Apa pun yang terjadi, Iran akan melindungi program nuklir dan rudal. Negosiasi kian sulit karena Iran dan AS tetap menerapkan blokade laut.
01 Mei 2026 08:36 WIB · Internasional
Meysam Mirzadeh/Tasnim News Agency via A
DUBAI, JUMAT — Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei menegaskan, Iran akan tetap mempertahankan dan melindungi program nuklir dan rudal. Pendirian ini akan mempersulit negosiasi dengan Amerika Serikat yang bersikukuh Iran harus menghentikan program itu agar perang bisa diakhiri.
Kantor berita Reuters, Jumat (1/5/2026), menyebutkan, pernyataan Khamenei dibacakan seorang pembawa acara di televisi milik pemerintah, Kamis (30/4/2026). Tidak ada rekaman atau penampakan visual Khamenei yang disiarkan sejak ia diangkat menjadi pemimpin tertinggi pada awal Maret lalu.
”Sebanyak 90 juta warga Iran yang bangga dan terhormat di dalam dan luar negeri menganggap semua kemampuan Iran yang berlandaskan identitas, spiritual, manusia, ilmiah, industri, dan teknologi, dari nanoteknologi dan bioteknologi hingga kemampuan nuklir dan rudal, sebagai milik nasional,” demikian ucapan Khamenei.
Teheran baru-baru ini mengajukan proposal untuk menunda negosiasi tentang program nuklir Iran. Presiden AS Donald Trump menegaskan, salah satu alasan utama dia mengobarkan perang adalah untuk mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir. Iran telah lama menyatakan program nuklir itu damai meski memperkaya uranium hingga tingkat mendekati senjata nuklir, yaitu 60 persen.
Pakistan masih memfasilitasi pembicaraan tidak langsung antara AS dan Iran untuk meredakan ketegangan. Namun, akan lebih baik lagi jika kedua pihak berkomunikasi secara langsung. ”Jika kedua pihak bisa berbicara langsung, itu bisa mengurangi hambatan,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan, Tahir Andrabi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/24/d6cce25954f13df35fc049d6c38c29bf-cropped_image.jpg)
Selain menegaskan sikap soal nuklir dan rudal, Khamenei menyatakan Iran akan mengamankan kawasan Teluk dan menghilangkan ”penyalahgunaan jalur air oleh musuh”. Iran akan menerapkan rezim biaya baru di Selat Hormuz yang dijanjikan akan menguntungkan bagi seluruh kawasan dan menjadi penegasan kedaulatan regional.
”Hari ini, dua bulan setelah pengerahan militer dan agresi terbesar oleh para pengganggu dunia di kawasan ini, dan kekalahan memalukan Amerika dalam rencananya, babak baru sedang berlangsung untuk Teluk Persia dan Selat Hormuz,” kata Khamenei.
Negara-negara Arab Teluk, terutama Uni Emirat Arab, mengecam kendali Iran atas Selat Hormuz sebagai tindakan yang mirip dengan pembajakan. Selat Hormuz adalah jalur air internasional yang seharusnya terbuka untuk semua tanpa harus membayar biaya apa pun. Iran dilaporkan telah mengenakan biaya kepada beberapa kapal sebesar 2 juta dolar AS (Rp 34,6 miliar) per kapal untuk melewati Selat Hormuz.
Sejak 13 April, AS membalas blokade Iran di Selat Hormuz dengan memblokade pergerakan tanker minyak masuk atau keluar dari pelabuhan Iran. Ini melumpuhkan industri minyak Iran karena Iran terpaksa menghentikan produksi akibat tak ada lagi tempat untuk menyimpan minyak. Dengan blokade AS, 44 kapal komersial tak bisa lewat.
Belum ada tanda-tanda blokade akan dicabut. Dunia tak bisa pula berharap pada perundingan yang dimediasi Pakistan karena prosesnya buntu. Jumlah kapal yang bisa lewat Selat Hormuz masih sedikit, terkadang hanya ada tiga kapal per hari. Pada kondisi normal, jumlahnya 120-140 kapal per hari.
Sembari memblokade Iran, AS sedang berkoordinasi dengan sekutu untuk mengenakan biaya yang lebih tinggi lagi pada kapal-kapal di pelabuhan Iran.
Iran menyebut blokade AS sebagai pelanggaran gencatan senjata. ”Orang asing yang dengan sengaja menginginkan selat itu dari jarak ribuan kilometer tidak punya tempat di sana kecuali di dasar perairannya,” kata Khamenei.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/01/3731e605299c9ab2a0eacb036928d319-wires_photo_357.jpg)
Iran sudah mengusulkan agar pembicaraan dengan AS tentang program nuklir ditangguhkan. Kedua pihak sebaiknya fokus pada kesepakatan persyaratan untuk mengizinkan kapal melanjutkan pelayaran di Selat Hormuz. Harian The Wall Street Journal menyebutkan, AS berusaha terlibat dalam rencana yang dipimpin oleh Eropa untuk mengawasi Selat Hormuz pascakonflik.
AS menawarkan untuk mengoordinasi diplomasi dan komunikasi antara negara-negara yang menggunakan Selat Hormuz. Salah satunya dengan menghidupkan kembali dan memperluas Kerangka Keamanan Maritim Internasional yang beranggotakan 12 negara. Ini merupakan operasi angkatan laut yang dibentuk setelah ancaman terhadap pelayaran oleh Iran.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres memperingatkan, jika gangguan akibat penutupan Selat Hormuz berlanjut hingga pertengahan tahun, pertumbuhan global akan menurun, inflasi akan meningkat, dan puluhan juta orang lagi akan terdorong ke dalam kemiskinan dan kelaparan ekstrem. ”Semakin lama arteri vital ini tersumbat, semakin sulit untuk membalikkan kerusakan,” ujarnya kepada wartawan di New York.
Di tengah negosiasi yang buntu, militer Iran kembali mengancam AS jika pasukan mereka kembali menyerang. Seorang pejabat senior Korps Garda Revolusi Iran menyatakan akan membalas setiap serangan AS dengan serangan yang panjang dan menyakitkan.
Komandan Angkatan Udara Iran Majid Mousavi juga mengancam akan menyerang kapal-kapal perang AS. Selama perang, Iran juga meluncurkan drone dan rudal ke Israel dan pangkalan-pangkalan militer AS di negara-negara Teluk.
Posisi Trump terdesak soal perang Iran. Ia menghadapi tenggat pada Jumat (1/5/2026) untuk mengakhiri perang atau mengajukan argumen kepada Kongres AS untuk memperpanjangnya. Para analis memperkirakan Trump akan memberi tahu Kongres AS bahwa dia berencana memperpanjang perang selama 30 hari atau mengabaikan tenggat tersebut.
Trump dikabarkan akan membagikan rencana lain kepada Kongres AS, yakni penggunaan pasukan darat untuk mengambil alih sebagian Selat Hormuz agar selat itu terbuka kembali dan kapal komersial bisa lewat. Ia juga mempertimbangkan untuk memperpanjang blokade AS atau menyatakan kemenangan sepihak. (REUTERS/AP)
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan