawan kuat di atmosfer yang sangat sulit. Mengalahkan tim-tim yang memiliki catatan tak terkalahkan yang panjang. Inter mendapatkan respek sepanjang kompetisi, bekerja keras, menundukkan kepala, dan fokus pada diri sendiri. Sekarang kami berkesempatan membawa pulang trofi ini setelah sekian lama dan menginginkan penampilan yang sempurna,” tutur kapten Inter, Lautaro Martinez, dikutip dari Football Italia.

Lautaro sedang berusaha membebaskan timnya dari rasa inferior akibat ramalan kuno Liga Champions. Apa yang dia katakan bisa membakar kembali semangat rekan-rekannya. Bagaimanapun, hasil akhir bukan ditentukan ramalan, melainkan kerja keras tim di lapangan.


Kerabat Kerja

Penulis:

I Gusti Agung Bagus Angga Putra
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .