Timur Tengah

Iran Berperang Sendirian

Rusia dan China, dua negara besar yang selama bertahun-tahun menjadi mitra strategisnya, juga memilih diam.

03 Apr 2026 12:00 WIB · Artikel Opini

Kompas/Heryunanto

Oleh Luthfi Assyaukanie

Hari-hari ini, kita tengah menyaksikan sebuah ironi yang menyakitkan tentang Iran. Negara yang selama empat dekade membangun solidaritas dunia Islam, membela kaum mustadh’afin, dan menjadi benteng perlawanan terhadap Barat kini menghadapi kenyataan pahit: berperang sendirian.

Ketika rudal dan drone Israel menghantam fasilitas militernya, ketika jet tempur Amerika Serikat menghancurkan infrastruktur nuklirnya, tak ada satu pun negara Muslim yang bergerak membantunya. Tidak Arab Saudi. Tidak Turki. Tidak Mesir. Tidak juga Indonesia.

Rusia dan China, dua negara besar yang selama bertahun-tahun menjadi mitra strategisnya, juga memilih diam. Ada apa dengan dunia Islam? Ada apa dengan Rusia dan China? Mungkin ini pertanyaan Anda.

Namun, itu pertanyaan keliru. Pertanyaan yang benar adalah: ada apa dengan Iran? Mengapa ia berperang sendirian?

Jika Anda membaca sejarah dan menyimak penjelasan para ahli, Anda pasti bisa maklum. Iran begitu bukan karena ditinggalkan, tetapi buah dari kesalahan strategi yang selama puluhan tahun mereka bangun.

Sejak Revolusi Islam 1979, Iran membangun kebijakan luar negerinya di atas satu doktrin tunggal: forward defense—pertahanan ke depan. Artinya, alih-alih menunggu ancaman datang ke perbatasannya, Iran memilih memproyeksikan kekuatan ke negara-negara lain, melalui jejaring proksinya.

Imam Khomeini sendiri yang meletakkan fondasi kebijakan itu: revolusi tidak boleh berhenti di perbatasan negara. Ia harus diekspor. Doktrin ini kemudian melahirkan Hizbullah di Lebanon, memperkuat milisi Syiah di Irak, mendukung Houthi di Yaman, dan menopang rezim Assad di Suriah. Selama beberapa dekade, jaringan proksi ini difungsikan sebagai tameng Iran di luar batas negaranya.

Masalahnya, apa yang Iran sebut sebagai ”pertahanan”, negara-negara tetangganya menyebut sebagai ”ancaman”. Bagi Arab Saudi, UEA, dan Bahrain, kehadiran proksi-proksi Iran di sekitar mereka bukan sekadar gangguan, melainkan ancaman nyata.

Ketika Iran membantu Houthi menyerang instalasi minyak Saudi di Abqaiq pada 2019, atau ketika milisi dukungannya di Irak menembakkan roket ke pangkalan Amerika di kawasan Teluk, negara-negara Arab menganggapnya sebagai ancaman serius. Sayangnya, Iran kurang sensitif. Mereka menganggap remeh kecemasan dan keberatan para tetangganya itu.

Lebih dari dua dekade lalu, Raja Abdullah dari Jordania memperingatkan dunia tentang ”Bulan Sabit Syiah”—sebuah sabuk pengaruh Iran yang membentang dari Teheran, melewati Baghdad, Damaskus, Beirut, hingga Sana’a. Teheran merespons peringatan ini dengan mencibir: itu hanya kepanikan kaum Sunni yang senang dengan isu sektarianisme Sunni-Syiah.

Di situlah letak kesalahan Iran yang tak bisa dimaafkan. Ia meremehkan keluhan tetangga yang memperingatkannya. Iran menganggap kecemasan Jordania, Arab Saudi, UEA, dan Bahrain sebagai dalih belaka, bukan sebagai kegelisahan yang nyata. Akibatnya, alih-alih membangun kepercayaan regional, Iran justru terus memperdalam jurang ketidakpercayaan itu. Mereka semakin agresif memperluas dan mendanai proksi-proksinya.

Ilustrasi monitor Israel sedang mengincar Iran

Kesendirian strategis

Sikap Iran itu tidak berdiri sendiri. Vali Nasr, sarjana Iran-Amerika yang paling otoritatif dalam geopolitik Syiah, sudah lama memperingatkan negara tempat kelahirannya itu. Dalam The Shia Revival (2006), Nasr mencatat bahwa kebangkitan Syiah yang disponsori Iran justru memperdalam ketakutan dunia Sunni. Solidaritas yang Iran bangun—dari Beirut hingga Sana’a—adalah solidaritas sektarian, bukan solidaritas Islam yang universal.

Dan solidaritas sektarian selalu melahirkan kebalikannya: persatuan anti-Iran di pihak yang merasa terancam. Setiap kali Iran memperluas pengaruh Syiah-nya, ia secara tak langsung memperkuat koalisi negara-negara yang membencinya. Solidaritas yang semestinya menjadi aset berubah menjadi beban. Iran telah menjebak dirinya sendiri ke dalam apa yang Mohiuddin Mesbahi sebut sebagai ”strategic loneliness” (kesendirian strategis).

Kesendirian strategis adalah konsekuensi dari sikap luar negeri Iran. Bukan sesuatu yang muncul begitu saja.

Masalahnya, kesendirian bukan hanya soal tidak punya teman. Ia juga berarti Iran kehilangan kapasitas untuk membentuk narasi kawasan. Ketika perang pecah, tidak ada satu pun suara dari negara-negara Muslim yang berdiri di podium PBB membela Teheran. Tidak ada resolusi bersama Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) yang mengutuk serangan Israel.

Juga, tidak ada tekanan kolektif diplomatik yang bisa menahan laju eskalasi perang. Iran telah membangun pengaruh melalui kekuatan militer dan proksi, tetapi mereka lupa bahwa pengaruh yang sejati tidak bisa dibangun di atas ketakutan saja. Ia juga harus berdiri di atas legitimasi dan kepercayaan—dua hal yang selama ini mereka abaikan.

Lalu, mengapa Rusia dan China juga tak membantunya? Di atas kertas, keduanya memang mitra strategis Iran. Rusia memasok senjata dan sistem pertahanan udara, sementara China menjadi pembeli utama minyak Iran akibat sanksi Barat. Namun, ketika Israel menyerang, Moskwa dan Beijing memilih bungkam.

Alasannya sederhana dan sudah diprediksi sejak lama oleh para realis dalam studi hubungan internasional: kepentingan nasional berada di atas segalanya. Bagi Rusia yang terbenam di Ukraina, membuka front baru demi Iran adalah kemewahan yang tidak mampu mereka tanggung. Sementara bagi China, yang sangat bergantung pada stabilitas jalur minyak Teluk dan hubungan ekonominya dengan Israel serta negara-negara Arab, membela Iran secara terbuka sama saja dengan bunuh diri.

Retorika solidaritas anti-Barat yang selama ini dijalin Iran dengan kedua negara itu terbukti rapuh begitu diuji oleh kepentingan nyata.

Tembok isolasi

Sejarah mengajarkan kita bahwa negara yang mengandalkan proksi dan intimidasi sebagai instrumen utama kebijakan luar negerinya cenderung berakhir tragis. Uni Soviet membangun cakrawala pengaruhnya yang luas melalui rezim-rezim boneka. Namun, ketika sistemnya runtuh, tak ada satu pun yang berdiri membelanya.

Iran sedang berjalan di lintasan yang sama. Jaringan proksinya yang tersebar dari Laut Tengah hingga Laut Arab, di atas peta, memang mengesankan. Sayangnya, mereka tak bisa diandalkan. Apalagi, sebelum perang, satu per satu, jejaring itu remuk. Rezim Assad tumbang, Hizbullah kocar-kacir, dan Gaza, basis kekuatan Hamas, jadi abu.

Iran berperang sendirian bukan karena dunia Islam tidak punya hati. Bukan pula karena tetangga Arab-nya kejam dan tak berempati. Iran berperang sendirian karena ia memilih menjadi sendirian.

Selama lebih dari empat dekade, Iran membangun citra diri sebagai pemimpin dunia Islam, tetapi yang sesungguhnya mereka bangun adalah tembok isolasi. Kini tembok itu mengelilinginya dari semua arah.

Teriakan solidaritas Islam yang setiap hari kita dengar dari segala penjuru tak membantu sama sekali. Ini hal yang wajar. Solidaritas berbunyi nyaring ketika tidak ada sesuatu yang dipertaruhkan. Namun, begitu ada risiko, ia segera senyap. Tak ada negara yang mau terjun ke tungku api.

Sekarang kita tahu mengapa Iran berperang sendirian.

Luthfi Assyaukanie, Dosen Universitas Paramadina, Jakarta


Kerabat Kerja

Penulis:

Luthfi Assyaukanie
 | 

Editor:

Yohanes Krisnawan