Perang Iran-AS ke depan bakal lebih ditentukan dinamika penguasaan atas Selat Hormuz. Selama adu cekikan di selat itu terus berlangsung, perang belum akan berakhir.
15 Jul 2026 05:40 WIB · Tajuk Rencana
AFP
Tak sampai sebulan setelah nota kesepahaman ditandatangani dua pemimpinnya, Iran-Amerika Serikat kembali saling serang. Penguasaan kendali atas Selat Hormuz pemantiknya.
Kawasan Teluk kembali membara dalam sepekan terakhir. Iran dan AS saling serang, serta sama-sama menutup dan memblokade Selat Hormuz. Negara-negara Teluk kembali masuk dalam pusaran serangan setelah Iran menyerang fasilitas militer AS di negara-negara itu.
Terjadi eskalasi, Senin (13/7/2026), saat kelompok Houthi pro-Iran dan Arab Saudi juga saling gempur di front terpisah. Harga minyak dunia pun melonjak 9 persen ke level tertinggi dalam satu bulan: 83,30 dolar AS per barel (Brent) dan 78,14 dolar AS per barel (West Texas Intermediate AS).
Pekan lalu, Jumat (10/7/2026), Trump mengumumkan gencatan senjata dengan Iran telah berakhir. Ia dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada 17 Juni lalu secara terpisah menandatangani nota kesepahaman untuk negosiasi perdamaian dan mengakhiri perang. Waktu perundingan ditetapkan 60 hari.
Namun, seperti yang dibaca oleh sejumlah pengamat, nota kesepahaman untuk perdamaian itu rapuh. Terlalu banyak isu utama dalam agenda perundingan yang sulit dicarikan titik temu oleh kedua pihak. Mulai dari isu program nuklir Iran, pencabutan sanksi ekonomi, hingga isu Selat Hormuz.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/07/14/354401b9f9056f07da98760000f6b93e-CORRECTION_Thailand_Sailors_139803801.jpg)
Penguasaan dan kontrol atas Selat Hormuz menjadi salah satu isu yang paling cepat memantik Iran dan AS saling serang. Pada 8 Juli lalu, saat Iran tengah memakamkan mendiang Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, AS menggempur sejumlah sasaran di Iran. Washington mengatakan, gempuran ini dipicu oleh tindakan Iran menembak tiga kapal tanker komersial—salah satunya milik Qatar—di Selat Hormuz.
Teheran saat itu beralasan, tiga kapal tanker itu ditembak karena tak mengindahkan peringatan terkait rute yang dilalui. Iran berulang kali menyatakan, hanya rute yang disetujui Teheran yang aman dilintasi kapal-kapal di Selat Hormuz.
Bagi Iran, kontrol atas Selat Hormuz menjadi salah satu senjata utama mereka menghadapi AS yang jauh lebih unggul dalam kekuatan militernya.
Bagi Iran, kontrol atas Selat Hormuz menjadi salah satu senjata utama mereka menghadapi AS yang jauh lebih unggul dalam kekuatan militernya. Selat ini sangat strategis. Seperlima pasokan minyak dan gas dunia dikirim lewat jalur itu.
Serangan AS-Israel menyadarkan Iran akan posisi strategis selat tersebut. Teheran mengubah orientasi strategi ekonomi mereka: sebelumnya berupaya lepas dari sanksi ekonomi, kini mencengkeram penguasaan atas selat itu, termasuk melalui tarif yang dikenakan terhadap kapal-kapal yang melintas.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/07/14/b5fc1776265d643260d86a5a3fe35f6a-FILES_OMAN_IRAN_US_ISRAEL_WAR_139852541.jpg)
Perang Iran-AS ke depan bakal lebih ditentukan dinamika penguasaan atas Selat Hormuz. Senin lalu, selain mengumumkan blokade kembali di selat itu, Trump juga menyampaikan akan mengenakan pungutan 20 persen pada semua kargo sebagai kompensasi atas perlindungan AS di Selat Hormuz.
Selama adu cekikan (chokehold) di selat itu terus berlangsung, perang belum akan berakhir. Adu cekikan kedua pihak harus dihentikan dan dikembalikan pada situasi sebelum perang. Sayangnya, jarum sejarah sulit untuk diputar lagi.
Penulis:
REDAKSIEditor:
Muhammad Samsul Hadi, Marcellus HernowoPenyelaras Bahasa:
Nur Adji