KONFLIK TIMUR TENGAH

Trump: Selat Hormuz Dibuka Kembali pada Jumat

Semua kapal bakal bebas melewati Selat Hormuz tanpa ”biaya tol”. Dunia berharap lalu lintas di selat itu segera kembali normal seperti sebelum perang.

16 Jun 2026 08:47 WIB · Internasional

AP/Asghar Besharati

Oleh Luki Aulia

WASHINGTON, SELASA — Sesuai kesepakatan perdamaian Amerika Serikat dengan Iran, Selat Hormuz dibuka kembali sepenuhnya pada Jumat mendatang. Semua kapal bisa bebas keluar masuk melalui selat itu. Kapal-kapal yang mayoritas bermuatan minyak terjebak di Selat Hormuz akibat perang antara AS-Israel dan Iran sejak 28 Februari 2026.

Presiden AS Donald Trump, Senin (15/6/2026) waktu setempat atau Selasa waktu Indonesia, mengatakan, kapal-kapal bisa melintasi Selat Hormuz tanpa membayar biaya apa pun. Namun, Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan, Iran akan tetap membebankan biaya layanan maritim pada kapal yang transit di Selat Hormuz.

Trump, Wakil Presiden AS JD Vance, dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menandatangani nota kesepahaman (MoU) tentang perdamaian, Minggu. AS dan Iran bersama Pakistan sebagai mediator akan menandatangani kesepakatan secara fisik pada Jumat di Swiss.

Penandatanganan ini akan mengawali periode 60 hari seiring Iran dan AS berupaya mencapai kesepakatan perdamaian sepenuhnya. AS berharap lalu lintas pelayaran kembali pulih seperti sebelum perang dalam beberapa pekan ke depan.

”Kapal-kapal mulai bergerak, banyak yang bermuatan minyak, keluar dari Selat Hormuz. Saya pikir kita akan butuh banyak bantuan untuk menjaga jalur pelayaran tetap terbuka,” kata Trump.

Media-media di Iran menyebutkan, ada tiga kapal tanker minyak dan dua kapal kargo bermuatan barang yang sudah melewati perairan yang sebelumnya diblokade Angkatan Laut AS. Setelah Iran memblokade Selat Hormuz, AS memblokir pengiriman ke dan dari pelabuhan Iran.

Sampai sejauh ini, baru masalah Selat Hormuz yang terselesaikan. Masih banyak ketidakpastian dalam aspek-aspek penting lain dari kesepakatan perdamaian AS-Iran. Salah satunya terkait akses Iran terhadap dana yang dibekukan dan keringanan sanksi internasional.

Data jumlah kapal yang melalui Selat Hormuz sejak 27 Februari 2026 hingga 6 Mei 2026.

Masalah ini sensitif secara politik bagi Trump. Ia menuduh, perjanjian Iran yang ditandatangani semasa pemerintahan Presiden Barack Obama memberi Iran terlalu banyak ruang. Perjanjian itu dibatalkan Trump pada 2018.

Seorang pejabat AS mengatakan, tidak ada 1 dolar AS pun aset beku Iran yang dilepaskan AS atau negara lain. AS akan membahas kemungkinan pencairan dana yang dibekukan, keringanan sanksi, dan dana sebesar 300 miliar dolar AS untuk membangun kembali Iran.

Namun, pencairan dana akan ”terkait dengan kinerja”. Trump menegaskan, Iran harus memenuhi komitmennya sebelum mendapatkan manfaat ekonomi apa pun.

Vance mengatakan, garis besar kesepakatan perdamaian akan menyelesaikan masalah yang paling sulit, terutama program nuklir Iran. Untuk saat ini, MoU sepanjang 1,5 halaman masih berupa dokumen yang sangat umum.

Trump mengungkap, MoU kemungkinan akan dirilis setelah penandatanganan. Sementara para pejabat AS mengatakan, teks MoU akan dikeluarkan dalam 24-48 jam ke depan.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menjelaskan, kesepakatan perdamaian akan mengakhiri perang. Masih ada pembicaraan tentang kesepakatan akhir dalam waktu dua bulan. Garda Revolusi Iran memuji kesepakatan itu sebagai kemenangan Iran serta mengklaim telah mempermalukan AS dan Israel.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyebutnya sebagai pencapaian besar. Namun, Menlu Iran Abbas Araghchi tetap mengingatkan untuk lebih hati-hati. ”Kita punya sejarah komitmen yang dilanggar. Kita memiliki sejarah perjanjian yang dibatalkan. Semua ini jadi pertimbangan,” ujarnya.

Lebanon

Selain isu Selat Hormuz, kesepakatan perdamaian AS-Iran menyinggung tentang pertempuran di Lebanon. Juru bicara Kemenlu Iran, Esmaeil Baqaei, mengatakan, AS harus memastikan Israel menghentikan pertempuran di Lebanon. Lebanon terseret ke dalam perang pada awal Maret ketika Hizbullah meluncurkan roket ke Israel setelah Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei terbunuh.

”Amerika Serikat harus menghormati komitmennya. Mereka harus memastikan bahwa rezim zionis juga menghormati komitmennya sendiri terkait Lebanon,” ujarnya.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan, pasukan Israel tetap berada di Lebanon, Suriah, dan Gaza ”selama diperlukan”. Ia menyebutkan, perang dengan Iran telah menyelamatkan Israel dari ancaman ”pemusnahan nuklir” Iran.

Tokoh-tokoh Israel di seluruh spektrum politik mengkritik kesepakatan perdamaian AS-Iran. Adapun Presiden Lebanon Joseph Aoun menyambut baik kesepakatan AS-Iran dan berharap ini menjadi langkah positif untuk mengurangi ketegangan di kawasan.

Seorang pejabat AS mengungkapkan, penarikan pasukan Israel dari Lebanon bukan syarat dalam kesepakatan perdamaian AS-Iran. ‌Perdebatan tentang Lebanon belum terselesaikan sejak gencatan senjata pada April lalu.

Sumber-sumber keamanan di kawasan mengatakan, pertempuran telah mereda di Lebanon setelah kesepakatan perdamaian diumumkan, tetapi belum berhenti sepenuhnya. Media Pemerintah Lebanon melaporkan, sebuah pesawat nirawak Israel menabrak mobil di kota Kfar Tebnit di Lebanon selatan. Menlu Araghchi mendesak Israel menghentikan serangan.

Antrean kendaran yang melarikan diri dari Tirus di Lebanon selatan menuju Sidon setelah peringatan evakuasi Usraek, Senin (9/6/2026). AFP/MAHMOUD ZAYYAT

Hizbullah mengatakan telah menyerang pasukan Israel yang mencoba merangsek maju di Lebanon selatan. Mereka menggunakan roket dan drone untuk menahan pasukan Israel yang membawa ekskavator dan dua tank Merkava.

Juru bicara Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Stephane Dujarric, mengatakan, bentrokan sudah berkurang pada Senin. ”Kami baru saja mendapat kabar terbaru dari rekan penjaga perdamaian kami di UNIFIL (Pasukan Sementara PBB di Lebanon), dari tengah malam hingga pukul 16.00 waktu setempat hari ini, UNIFIL mengamati penurunan kekerasan dan baku tembak, mencatat 133 lintasan proyektil dan dua serangan udara yang dikaitkan dengan IDF (Pasukan Pertahanan Israel). Tidak ada lintasan dari Hizbullah atau aktor non-negara yang dilaporkan selama waktu itu,” kata Dujarric. (REUTERS/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Luki Aulia
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Amin Iskandar