Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?
- Apa yang menyebabkan konflik Iran dengan Amerika Serikat memanas lagi?
- Mengapa Iran menyerang kapal-kapal di Selat Hormuz?
- Sejak kapan saling serang antara AS dan Iran kembali terjadi?
- Apa dampak saling serang AS dan Iran serta blokade AS pada Selat Hormuz?
Apa yang menyebabkan konflik Iran dan Amerika Serikat memanas lagi?
AS dan Iran menandatangani perjanjian damai sementara pada 17 Juni 2026. Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian meneken secara terpisah. Terdapat 14 poin dalam kesepakatan awal tersebut.
Salah satu poin dalam perjanjian sementara membahas soal lalu lintas di Selat Hormuz. Selama kesepakatan sementara berlangsung dalam periode 60 hari, Iran dan AS sepakat kapal-kapal dapat melewati selat itu tanpa biaya.
Namun, Teheran berkeras ingin mengendalikan rute kapal dan kelak mengenakan biaya pelintasan. Semula kapal-kapal bebas melintas di Selat Hormuz yang dikelola bersama oleh Iran dan Oman. AS dan banyak negara Arab Teluk menolak rencana Iran menarik biaya di selat tersebut.
Sejak serangan AS-Israel ke Iran pada Februari 2026, Iran memblokade selat itu sebagai balasan. Iran juga menekankan, setiap kapal yang melintas harus melewati rute yang diizinkan Teheran. Namun, sejumlah kapal yang melintas dianggap tidak mematuhi aturan tersebut sehingga Iran menargetkan kapal-kapal itu.
AS pun marah dan menuding Iran melanggar kesepakatan damai sementara. AS kemudian menyerang Iran lagi dan dibalas oleh Iran yang menyasar aset-aset AS di negara-negara Teluk.
Mengapa Iran menyerang kapal-kapal di Selat Hormuz?
Sesuai klaim atas poin dalam perjanjian sementara, Garda Revolusi Iran (IRGC) berpandangan perjanjian itu memberi Iran hak mengendalikan pelayaran di Selat Hormuz. Oleh karena itu, setiap pelayaran di selat tersebut harus mendapat persetujuan dari Iran.
IRGC menuding AS dan sekutunya melanggar kesepakatan itu lewat pelayaran ratusan kapal yang keluar dari Selat Hormuz melalui sisi Oman. Bersama Organisasi Pelayaran Internasional (IMO) dan sejumlah pihak lain, Oman mengatur pelayaran lebih dari 100 kapal keluar dari Teluk Persia.
Karena IRGC menilai AS dan sekutunya melanggar, IRGC menembaki kapal-kapal di Selat Hormuz. Alasannya, penembakan itu bagian dari penegakan kesepakatan damai yang ditandatangani perwakilan Teheran-Washington atas fasilitasi Pakistan dan Qatar.
Peneliti pada Center for Middle East Strategic Studies, Abas Aslani, mengatakan, AS-Iran sama-sama berusaha mendorong versi masing-masing soal pelayaran di Selat Hormuz. ”Teheran meyakini AS melanggar isi kesepakatan lewat koridor berbeda dari yang ditetapkan Iran,” ujarnya kepada Al Jazeera.
AS, menurut Aslani, ingin memaksa negara di kawasan dan menggunakan kekuatan untuk memaksa Iran demi mengubah status quo soal pelayaran di Selat Hormuz. Washington ingin mengembalikan keadaan sebelum AS-Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026.
Kala itu, pelayaran di Selat Hormuz sepenuhnya terbuka. Sementara itu, Iran, lanjut Aslan, menggunakan Selat Hormuz sebagai alat tawar untuk memaksa AS menghentikan serangan di masa mendatang. Teheran telah berulang kali menyatakan hanya menginginkan kesepakatan yang akan menghentikan permusuhan secara permanen.
Sejak kapan saling serang antara AS dan Iran kembali terjadi?
Saling serang antara Iran dan AS kembali terjadi saat kedua negara menjalani gencatan senjata. Bahkan, sejak akhir Juni 2026, setelah perjanjian sementara tercapai, Iran menyerang kapal-kapal tanker di Selat Hormuz yang dianggap melanggar aturan Iran.
Kemudian, militer AS menyerang Iran dengan target infrastruktur pengawasan militer Iran, sistem komunikasi, situs pertahanan udara, fasilitas penyimpanan drone, dan kemampuan penebar ranjau. Ditambah keinginan Iran mengendalikan pelayaran di Selat Hormuz yang membuat AS makin gerah, hal itu menjadi pemicu serangan terbaru AS ke Iran.
Misi AS dalam serangan terbaru, seperti pada Rabu (8/7/2026) menjelang tengah malam, bergeser sebagai upaya melemahkan kemampuan Iran di Selat Hormuz. Iran membalas dengan menyerang situs-situs militer AS di Bahrain dan Kuwait.
Presiden AS Donald Trump menyebut serangan itu sebagai pembalasan atas serangan Iran terhadap kapal-kapal di selat tersebut. ”Ini pembalasan atas pengeboman kapal-kapal oleh Iran kemarin. Jika itu terjadi lagi, akan jauh lebih buruk!” tulis Trump di media sosial.
Situasi di Teluk memanas ketika AS mengumumkan memblokade Selat Hormuz lagi pada Senin (13/7/2026). Sebaliknya, Iran menegaskan akan mempertahankan kendalinya di jalur vital energi global itu. Adapun Houthi, sekutu Iran di Yaman, saling serang dengan Arab Saudi. Kondisi ini membuat situasi di kawasan Teluk kembali runyam.
Apa dampak saling serang AS dan Iran serta blokade AS pada Selat Hormuz?
Sejak kapal-kapal niaga menjadi sasaran serangan, lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz melambat. Kondisi terakhir Selat Hormuz memaksa operator kapal mengurangi aktivitas pelayaran dan meningkatkan langkah pengamanan.
Data pelacakan kapal pada Senin menunjukkan jumlah kapal tanker minyak dan gas yang melintasi Selat Hormuz turun ke level terendah sejak 25 Mei 2026. Berdasarkan data perusahaan intelijen pelayaran, Kpler, hanya enam kapal tanker yang terpantau melintasi selat pada Minggu. Ini jumlah terendah dalam lima pekan terakhir.
Namun, sejumlah perusahaan pelayaran mengakui jumlah sebenarnya kemungkinan lebih banyak karena semakin banyak kapal yang mematikan sistem pelacakan otomatisnya ketika memasuki selat. Ini untuk mengurangi risiko menjadi sasaran serangan. Namun, para pelaku industri memperingatkan risiko akan meningkat tajam jika konflik tak kunjung selesai.
Sementara itu, blokade maritim terbaru AS menyebabkan lonjakan harga minyak. Blokade AS membuat dunia kembali khawatir dengan distribusi minyak melalui selat itu.
Harga minyak dunia melonjak 9 persen ke level tertinggi dalam satu bulan. Harga minyak mentah Brent ditutup melonjak 7,29 dolar AS atau 9,59 persen menjadi 83,30 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate AS naik 6,73 dolar AS atau 9,42 persen menjadi 78,14 dolar AS per barel.
Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?
- Apa yang menyebabkan konflik Iran dengan Amerika Serikat memanas lagi?
- Mengapa Iran menyerang kapal-kapal di Selat Hormuz?
- Sejak kapan saling serang antara AS dan Iran kembali terjadi?
- Apa dampak saling serang AS dan Iran serta blokade AS pada Selat Hormuz?
Apa yang menyebabkan konflik Iran dan Amerika Serikat memanas lagi?
AS dan Iran menandatangani perjanjian damai sementara pada 17 Juni 2026. Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian meneken secara terpisah. Terdapat 14 poin dalam kesepakatan awal tersebut.
Salah satu poin dalam perjanjian sementara membahas soal lalu lintas di Selat Hormuz. Selama kesepakatan sementara berlangsung dalam periode 60 hari, Iran dan AS sepakat kapal-kapal dapat melewati selat itu tanpa biaya.
Namun, Teheran berkeras ingin mengendalikan rute kapal dan kelak mengenakan biaya pelintasan. Semula kapal-kapal bebas melintas di Selat Hormuz yang dikelola bersama oleh Iran dan Oman. AS dan banyak negara Arab Teluk menolak rencana Iran menarik biaya di selat tersebut.
Sejak serangan AS-Israel ke Iran pada Februari 2026, Iran memblokade selat itu sebagai balasan. Iran juga menekankan, setiap kapal yang melintas harus melewati rute yang diizinkan Teheran. Namun, sejumlah kapal yang melintas dianggap tidak mematuhi aturan tersebut sehingga Iran menargetkan kapal-kapal itu.
AS pun marah dan menuding Iran melanggar kesepakatan damai sementara. AS kemudian menyerang Iran lagi dan dibalas oleh Iran yang menyasar aset-aset AS di negara-negara Teluk.
Mengapa Iran menyerang kapal-kapal di Selat Hormuz?
Sesuai klaim atas poin dalam perjanjian sementara, Garda Revolusi Iran (IRGC) berpandangan perjanjian itu memberi Iran hak mengendalikan pelayaran di Selat Hormuz. Oleh karena itu, setiap pelayaran di selat tersebut harus mendapat persetujuan dari Iran.
IRGC menuding AS dan sekutunya melanggar kesepakatan itu lewat pelayaran ratusan kapal yang keluar dari Selat Hormuz melalui sisi Oman. Bersama Organisasi Pelayaran Internasional (IMO) dan sejumlah pihak lain, Oman mengatur pelayaran lebih dari 100 kapal keluar dari Teluk Persia.
Karena IRGC menilai AS dan sekutunya melanggar, IRGC menembaki kapal-kapal di Selat Hormuz. Alasannya, penembakan itu bagian dari penegakan kesepakatan damai yang ditandatangani perwakilan Teheran-Washington atas fasilitasi Pakistan dan Qatar.
Peneliti pada Center for Middle East Strategic Studies, Abas Aslani, mengatakan, AS-Iran sama-sama berusaha mendorong versi masing-masing soal pelayaran di Selat Hormuz. ”Teheran meyakini AS melanggar isi kesepakatan lewat koridor berbeda dari yang ditetapkan Iran,” ujarnya kepada Al Jazeera.
AS, menurut Aslani, ingin memaksa negara di kawasan dan menggunakan kekuatan untuk memaksa Iran demi mengubah status quo soal pelayaran di Selat Hormuz. Washington ingin mengembalikan keadaan sebelum AS-Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026.
Kala itu, pelayaran di Selat Hormuz sepenuhnya terbuka. Sementara itu, Iran, lanjut Aslan, menggunakan Selat Hormuz sebagai alat tawar untuk memaksa AS menghentikan serangan di masa mendatang. Teheran telah berulang kali menyatakan hanya menginginkan kesepakatan yang akan menghentikan permusuhan secara permanen.
Sejak kapan saling serang antara AS dan Iran kembali terjadi?
Saling serang antara Iran dan AS kembali terjadi saat kedua negara menjalani gencatan senjata. Bahkan, sejak akhir Juni 2026, setelah perjanjian sementara tercapai, Iran menyerang kapal-kapal tanker di Selat Hormuz yang dianggap melanggar aturan Iran.
Kemudian, militer AS menyerang Iran dengan target infrastruktur pengawasan militer Iran, sistem komunikasi, situs pertahanan udara, fasilitas penyimpanan drone, dan kemampuan penebar ranjau. Ditambah keinginan Iran mengendalikan pelayaran di Selat Hormuz yang membuat AS makin gerah, hal itu menjadi pemicu serangan terbaru AS ke Iran.
Misi AS dalam serangan terbaru, seperti pada Rabu (8/7/2026) menjelang tengah malam, bergeser sebagai upaya melemahkan kemampuan Iran di Selat Hormuz. Iran membalas dengan menyerang situs-situs militer AS di Bahrain dan Kuwait.
Presiden AS Donald Trump menyebut serangan itu sebagai pembalasan atas serangan Iran terhadap kapal-kapal di selat tersebut. ”Ini pembalasan atas pengeboman kapal-kapal oleh Iran kemarin. Jika itu terjadi lagi, akan jauh lebih buruk!” tulis Trump di media sosial.
Situasi di Teluk memanas ketika AS mengumumkan memblokade Selat Hormuz lagi pada Senin (13/7/2026). Sebaliknya, Iran menegaskan akan mempertahankan kendalinya di jalur vital energi global itu. Adapun Houthi, sekutu Iran di Yaman, saling serang dengan Arab Saudi. Kondisi ini membuat situasi di kawasan Teluk kembali runyam.
Apa dampak saling serang AS dan Iran serta blokade AS pada Selat Hormuz?
Sejak kapal-kapal niaga menjadi sasaran serangan, lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz melambat. Kondisi terakhir Selat Hormuz memaksa operator kapal mengurangi aktivitas pelayaran dan meningkatkan langkah pengamanan.
Data pelacakan kapal pada Senin menunjukkan jumlah kapal tanker minyak dan gas yang melintasi Selat Hormuz turun ke level terendah sejak 25 Mei 2026. Berdasarkan data perusahaan intelijen pelayaran, Kpler, hanya enam kapal tanker yang terpantau melintasi selat pada Minggu. Ini jumlah terendah dalam lima pekan terakhir.
Namun, sejumlah perusahaan pelayaran mengakui jumlah sebenarnya kemungkinan lebih banyak karena semakin banyak kapal yang mematikan sistem pelacakan otomatisnya ketika memasuki selat. Ini untuk mengurangi risiko menjadi sasaran serangan. Namun, para pelaku industri memperingatkan risiko akan meningkat tajam jika konflik tak kunjung selesai.
Sementara itu, blokade maritim terbaru AS menyebabkan lonjakan harga minyak. Blokade AS membuat dunia kembali khawatir dengan distribusi minyak melalui selat itu.
Harga minyak dunia melonjak 9 persen ke level tertinggi dalam satu bulan. Harga minyak mentah Brent ditutup melonjak 7,29 dolar AS atau 9,59 persen menjadi 83,30 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate AS naik 6,73 dolar AS atau 9,42 persen menjadi 78,14 dolar AS per barel.