BYD menargetkan penggunaan komponen lokal hingga 60 persen mulai Januari 2027. Benar demikian?
04 Sep 2026 08:10 WIB · Ekonomi & Bisnis
KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA
SUBANG, KOMPAS — BYD berjanji menggunakan hingga 60 persen komponen lokal dalam produksi kendaraan listriknya di Indonesia mulai Januari 2027. Perusahaan produsen otomotif listrik asal China itu juga berjanji akan menggandeng usaha-usaha dalam negeri sebagai bagian rantai pasoknya.
”Tahun 2027 sudah semakin dekat. Dengan persiapan saat ini, kami sangat optimistis pemenuhan TKDN 60 persen dapat direalisasikan mulai Januari 2027,” kata Presiden Direktur PT BYD Motor Indonesia Eagle Zhao dalam pidato pada peresmian pabrik perakitan BYD di Kabupaten Subang, Jawa Barat, Kamis (3/9/2026).
Saat ini, lebih dari 5.000 teknisi telah bekerja sama dengan BYD. Jumlah tersebut ditargetkan meningkat menjadi sekitar 20.000 teknisi.
Hadir dalam acara itu antara lain Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, dan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.
Zhao menjelaskan, BYD juga terus menjajaki kerja sama untuk memperluas penggunaan komponen dan aktivitas produksi di dalam negeri. Selain meningkatkan kandungan lokal, perusahaan berencana terus memperbesar investasi di Indonesia.
Ia berjanji, BYD akan memperluas ekosistem kendaraan listrik melalui kerja sama dengan berbagai mitra lokal. Pendalaman industri kendaraan listrik juga akan diikuti dengan pengembangan sumber daya manusia.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/03/726a2d9fbde51790477f294e8011f38f-WhatsApp_Image_2026_09_03_at_10.42.02_1_.jpeg)
Menurut Zhao, BYD telah mengirimkan teknisi dan insinyur lokal ke kantor pusat untuk memperoleh pelatihan mengenai teknologi kendaraan listrik BYD. Perusahaan berjanji akan terus meningkatkan kapasitas tenaga kerja lokal agar mampu menguasai dan mengembangkan teknologi yang digunakan dalam proses manufaktur.
Saat ini, lebih dari 5.000 teknisi telah bekerja sama dengan BYD. BYD menargetkan jumlah itu meningkat menjadi sekitar 20.000 teknisi.
”Tahun lalu, ratusan teknisi dan insinyur lokal (Indonesia) dikirim ke kantor pusat kami untuk belajar dan mendapatkan pelatihan mengenai teknologi kami. Ini bukan hanya permulaan. Kami akan terus melakukannya,” kata Zhao.
BYD, Zhao melanjutkan, juga menggandeng salah satu sekolah di Jawa Barat untuk menyiapkan lulusan yang dapat mengikuti pelatihan di BYD. Perekrutan tenaga kerja dari perguruan tinggi juga terus dilakukan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/06/09/2bd2b0f2-9689-4683-b662-0fcaf3b34dd0.jpg)
Luhut mengatakan, kehadiran BYD di Indonesia merupakan momentum penting karena perusahaan tersebut bisa terhubung dengan ekosistem industri baterai yang telah dibangun melalui program hilirisasi mineral.
”Ini memang momentum yang penting bagi BYD karena mereka membangun ekosistem. Awalnya dimulai dari kita hilirisasi nikel dulu untuk membangun ekosistemnya. Jadi, baterai itu ada prekursor, katoda, semua,” kata Luhut dalam peresmian pabrik BYD di Subang, Jawa Barat, Kamis (3/9/2026).
Menurut dia, pembangunan industri kendaraan listrik perlu dilakukan secara terintegrasi, mulai dari pengolahan bahan baku, produksi komponen dan baterai, hingga perakitan kendaraan.
Dengan demikian, Indonesia tidak hanya menjadi lokasi pemasaran produk kendaraan listrik, tetapi juga menjadi basis produksi yang memiliki nilai tambah lebih besar.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/03/262f3ed0487f8a3a4120acb888189df6-WhatsApp_Image_2026_09_03_at_11.56.02.jpeg)
Luhut menilai, BYD memiliki teknologi kendaraan listrik yang maju dan telah berkembang sehingga menjadi salah satu merek kendaraan listrik yang kuat di pasar Indonesia.
BYD juga membuka peluang kerja sama dengan perusahaan Indonesia melalui skema usaha patungan atau joint venture. Kerja sama tersebut diharapkan memperluas keterlibatan industri nasional dalam rantai pasok kendaraan listrik.
Luhut mencontohkan pengembangan kendaraan komersial, termasuk bus dan truk, yang dinilai dapat memperluas basis produksi kendaraan listrik di Indonesia. Perkembangan itu, menurut dia, harus diarahkan agar semakin banyak komponen dan proses produksi yang berasal dari dalam negeri.
Luhut melanjutkan, Indonesia tidak ingin kembali berada pada posisi sebagai pasar bagi produk industri asing. Investasi besar di sektor otomotif harus menciptakan industri baru di sekitarnya sehingga memberikan dampak ekonomi yang lebih luas.
”Kita tidak hanya jadi market. Kita tidak mau, kita harus menjadi bagian daripada ekosistem itu,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/03/a48a9ab2f5fc05d5d1f7c2fe2012b7e6-IMG_20260903_201900.jpg.jpeg)
Pemerintah pun mendorong peningkatan kandungan lokal dengan tetap mempertimbangkan kepentingan investor. Menurut Luhut, kebijakan industri tidak boleh hanya membebankan kewajiban kepada perusahaan, tetapi harus menciptakan manfaat bagi kedua pihak.
Investasi BYD di Subang dengan luas kawasan mencapai 126 hektar itu telah menciptakan lebih dari 5.000 lapangan kerja. Oleh karena itu, Luhut meminta pemerintah daerah dan pemerintah pusat menjaga iklim usaha agar perusahaan dapat terus tumbuh dan berekspansi.
Luhut juga mendorong pengembangan industri daur ulang baterai kendaraan listrik. Menurut dia, kemampuan mendaur ulang baterai akan menjadi bagian penting dari ekosistem kendaraan listrik karena memungkinkan material berharga, termasuk nikel dan litium, kembali dimanfaatkan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/03/268facb4020bd2723d7ee2ba118833c9-WhatsApp_Image_2026_09_03_at_20.33.15.jpeg)
Teknologi BYD saat ini memungkinkan pemulihan material dari baterai bekas dalam tingkat yang sangat tinggi. ”Recycling baterai itu saya kira penting sehingga nanti penggunaan nikel yang ada di kita bisa kita ekstrak lagi dari mobil atau baterai-baterai dari mobil yang ada di sini,” ujarnya.
Dengan demikian, menurut Luhut, pembangunan pabrik BYD di Subang tidak semata-mata harus dipandang sebagai investasi otomotif. Fasilitas tersebut diharapkan menjadi salah satu simpul dalam pembangunan ekosistem industri baru berbasis kendaraan listrik.
”Saya melihat pabrik BYD bukan hanya sebagai investasi otomotif. Ini adalah bagian dari pembangunan ekosistem industri baru,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/03/c894d163a9d908d7c03c3ba46950f3ca-IMG_20260903_202727.jpg.jpeg)
Sementara itu, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, kendaraan listrik di Indonesia saat ini mengalami perkembangan yang positif.
Hal itu terlihat dari data pada semester I-2026. Kendaraan listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV) mencatat penjualan 70.095 unit dengan pangsa pasar 16,06 persen, sedangkan kendaraan hibrida atau hybrid electric vehicle (HEV) mencapai 40.405 unit dengan pangsa pasar 9,26 persen.
Produk-produk BYD juga telah memiliki nilai TKDN antara 40,8 persen dan 47 persen.
”Pemerintah tentunya akan terus mendukung perkembangan tersebut melalui kebijakan yang mendorong terciptanya pasar sekaligus memperkuat struktur industri nasional,” kata Agus.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/06/09/db1e7da2-64bf-4a90-ac6f-b970617ed66b.jpg)
Terkait manufaktur, Agus melanjutkan, pemerintah terus mendorong peningkatan penggunaan komponen dalam negeri melalui kebijakan tingkat komponen dalam negeri (TKDN).
Peta jalan pengembangan Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) menetapkan peningkatan nilai minimum TKDN secara bertahap. Tahapannya minimal 40 persen hingga 2026, minimal 60 persen pada 2027–2029, dan minimal 80 persen mulai 2030.
”Produk-produk BYD juga telah memiliki nilai TKDN antara 40,8 persen dan 47 persen,” kata Agus.
Selama periode 2024 sampai dengan semester I-2026, BYD telah mencatatkan penjualan sebanyak 93.869 unit kendaraan. ”Capaian tersebut menempatkan BYD sebagai pemimpin pasar kendaraan bermotor listrik berbasis baterai roda empat, dengan pangsa pasar sebesar 43,2 persen,” kata Agus.
Penulis:
Aguido AdriEditor:
FX Laksana Agung Saputra, Agnes TheodoraPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra