AGRESI AS-ISRAEL

Teluk Kembali Memanas, AS-Iran Saling Balas Serangan

Iran menegaskan sesuai kesepakatan damai, pelayaran Selat Hormuz di bawah pengaturan Iran-Oman. AS berusaha menetapkan jalur pelayaran sendiri di dekat pesisir Oman.

12 Jul 2026 10:40 WIB · Internasional

Iranian state television via AP

Oleh Iwan Santosa

DUBAI, MINGGU — Situasi di kawasan Teluk kembali memanas. Amerika Serikat pada Minggu (12/7/2026), kembali menyerang Iran. AS menargetkan sejumlah sasaran di Bandar Abbas dan Sirik. Serangan itu terjadi setelah Iran menyerang sebuah kapal kargo V GFS Galaxi di Selat Hormuz yang berusaha melintas tanpa izin Iran.

Teheran kemudian membalas serangan AS dengan menyasar sejumlah aset AS di Bahrain, Qatar, dan Uni Emirat Arab. Komando Tengah (Central Command) Militer AS menyatakan, serangan tersebut merupakan serangan gelombang ketiga terhadap Iran.

”AS melakukan serangan untuk melemahkan kemampuan Iran menyerang kapal niaga sipil yang melintas bebas di Selat Hormuz,” demikian keterangan Komando Tengah.

”Iran mengambil keputusan buruk. Kini mereka menerima balasan,” kata Menteri Perang AS Pete Hegseth melalui akun X.

Tampilan dari televisi Iran memperlihatkan sebuah kapal niaga kandas di Selat Hormuz, 1 Juli 2026. Iran memberlakukan pengaturan lalu-lintas kapal Selat Hormuz sebagai bagian kesepakatan damai dengan AS. AS juga menerapkan perlintasan kapal di Selat Hormuz lewat pesisir Oman menjauhi wilayah Iran. This frame grab of footage aired Wednesday, July 1, 2026, by Iranian state television shows a vessel that ran aground in the Strait of Hormuz. (Iranian state television via AP)

Sebelumnya, Teheran menegaskan bahwa kewenangan pengaturan Selat Hormuz ada di tangan Iran sebagai salah satu materi kesepakatan damai. Iran menetapkan jalur pelayaran resmi dekat wilayah Iran dan median Selat Hormuz sebagai syarat perdamaian permanen. Namun, AS berusaha menetapkan jalur pelayaran sepihak lewat pesisir Oman yang ditentang oleh Iran.

Saat ini AS-Iran masih dalam tenggang waktu dua bulan untuk membahas perdamaian secara permanen yang disepakati di Lucerne, Swiss, 17 Juni 2026. Namun, saling serang dan saling ancam terus terjadi dipicu pelayaran kapal niaga di Selat Hormuz.

Pihak AS mengatakan sulit mengharapkan kemajuan dari perundingan karena pelayaran Selat Hormuz belum sepenuhnya dibuka secara bebas. Perairan Selat Hormuz sebelum serangan AS-Israel dapat dilintasi secara bebas. Serangan AS-Israel mengakibatkan Iran secara sepihak menutup Selat Hormuz yang menjadi jalur angkutan 20 persen migas dunia.

Adapun kapal niaga berbendera Siprus yang diserang Iran mengalami kerusakan di kamar mesin. Dilaporkan adanya anak buah kapal yang hilang akibat serangan tersebut.

Korps Garda Revolusi Iran menegaskan, sejumlah kapal niaga tidak mengindahkan peringatan dan permintaan mengubah haluan untuk mengikuti rute yang ditetapkan Iran. Akhirnya salah satu kapal niaga tersebut ditembak dan berhenti.

Sebelum konflik kembali pecah, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Aragchi dan Menlu Oman Sayyid Badr bin Hamad al-Busaidi bertemu pada Sabtu (11/7/2026). Pertemuan digelar setelah terjadi serangan atas kapal-kapal yang tidak mematuhi jalur pelayaran yang ditetapkan Iran dan serangan AS.

Infografik Selat Hormuz, Jalur Penting untuk Transportasi Minyak dan Gas.

Oman adalah salah satu negara Teluk yang berbagi dengan Iran atas lintasan di Selat Hormuz. Badr mengatakan, kedua negara terus menjalin dialog dan membahas isu Selat Hormuz di tingkat teknis dan politis.

Sementara itu, Aragchi sebelum serangan AS terjadi mengatakan, perundingan dengan Oman dilakukan untuk memastikan pelintasan aman bagi kapal-kapal di Selat Hormuz. Ia justru menuding AS melanggar kesepakatan damai dengan menghentikan ekspor minyak Iran.

Namun, AS berdalih, langkah tersebut diambil karena Iran menyerang kapal-kapal niaga yang melintas di Selat Hormuz tanpa izin Iran.

Ancaman Khamenei-Trump

Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei dalam keterangan yang disampaikan melalui televisi menyatakan pembalasan dendam akan dilakukan terhadap Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu karena telah membunuh ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei. Khamenei gugur dalam serangan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari 2026. Serangan itu dilancarkan di tengah perundingan damai dengan Iran.

”Pembalasan dendam tersebut adalah kehendak bangsa Iran yang harus diwujudkan,” kata Khamenei. Dalam pemakaman Ayatollah Ali Khamenei, jutaan warga Iran juga menuntut balas atas pembunuhan pemimpin besar Iran. Massa mengecam Trump dan Netanyahu yang memicu perang dan krisis ekonomi dunia akibat serangan terhadap Iran itu.

Iran War

Menyikapi ancaman tersebut, dalam laporan The New York Times, Kamis (9/7/2026), Trump yang sedang menghadiri KTT NATO di Ankara, Turki, mengganti pesawat kepresidenan dengan pesawat Air Force One lama (8/7/2026) yang dilengkapi berbagai peralatan dan persenjataan canggih. Sebelumnya, Trump tiba di Ankara dengan pesawat 747-8 hadiah dari Qatar.

Trump langsung mengancam Khamenei dengan menyatakan jika dirinya terbunuh, AS sudah menyiapkan ribuan rudal mengincar berbagai posisi di Iran untuk menghabisi bangsa Iran.

Dalam aturan internasional, perang tanpa batas dan menyasar kepentingan sipil adalah kejahatan perang dan pelanggaran hukum humaniter. (AP/AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Iwan Santosa
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji