Kompas.id Brief
KOMPAS BRIEF

Mengapa Negara-negara Arab Diam-diam Dorong AS Terus Memerangi Iran?

Arab Saudi, UEA, Kuwait, dan Bahrain melihat Iran masih kuat meski telah terkena serangan udara Amerika Serikat-Israel selama sebulan lebih.

01 Apr 2026 12:01 WIB · Internasional

AFP

Oleh Elsa Emiria Leba

Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?

  1. Apakah perang Amerika Serikat-Israel dan Iran akan segera berakhir?
  2. Selama perang, bagaimana sebetulnya sikap negara sekutu terhadap aksi AS?
  3. Bagaimana negara-negara Arab menyikapi perang?
  4. Mengapa negara-negara Arab mau agar perang berlanjut?
  5. Bagaimana Trump merespons dukungan tersebut?

Apakah perang Amerika Serikat-Israel dan Iran akan segera berakhir?

copy title

Perang di Timur Tengah masih bergejolak, bahkan Amerika Serikat sedang mengerahkan ribuan personel tambahan yang memberikan sinyal potensi serangan darat di Iran. Pada saat bersamaan, Presiden AS Donald Trump kembali melempar wacana terkait kapan Washington berencana mengakhiri perang.

”Kami akan segera pergi. Penarikan pasukan dapat terjadi mungkin dalam dua atau tiga minggu,” ujar Trump di Ruang Oval Gedung Putih, Selasa (31/3/2026) malam waktu setempat atau Rabu pagi waktu Indonesia.

Menurut Trump, AS-Iran mungkin saja membuat kesepakatan dalam kurun waktu tersebut. Namun, kesepakatan itu bukanlah syarat bagi AS untuk mengakhiri perang. Syarat utama Washington adalah memastikan Iran tidak dapat mengembangkan senjata nuklir yang disebut telah tercapai.

Meski demikian, Trump mengklaim telah mencapai kemajuan besar dalam pembicaraan tersebut. Dia mengancam akan menghancurkan sejumlah fasilitas vital di Iran jika tidak ada kesepakatan yang segera tercapai, termasuk terkait pembukaan kembali Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur perdagangan minyak utama dunia.

Selama perang, bagaimana sebetulnya sikap negara sekutu terhadap aksi AS?

copy title

Negara-negara sekutu AS kebanyakan tidak mendukung perang tersebut, seperti Spanyol dan negara anggota G7. Mereka juga menolak membantu Washington membuka Selat Hormuz. Trump tentu saja kecewa dan kesal.

Beberapa negara lain juga bergerak aktif untuk mengupayakan perdamaian di kawasan bisa tercapai melalui diplomasi, termasuk Mesir, Turki, Oman, dan Pakistan. Pada 24 Maret 2026, Pakistan menawarkan diri sebagai tuan rumah pembicaraan penyelesaian konflik.

Iran dan AS sama-sama menyatakan kepercayaan kepada Pakistan untuk memfasilitasi perundingan. Selama ini, Islamabad menjaga hubungan baik dengan Teheran dan Washington. Pakistan juga memiliki kerja sama keamanan dengan Arab Saudi dan terus membuka jalur komunikasi dengan negara-negara Teluk lain.

Tiga negara lain, Mesir, Turki, dan Oman juga menjalin komunikasi intens dengan Iran serta negara-negara lain di Timur Tengah sekaligus Eropa. Salah satu tantangan yang membayangi adalah krisis kepercayaan yang melanda Iran. Sebab, AS sudah dua kali menyerang Iran ketika negosiasi berlangsung, termasuk perang pada 28 Februari 2026.

Sejumlah orang duduk di Pantai Ajman, Uni Emirat Arab (UEA), sambil memandang kapal yang melintas di laut di tengah konflik kawasan yang terus berlangsung setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, Senin (2/3/2026). Konflik tersebut dipicu oleh serangan Amerika Serikat-Israel ke Iran yang membunuh Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei pada 28 Februari 2026.

Bagaimana negara-negara Arab menyikapi perang?

copy title

Setelah perang pecah, negara-negara Teluk menjadi sasaran dari serangan balasan Iran, seperti Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Kuwait. Sebab, negara-negara ini menampung baik pangkalan militer maupun bisnis dari AS. Bisnis negara-negara Teluk juga merugi karena Teheran menyasar fasilitas energi dan menutup Selat Hormuz.

Dalam perkembangan terbaru, muncul laporan bahwa negara-negara Teluk, yakni Arab Saudi, UEA, Kuwait, dan Bahrain, ternyata diam-diam mendorong Trump untuk terus menghajar Iran. Menurut mereka, Teheran masih kuat melawan meski telah dibombardir serangan udara AS-Israel selama sebulan lebih.

UEA menjadi negara di Teluk yang paling agresif mendorong agar Trump memerintahkan invasi darat. Kuwait dan Bahrain juga mendukung pilihan ini. Sejak awal serangan Iran, UEA terkena sedikitnya 2.300 serangan rudal dan pesawat nirawak dari Iran. Citranya sebagai pusat perdagangan dan pariwisata Timur Tengah yang aman, bersih, dan makmur tercoreng.

”Rezim Iran yang meluncurkan rudal balistik ke permukiman, mempersenjatai perdagangan global, dan mendukung proksi bukanlah lagi ciri yang dapat diterima dalam lanskap regional. Kami butuh jaminan ini tidak akan pernah terjadi lagi,” tulis Menteri Negara di Kementerian Luar Negeri UEA Noura Al Kaabi di harian The National, Senin.

Meski secara umum negara-negara Teluk mendukung AS saat ini, ada beberapa perbedaan pendapat yang datang dari Oman dan Qatar. Kedua negara itu secara historis berperan penting sebagai perantara antara Iran dan negara-negara Barat. Keduanya masih tetap mendukung solusi diplomatik.

Mengapa negara-negara Arab mau agar perang berlanjut?

copy title

Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Kuwait ingin agar ada perubahan signifikan dalam kepemimpinan Iran atau ada perubahan dramatis dalam perilaku Iran. Keinginan itu disetujui oleh Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio.

”Mereka adalah fanatik yang tidak boleh memiliki senjata nuklir karena mereka memiliki visi apokaliptik tentang masa depan. Semua tetangga mereka tahu itu. Itulah sebabnya semua negara tetangga mendukung upaya yang sedang kami lakukan,” kata Rubio dalam program acara ”Good Morning America” stasiun televisi ABC.

Secara khusus, Arab Saudi menyampaikan ke AS bahwa mengakhiri perang sekarang tidak akan menghasilkan kesepakatan yang menjamin keamanan bagi negara-negara Arab. Penyelesaian perang pada akhirnya harus menetralkan program nuklir Iran, menghancurkan kemampuan rudal balistiknya, dan mengakhiri dukungan Teheran terhadap kelompok proksi.

Selain itu, Riyadh berharap agar penyelesaian perang harus memastikan Selat Hormuz tidak dapat ditutup secara efektif oleh Iran di masa depan seperti yang sedang terjadi. Oleh sebab itu, kepemimpinan Iran harus diubah atau digulingkan.

Foto yang beredar di media sosial menunjukkan puing E-3 Sentry milik Amerika Serikat di Pangkalan Udara Pangeran Sultan Arab Saudi selepas serangan Iran pada 27 Maret 2026.

Bagaimana Trump merespons dukungan tersebut?

copy title

Trump kini jadi semakin yakin bahwa ia mendapat dukungan penuh dari sekutu-sekutu Timur Tengah terpentingnya. ”Arab Saudi melawan balik dengan keras. Qatar, UEA, Kuwait, dan Bahrain melawan balik. Mereka semua melawan balik,” kata Trump.

Selama ini, negara-negara Teluk menjadi tuan rumah pangkalan militer AS untuk menyerang Iran. Namun, Trump belum meminta mereka bergabung dalam operasi militernya.

Salah satu faktornya mungkin karena AS sudah memperhitungkan bahwa hal itu tidak sebanding dengan komplikasi yang timbul akibat memenuhi wilayah udara dengan militer tambahan di luar Israel. Faktor lain adalah hanya UEA dan Bahrain yang memiliki hubungan diplomatik formal dengan Israel.

Trump sempat terpikir untuk meminta negara-negara Arab menanggung biaya perang Iran, tetapi belum ada kejelasan lebih lanjut. Meski demikian, Trump memiliki pandangan yang sedikit berbeda dengan mereka terkait progres perang di Iran. Ia mengisyaratkan bahwa perubahan rezim di Iran sudah selesai.


Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Retma Wati