Investigasi Awal Perkuat Dugaan Tembakan Rudal Rusia di Balik Jatuhnya Azerbaijan Airlines

Jika temuan awal itu terkonfirmasi, ini insiden jatuhnya pesawat sipil kedua di tengah konflik Ukraina-Rusia setelah Malaysia Airlines MH17 pada tahun 2014.

27 Des 2024 11:18 WIB · Internasional

Oleh Irene Sarwindaningrum, Muhammad Samsul Hadi

BAKU, JUMAT — Temuan sementara hasil penyelidikan otoritas Azerbaijan, Kamis (26/12/2024), mengungkapkan, pesawat Azerbaijan Airlines J2-8243 jatuh akibat tembakan sistem pertahanan udara Rusia yang berupaya menangkis serangan pesawat-pesawat nirawak (drone) Ukraina ke Rusia selatan.

Temuan awal itu diungkapkan empat sumber yang mengetahui temuan penyelidikan Azerbaijan kepada kantor berita Reuters. Hal serupa juga dilaporkan media Azerbaijan dan Euronews.

Pesawat Embraer 190 milik Azerbaijan Airlines jatuh di dekat kota Aktau, Kazakhstan, Rabu (25/12/2024), dalam penerbangan dari Baku, Azerbaijan, menuju Grozny, Chechnya, Rusia. Sebanyak 38 orang dari 67 orang dalam penerbangan itu, termasuk empat awak pesawat, tewas. Dari 29 penumpang selamat, semua mengalami luka-luka.

Dalam insiden tersebut, berdasarkan data pelacakan rute penerbangan, pesawat tersebut mengubah arah dari tujuan awal hingga ratusan kilometer, menyeberang Laut Kaspia, dan jatuh di daratan seberang, sekitar 3 kilometer dari kota Aktau. Belum ada penjelasan dari pejabat resmi, mengapa pesawat sampai terbang berubah dari jalur menuju Grozny hingga menyeberangi Laut Kaspia.

Infografik Kecelakaan Pesawat Azerbaijan Airlines

Salah satu sumber di Azerbaijan mengatakan, hasil penyelidikan awal memperlihatkan pesawat tersebut dihantam sistem pertahanan udara Rusia, Pantsir-S, sementara perangkat komunikasinya lumpuh akibat pengacakan sinyal elektronik, saat pesawat mendekati Grozny.

”Tak seorang pun mengklaim bahwa (insiden) itu dilakukan secara sengaja. Meski demikian, mempertimbangkan fakta-fakta yang telah ditemukan, Baku berharap Rusia mau mengakui penembakan pesawat Azerbaijan tersebut,” ujar sumber tersebut.

Tiga sumber lainnya mengonfirmasi konklusi awal temuan penyelidikan otoritas Azerbaijan itu. Kementerian Pertahanan Rusia tidak memberikan tanggapan saat diminta komentar mengenai hal tersebut.

Juru bicara Kepresidenan Rusia, Dmitry Peskov, seperti dikutip Euronews, mengatakan, ”Setiap insiden penerbangan harus diselidiki oleh otoritas-otoritas khusus. Adalah hal yang prematur melontarkan hipotesis-hipotesis sebelum penyelidikan selesai. Kita pertama-tama harus memberi kesempatan pada pihak-pihak terkait melaksanakan penyelidikan.”

Insiden Azerbaijan Airlines J2-8243 mengingatkan kasus jatuhnya pesawat Malaysia Airlines MH17 di wilayah Donetsk, Ukraina timur, pada 17 Juli 2014. Kala itu, Boeing 777 MH17 berangkat dari Amsterdam, Belanda, dan terbang ke Kuala Lumpur, Malaysia.

Infografik MH17 Pesawat Malaysia Airlines Jatuh Ditembak di Ukraina

Penyelidikan Belanda pada tahun 2015 menyatakan pesawat itu jatuh karena tembakan rudal BUK buatan Rusia yang ditembakkan dari wilayah yang dikuasai oleh pemberontak separatis. Keseluruhan 298 penumpang dan awak pesawat tewas.

Namun, Kremlin telah membantah seluruh tuduhan terlibat dalam serangan tahun 2014 yang terjadi beberapa tahun sebelum invasi Rusia ke Ukraina itu. Otoritas Malaysia juga tak pernah secara resmi menuduh Rusia terkait dengan jatuhnya MH17.

Ingatkan agar tak berspekulasi

Hingga kini, otoritas di Azerbaijan, Kazakhstan, dan Rusia belum mengungkapkan secara resmi soal kemungkinan penyebab jatuhnya Azerbaijan Airlines. Saat berbicara pada konferensi pers, Rabu (25/12/2024), Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev mengatakan, terlalu dini berspekulasi tentang penyebab jatuhnya pesawat.

Ia menyebut faktor cuaca sebagai penyebab pesawat mengubah jalur penerbangan dari rencana awal. ”Menurut informasi yang diberikan kepada saya, pesawat mengubah rute antara Baku dan Grozny karena kondisi cuaca buruk dan menuju Bandar Udara Aktau, lokasi jatuhnya pesawat sebelum mendarat,” kata Aliyev.

Otoritas penerbangan sipil Rusia, Rosaviatsia, mengatakan bahwa informasi awal menunjukkan bahwa pilot dialihkan ke Aktau setelah pesawat tabrakan dengan burung. Tabrakan dengan burung itu menyebabkan keadaan darurat di dalam pesawat.

Wakil Perdana Menteri Kazakhstan Qanat Bozymbaev mengatakan, dia tidak dapat mengonfirmasi atau membantah tesis bahwa pertahanan udara Rusia menjatuhkan pesawat tersebut.

Ketika ditanya tentang kemungkinan bahwa pertahanan udara Rusia menembak jatuh pesawat tersebut, jaksa transportasi Kazakhstan untuk wilayah tempat pesawat tersebut jatuh mengatakan bahwa penyelidikan belum mencapai kesimpulan yang pasti.

Cadets of the aviation school lay flowers in memory of victims of the Azerbaijan Airlines' Embraer 190 that crashed near the Kazakhstan's airport of Aktau, at the Heydar Aliyev International Airport outside Baku, Azerbaijan, Thursday, Dec. 26, 2024. (AP Photo)

Juru bicara parlemen Kazakhstan, Maulen Ashimbayev, juga memperingatkan agar tidak terburu-buru mengambil kesimpulan berdasarkan foto-foto pecahan pesawat. Ia menggambarkan tuduhan penembakan sistem pertahanan udara sebagai tidak berdasar dan tidak etis.

Meski demikian, seorang anggota parlemen Azerbaijan, Rasim Musabekov, telah menuding Moskwa. Kepada kantor berita resmi negaranya, Turan, ia menyebut pesawat tersebut ditembak saat terbang di angkasa di atas Grozny. Ia mendesak Moskwa meminta maaf.

”Mereka yang melakukan hal ini harus menghadapi dakwaan kriminal,” kata Musabekov, seperti dikutip Turan.

Ia menambahkan, para korban juga harus diberikan kompensasi. “Jika hal itu tidak dilakukan, hubungan (kedua negara) akan terdampak,” ujar Musabekov.

Pada Kamis (26/12/2024), Azerbaijan berduka atas korban kecelakaan dengan mengibarkan bendera nasional setengah tiang dan mengheningkan cipta seluruh negeri. Selama waktu mengheningkan cipta, lalu lintas berhenti pada siang hari dan sirene dikumandangkan dari kapal dan kereta api.

Menurut pejabat Kazakhstan, penumpang Azerbaijan Airlines dalam insiden tersebut adalah 42 warga negara Azerbaijan, 16 warga negara Rusia, 6 warga negara Kazakh, dan3 warga negara Kirgistan. Kementerian Darurat Rusia pada hari Kamis menerbangkan sembilan korban selamat dari Rusia ke Moskwa untuk mendapatkan perawatan.

Duta Besar RI untuk Kazakhstan M Fadjroel Rachman, melalui pernyataan yang dirilis dalam rekaman video, mengonfirmasi bahwa tidak ada WNI dalam daftar penumpang pesawat tersebut.

Workers carry a coffin with a body of a victim from a medical plane after the Azerbaijani Airline crashed, near the Kazakhstani city of Aktau, upon their arrival at the Heydar Aliyev International Airport outside Baku, Azerbaijan, Thursday, Dec. 26, 2024. (AP Photo)

Analisis pengamat

Sejumlah penilaian pakar penerbangan juga menguatkan dugaan bahwa tembakan pertahanan udara Rusia mengakibatkan jatuhnya pesawat Azerbaijan Airlines. Mereka mengatakan, lubang yang terlihat di bagian ekor pesawat dapat mengindikasikan kemungkinan pesawat itu terkena serangan sistem pertahanan udara Rusia yang menangkis serangan drone Ukraina.

Sebelum kecelakaan itu, pesawat nirawak Ukraina menyerang Grozny, ibu kota Republik Chechnya Rusia, dan wilayah lain di Kaukasus Utara negara itu. Seorang pejabat di Chechnya mengatakan, serangan pesawat nirawak lain di wilayah itu berhasil ditangkis pada Rabu meskipun otoritas federal tidak melaporkannya.

Menurut Mark Zee dari OPSGroup, analisis foto pecahan pesawat yang jatuh menunjukkan bahwa pesawat itu hampir pasti terkena rudal permukaan ke udara atau SAM. OPSGroup merupakan lembaga pemantau wilayah udara dan bandara dunia untuk memetakan risiko.

”Masih banyak yang harus diselidiki, tetapi pada tingkat tinggi kami memperkirakan kemungkinan tersebut adalah serangan SAM terhadap pesawat itu berada di kisaran 90-99 persen,” kata Zee, Kamis (26/12/2024).

Emergency specialists work at the crash site of an Azerbaijan Airlines passenger jet near the western Kazakh city of Aktau on December 25, 2024. (Photo by Issa Tazhenbayev / AFP)

Firma keamanan penerbangan yang berkantor pusat di Inggris, Osprey Flight Solutions, memperingatkan kliennya bahwa pesawat Azerbaijan Airlines kemungkinan ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara militer Rusia.

Osprey memberikan analisis untuk maskapai yang masih terbang ke Rusia setelah maskapai Barat menghentikan penerbangan mereka selama perang.

CEO Osprey Andrew Nicholson mengatakan, perusahaan telah mengeluarkan lebih dari 200 peringatan mengenai serangan pesawat nirawak dan sistem pertahanan udara di Rusia selama perang.

”Insiden ini adalah pengingat yang jelas tentang mengapa kami melakukannya,” kata Nicholson dalam pernyataan yang diunggah secara daring.

Quote

Masih banyak yang harus diselidiki, tetapi pada tingkat tinggi kami memperkirakan kemungkinan tersebut adalah serangan SAM terhadap pesawat itu berada di kisaran 90-99 persen.

Menurut penilaian ahli militer independen Rusia, Yan Matveyev, foto ekor pesawat yang jatuh menunjukkan kerusakan yang sesuai dengan pecahan peluru dari rudal permukaan ke udara kecil, seperti sistem pertahanan udara Pantsir-S1 buatan Rusia. ”Sepertinya bagian ekor pesawat rusak oleh beberapa pecahan rudal,” katanya.

Menurut Matveyev, kecelakaan itu seharusnya dapat dihindari. Sejauh ini belum jelas alasan pilot memutuskan untuk terbang ratusan mil ke arah timur melintasi Laut Kaspia, bukannya mencoba mendarat di bandara yang lebih dekat di Rusia setelah pesawat itu tertembak.

Ia menduga, mungkin beberapa sistem pesawat masih berfungsi selama beberapa waktu sehingga kru yakin mereka dapat berhasil dan mendarat dengan normal. Dugaan lain menyebutkan, kru juga dapat menghadapi pembatasan untuk mendarat di tempat lain di Rusia sehingga memutuskan terbang melintasi Laut Kaspia.

In this handout picture released by Kazakhstan's emergency situations ministry, emergency specialists work at the crash site of an Azerbaijan Airlines passenger jet near the western Kazakh city of Aktau on December 25, 2024. (Photo by Handout / Kazakhstan's emergency situations ministry / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT "AFP PHOTO / Kazakhstan's emergency situations ministry / handout" - NO MARKETING NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS

Caliber, situs berita Azerbaijan, juga mengklaim bahwa pesawat itu ditembaki oleh sistem pertahanan udara Pantsir-S Rusia saat mendekati Grozny. Situs itu mempertanyakan mengapa otoritas Rusia tak menutup bandara meskipun ada serangan pesawat nirawak di daerah itu.

Caliber juga mempertanyakan mengapa otoritas Rusia tidak mengizinkan pesawat itu melakukan pendaratan darurat di Grozny atau bandara Rusia lainnya di dekatnya ada serangan.

Adanya serangan pesawat nirawak pada hari dan wilayah yang sama dengan jatuhnya pesawat terkonfirmasi dengan pernyataan Kepala Dewan Keamanan Chechnya Khamzat Kadyrov. Ia mengatakan, pertahanan udara Chechnya menjatuhkan pesawat nirawak yang menyerang wilayah itu pada hari jatuhnya pesawat.

The wreckage of Azerbaijan Airlines Embraer 190 lays on the ground near the airport of Aktau, Kazakhstan, Wednesday, Dec. 25, 2024. (AP Photo)

Wilayah ”drone”

Drone militer Ukraina telah berulang kali menargetkan wilayah selatan Rusia dalam beberapa bulan terakhir. Serangan itu ditanggapi Rusia dengan meluncurkan pertahanan udaranya untuk menangkis serangan Ukraina itu.

Sebelum pesawat Azerbaijan Airlines jatuh, pada Rabu (25/12/2024), Kementerian Pertahanan Rusia telah melaporkan jatuhnya 59 drone Ukraina di beberapa wilayahnya.

Beberapa dilaporkan ditembak jatuh di wilayah udara tertutup di atas wilayah yang berbatasan dengan Ukraina, termasuk Laut Azov. Dilaporkan pula, karena aktivitas tersebut, operasi penerbangan ditangguhkan sementara di Bandara Kazan, Rusia.

Selain itu, data pelacakan penerbangan ADS-B yang tersedia untuk umum menunjukkan bahwa pesawat Azerbaijan itu mengalami gangguan GPS selama penerbangannya di atas Rusia barat daya.

Rusia diketahui menggunakan peralatan gangguan elektronik canggih untuk membingungkan lokasi dan sistem komunikasi drone Ukraina. Sejumlah sistem pertahanan udara juga telah dikerahkan untuk menembak jatuh drone tersebut.

Pada Kamis, seorang pejabat AS yang tak disebut identitasnya mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa ada indikasi awal bahwa sistem antipesawat Rusia mungkin telah menyerang pesawat tersebut.

Terkait hal tersebut, Kanada mengatakan sangat prihatin dengan laporan bahwa pertahanan udara Rusia mungkin telah menyerang pesawat tersebut.

”Kami meminta Rusia untuk mengizinkan penyelidikan yang terbuka dan transparan atas insiden tersebut dan menerima temuannya,” kata Kementerian Luar Negeri Kanada dalam sebuah pernyataan di X. (AP/AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Irene Sarwindaningrum, Muhammad Samsul Hadi
 | 

Editor:

Muhammad Samsul Hadi
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan