Iran akan melawan jika Trump benar-benar melaksanakan rencana menyerang Iran. Program nuklir Iran pun akan terus dilanjutkan.
11 Apr 2025 08:53 WIB · Internasional
TEHERAN, JUMAT — Teheran mengancam akan menghentikan kerja sama dengan Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) jika ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyerang Iran benar-benar terwujud. Iran tidak akan membiarkan negara mana pun mendikte kemajuan yang telah dan akan dicapai.
Kantor berita Reuters, Jumat (11/4/2025), melaporkan, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyampaikan, AS dan Iran akan memulai pembicaraan langsung terkait program nuklir Iran pada Sabtu (12/4/2025). Namun, di tengah rencana itu, Trump mengisyaratkan serangan lanjutan ke Iran.
“Ancaman eksternal yang terus menerus dan menempatkan Iran sebagai target serangan militer bisa menyebabkan tindakan pencegahan, seperti pengusiran inspekstur IAEA dan penghentian kerja sama dengan lembaga tersebut,” kata Ali Shamkhani, penasihat Pemimpin Tertinggi Iran, Kamis di X.
Dia menambahkan, bukan tidak mungkin mereka akan memindahkan material yang diperkaya ke lokasi yang aman dan dirahasiakan. “Ini bisa menjadi agenda,” katanya.
Sejak kembali ke Gedung Putih, Trump mengulangi pendekatan kerasnya terhadap Iran seperti yang dilakukan pada masa pemerintahan pertamanya (2017-2021). Komunitas internasional sempat tenang ketika Iran dan AS menandatangani kesepakatan nuklir JCPOA pada 2015. Akan tetapi, ketika Trump memutuskan secara sepihak mundur dari kesepakatan itu, dunia dilanda kekhawatiran potensi meningkatnya ketegangan di kawasan.
Saat ini pun, setelah Trump kembali berniat memperlihatkan sikap keras, Iran tak tinggal diam. Teheran unjuk kemampuan sistem pertahanan dan persenjataannya sejak beberapa bulan terakhir. Selain itu, Iran memperlihatkan fasilitas rudal bawah tanah di sejumlah lokasi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/10/2d346e74b815d0fb3883a067fec89913-000_39N63NA.jpg)
Pertemuan AS-Iran soal nuklir pada Sabtu dijadwalkan berlangsung di Oman. Pertemuan digelar setelah pada November 2024, pembicaraan soal program nuklir Iran yang dimotori Inggris, Jerman dan Perancis, tidak mengalami kemajuan signifikan.
Iran berkeras pengembangan nuklir untuk tujuan sipil dan damai. Kemajuan teknologi nuklir sipil Iran diperlihatkan dalam pameran perayaan Hari Teknologi Nuklir di Teheran, Rabu (9/4/2025). Pameran itu memperlihatkan teknologi pemrosesan uranium dan pengayaannya, proyek pembangkit listrik tenaga nuklir termasuk pengembangan dan produksi suku cadangnya, serta penerapan teknologi radiasi bidang kedokteran nuklir dan pertanian.
Dipamerkan pula perancangan dan pembuatan berbagai laser industri dan medis. Ada juga teknologi radiofarmasi inovatif, yakni Gallium FAPI, yang dirancang untuk mendeteksi lebih dari 30 jenis kanker. Lutetium FAPI, yang menawarkan pengobatan terarah untuk kanker stadium lanjut, juga dipamerkan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/04/18/20210415-H10-NSW-SPKLU-dan-SPBKLU-mumed_1618756418.png)
Presiden Iran Mahmoud Pezeshkian, dikutip dari kantor berita Iran IRNA mengatakan, tidak ada satu pun negara yang bisa menghentikan kemauan rakyat Iran untuk maju dan berkembang.
“Israel, Eropa, dan AS berasumsi Iran telah dilemahkan. Mereka berasumsi dapat menyebabkan pertengkaran dan pertikaian di negara ini. Tidak ada kekuatan, melalui konspirasi, yang dapat menghentikan rakyat Iran untuk bergerak maju dan berkembang,” kata Pezeshkian.
Kepala Organisasi Energi Atom Iran (AEOI) Mohammad Eslami mengatakan, Iran akan menolak dengan keras setiap upaya untuk menghilangkan kemampuan nuklirnya. Ini termasuk terhadap “model Libya” yang sempat disampaikan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
“Mengangkat isu seperti itu tidak lebih seperti lelucon,” katanya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/08/641b2a81a78de53e79d943633fac0b37-000_39FN6TQ.jpg)
Model Libya diutarakan Netanyahu seusai pertemuan dengan Trump di Ruang Oval, Gedung Putih, Senin (7/4/2025). Model ini adalah pelucutan kemampuan nuklir secara penuh dan mengirimkan seluruh mesin dan peralatan yang dimiliki ke luar negeri agar tidak bisa dipergunakan lagi.
Cara ini diterapkan di Libya pada era 2000-an. Akan tetapi, sampai saat ini, setelah kemampuan nuklir Libya dilucuti, sebagian besar peralatan pengayaan nuklir Libya belum pernah dikeluarkan dari negara itu.
Eslami mengatakan, dalam pembicaraan tidak langsung yang dipimpin Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, mereka akan kembali menyatakan komitmen mengembangkan program nuklir untuk tujuan sipil dan damai. Interaksi dengan para pihak akan selalu terbuka dan Iran tidak mau dalam posisi ditekan.
Araghchi, salah sat arsitek utama perjanjian nuklir 2015, mengatakan, meski bisa menjadi model perundingan, JCPOA tidak bisa dihidupkan kembali dalam bentuk dan teksnya saat ini. “Program nuklir kami telah maju secara signifikan dan kami tidak bisa lagi kembali ke ketentuan JCPOA,” katanya. (AFP/Reuters)
Penulis:
Mahdi MuhammadEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .