Konflik Iran-AS yang kembali memanas mengancam pasokan energi global. Kedua pihak berebut kendali di Selat Hormuz yang mengalirkan seperlima minyak dunia.
15 Jul 2026 17:30 WIB · Internasional
AP Photo/Noppadon Wongsuvan
TEHERAN, RABU — Amerika Serikat kembali memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran. Teheran pun bereaksi keras dengan mengancam akan menghentikan semua ekspor energi dari Timur Tengah. Ancaman ini dilontarkan setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan melancarkan serangan baru terhadap Iran.
”Ekspor minyak dan gas dari kawasan ini akan menjadi milik semua orang atau tidak untuk siapa pun,” tulis pernyataan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), Rabu (15/7/2026).
Namun, pernyataan itu tidak merinci jalur distribusi mana yang akan terpengaruh. Selain Selat Hormuz, terdapat beberapa jalur distribusi lain untuk mengalirkan minyak dari Timur Tengah.
”Musuh harus tahu bahwa sekarang setelah kapal-kapal perampok maritimnya memblokade jalur Samudra Hindia untuk ekspor minyak dan gas ke dunia sehingga membahayakan kepentingan saingan ekonomi AS, mereka juga harus mengharapkan penutupan jalur ekspor minyak dan gas lainnya yang melayani kepentingan AS dan sekutunya,” kata pernyataan itu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/07/14/b5fc1776265d643260d86a5a3fe35f6a-FILES_OMAN_IRAN_US_ISRAEL_WAR_139852541.jpg)
Kini kedua pihak masih saling berbalas serangan sehingga menyebabkan korban terus berjatuhan.
AS beralasan blokade itu dilakukan sebagai respons atas serangan Iran terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Perairan yang memisahkan Iran dengan Jazirah Arab ini merupakan jalur vital energi global. Sekitar 20 persen minyak mentah dunia didistribusikan melalui jalur tersebut.
AS dan Iran beradu memegang kendali di Selat Hormuz. Hal ini berpotensi membuat distribusi minyak melalui selat itu kembali tersendat. Bahkan, konflik ini membuat harga minyak naik lagi setelah turun pascakesepakatan damai sementara AS-Iran.
Trump menyatakan, gencatan senjata dengan Iran telah berakhir. Trump menyebutkan, serangan AS akan terus berlanjut. Namun, Iran kembali menegaskan kedaulatannya atas Selat Hormuz.
Sejak 28 Februari 2026, Iran memblokade selat itu sehingga menghambat tanker yang membawa minyak dari negara-negara Teluk. Blokade tersebut dilakukan sebagai respons atas serangan gabungan AS-Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/07/09/1730b273-6f1b-4b5f-a9c9-73a3bb548d8e.jpg)
Media Iran, Tasnim, melaporkan, Teheran tidak akan menerima pengaturan apa pun yang dipaksakan melalui tekanan atau ancaman pihak lain. Juru bicara militer Iran, Mohammad Akraminia, mengatakan, Angkatan Bersenjata Iran akan terus membela kepentingan negara dan tidak akan mundur dari upaya melindungi hak-hak Iran di Selat Hormuz.
”Setiap tindakan di Selat Hormuz di luar kerangka kerja yang disepakati akan menghadapi tanggapan tegas dari Iran. Jalur strategis tersebut tidak akan dibuka kembali melalui agresi atau tekanan AS,” jelasnya.
Sebaliknya, AS terus menekan Iran dengan melancarkan serangan bertubi-tubi. Komando Tengah AS (Centcom) menyebutkan, AS telah menyerang puluhan target selama tujuh jam pada Rabu. Kementerian Kesehatan Iran mengonfirmasi adanya korban jiwa dalam serangan ini, tetapi tidak menyebutkan jumlahnya.
AS dan Iran beradu memegang kendali di Selat Hormuz. Hal ini berpotensi membuat distribusi minyak melalui selat itu kembali tersendat. Bahkan, konflik ini membuat harga minyak naik lagi setelah turun pascakesepakatan damai sementara AS-Iran.
Komandan Centcom Brad Cooper mengatakan, Iran telah meluncurkan puluhan rudal dan pesawat nirawak (drone) ke negara-negara Timur Tengah. ”Pasukan AS meminta pertanggungjawaban Iran atas agresi yang tidak beralasan yang terus membahayakan nyawa orang-orang yang tidak bersalah,” ujarnya.
Setidaknya ada 19 kapal perang AS di Laut Arab, termasuk dua kapal induk dan sebuah kapal serbu amfibi dengan lebih dari 1.000 marinir di dalamnya. Terdapat ratusan pesawat militer yang beroperasi di seluruh Timur Tengah.
Duta Besar Iran untuk PBB Amir Saeid Iravani mengecam serangan berkelanjutan AS yang menargetkan negaranya. ”AS adalah agresor, bukan korban,” katanya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/07/14/98c7741f974929d88cf836ebcc16f6ff-wires_photo_2026_07_14T082553.564.jpg)
Pada Selasa malam, Trump mengatakan, serangan lebih lanjut ke Iran akan terjadi dalam dua hari ke depan. Tak hanya aset militer, jembatan dan pembangkit listrik dapat menjadi target serangan berikutnya.
”Lebih baik kalian membuat kesepakatan atau kalian tidak akan memiliki apa pun yang tersisa,” ujar Trump kepada Fox News Channel.
Trump mengaku telah dihubungi oleh sejumlah pemimpin negara di Timur Tengah. Ia menyebutkan, para pemimpin itu menyarankan pengaturan alternatif terkait pemungutan biaya kapal yang melewati Selat Hormuz.
”Mereka mengatakan ingin melakukannya dengan cara yang berbeda. Mereka ingin berinvestasi di AS dengan nilai miliaran dolar AS,” katanya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/07/11/3393f46d3a12ffb7042bc75de4a2a027-wires_photo_135.jpg)
Belum jelas apakah kesepakatan investasi tersebut menjadi komitmen baru yang akan diberlakukan. Trump mengaku lebih menyukai pengaturan itu daripada memungut biaya kapal yang melintas. Pengakuan ini bertolak belakang dengan pernyataan sebelumnya.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bersumpah untuk menyerang Iran dengan dahsyat jika negara itu melancarkan serangan baru terhadap negaranya. ”Saya akan mengatakan ini kepada para pemimpin Iran. Jangan berharap keadaan akan tetap tenang jika Anda menyerang kami,” katanya.
Konflik AS-Iran terus meluas ke negara-negara di Timur Tengah. IRGC menyatakan telah melancarkan serangan baru yang menghantam pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain, Selasa. Serangan ini menghancurkan beberapa gudang yang menyimpan senjata dan suku cadang untuk kapal dan pesawat AS di Pangkalan Sheikh Isa di Bahrain.
(AP/Reuters)
Penulis:
Tatang Mulyana SinagaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan