TIMUR TENGAH

Iran Waspada Penuh, Perundingan dengan AS Terus Berjalan di Tengah Ancaman Serangan

Teheran memperingatkan AS dan Israel untuk tidak menyerang saat pembicaraan antara AS dan Iran berlangsung. Militer Iran pastikan pasukan dalam kesiapsiagaan penuh.

01 Feb 2026 09:13 WIB · Internasional

AFP/US NAVY/WILL TYNDALL

Oleh Helena Fransisca Nababan

TEHERAN, MINGGU — Iran berada dalam kewaspadaan tinggi menyusul ancaman serangan Amerika Serikat. Perundingan Iran dengan AS terus berjalan untuk meredakan ketegangan meski kedua pihak saling mengancam.

Kantor berita AFP, Minggu (1/2/2026), mengutip Ketua Dewan Keamanan Nasional Iran Ali Larijani yang menyatakan ada kemajuan dalam perundingan dengan AS. Meski demikian, ia memperingatkan AS untuk tidak melancarkan serangan militer ke Iran. ”Tak seperti yang digembar-gemborkan media, pengaturan struktur untuk negosiasi sedang berjalan,” katanya.

Larijani, Sabtu, bertemu dengan Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani. Dalam keterangan yang dikeluarkan Qatar, pertemuan dimaksudkan untuk mengurangi ketegangan di kawasan.

Kapal induk USS Abraham Lincoln (kiri) melintasi Selat Hormuz pada 19 November 2019. Sebuah kelompok serang angkatan laut AS yang dipimpin oleh kapal induk USS Abraham Lincoln telah dikerahkan ke perairan Timur Tengah, menurut pemerintah Amerika Serikat pada 26 Januari 2026. Iran balas memperingatkan AS.

Presiden AS Donald Trump membenarkan AS dan Iran tengah berunding. ”(Iran) sedang berbicara dengan kami dan kita akan lihat apakah kita dapat melakukan sesuatu. Jika tidak, kita akan lihat apa yang terjadi. Armada besar kita menuju ke sana,” kata Trump kepada Fox News.

Meski pembicaraan berlangsung, Trump menambahkan, AS tetap mempertimbangkan ancaman serangan ke Iran. Washington sudah mengerahkan kelompok amada laut penyerang yang dipimpin kapal induk USS Abraham Lincoln ke kawasan Timur Tengah. Saat ini kapal induk tersebut sudah berada di lepas pantai Iran.

Kehadiran armada perang tersebut sudah meningkatkan kekhawatiran akan terjadinya konfrontasi langsung AS dengan Iran. Kepala Angkatan Darat Iran Amir Hatami memperingatkan AS dan Israel untuk tidak menyerang Iran.

Jika terjadi serangan, menurut Hatami, Teheran akan membalas dengan serangan rudal terhadap pangkalan, kapal, dan sekutu AS, terutama Israel. ”Pasukan (Iran) dalam kesiapan defensif dan militer penuh,” kata Hatami.

”Jika musuh melakukan kesalahan, tanpa diragukan itu akan membahayakan keamanan mereka sendiri, keamanan kawasan, dan keamanan rezim Zionis,” kata Hatami, seperti dilaporkan oleh kantor berita resmi IRNA.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump berbicara kepada wartawan di dalam pesawat Air Force One saat terbang antara Irlandia dan Washington dalam perjalanan pulang dari Forum Ekonomi Dunia (WEF) 2026 di Pangkalan Gabungan Andrews, Maryland, AS, Kamis (22/1/2026). Setelah pertemuan dengan Sekretaris Jenderal Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) Mark Rutte, Trump mengumumkan kesepakatan dengan para pemimpin Eropa mengenai wilayah semi-otonom Denmark, Greenland.

Trump, Jumat, mengatakan, untuk menghindari serangan militer AS, dia yakin Iran akan mau berunding dan membuat kesepakatan mengenai program nuklir dan rudalnya.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan, Teheran siap untuk pembicaraan nuklir. Namun, rudal dan pertahanannya tidak akan pernah dinegosiasikan.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Sabtu, mengatakan, konflik yang lebih luas akan merugikan Iran dan AS. ”Republik Islam Iran tidak pernah menginginkan dan sama sekali tidak menginginkan perang dan sangat yakin perang tidak akan menguntungkan Iran, Amerika Serikat, ataupun kawasan ini,” kata Pezeshkian dalam percakapan telepon dengan Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi.

Insiden mematikan

Di tengah ketegangan kawasan, pada Sabtu terjadi beberapa insiden mematikan di Iran. Salah satunya ledakan di kota pelabuhan Bandar Abbas di Iran selatan.

France24 memberitakan, satu orang tewas dan 14 orang terluka akibat ledakan itu. Penyebab ledakan belum jelas.

Insiden lainnya adalah ledakan gas di kota Ahvaz di perbatasan dengan Irak yang menewaskan empat orang. Otoritas Iran membantah bahwa beberapa insiden itu terkait dengan serangan atau sabotase apa pun.

Kantor berita Fars memberitakan, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) membantah bahwa salah satu bangunan milik pasukan angkatan laut IRGC di salah satu provinsi di Iran menjadi sasaran.

An apartment building is seen after an explosion in the southern port city of Bandar Abbas, Iran, on Saturday, Jan. 31, 2026. (Amirhosein Khorgooi/ISNA via AP)

Adapun kantor berita Tasnim, Sabtu, membantah ”rumor pembunuhan” yang melibatkan komandan angkatan laut Garda Revolusi, Alireza Tangsiri. Sementara televisi pemerintah melaporkan asap di Parand di pinggiran ibu kota Teheran ”disebabkan oleh kebakaran kecil di semak-semak”.

Pada Jumat, Komando Pusat AS (CENTCOM) mengatakan, IRGC akan menggelar latihan menembak selama dua hari di Selat Hormuz, pusat transit utama untuk pasokan energi global. CENTCOM memperingatkan IRGC, latihan itu merupakan ”perilaku yang tidak aman dan tidak profesional di dekat pasukan AS”.

Peringatan CENTCOM memicu tanggapan tajam dari Menlu Araghchi. ”Militer AS sekarang mencoba mendikte bagaimana angkatan bersenjata kita yang perkasa harus melakukan latihan menembak di wilayah sendiri,” tulis Araghchi di X.

AS menetapkan IRGC sebagai organisasi teroris pada 2019. Penetapan AS itu diikuti Uni Eropa pada Kamis (29/1/2026). Keputusan Uni Eropa menuai kemarahan dari Teheran. Iran bersumpah akan membalas.

Para komuter berkendara di sepanjang jalan di Teheran, Iran, Kamis (15/1/2026). Gelombang protes di seluruh Iran akibat kemerosotan ekonomi telah berubah menjadi salah satu tantangan terbesar bagi rezim pemerintaha Iran saat ini sejak mereka berkuasa pada tahun tahun 1979. Hingga Kamis, situasi mulai mereda meski ribuan orang dikabarkan tewas.

Ketegangan di Iran terjadi menyusul berlangsungnya unjuk rasa pada 28 Desember 2025. Unjuk rasa itu awalnya untuk memprotes kenaikan biaya hidup. Namun, unjuk rasa kemudian berubah menjadi gerakan anti-pemerintah dan terus meluas.

Unjuk rasa mencapai puncaknya pada 8 Januari dan 9 Januari 2026. Iran disebut melakukan kekerasan kepada para pengunjuk rasa. Pihak berwenang Iran menyalahkan AS dan Israel atas kerusuhan itu.

Otoritas Iran merilis jumlah korban tewas resmi dari unjuk rasa itu sebanyak 3.117 orang. Namun, Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA) yang berbasis di AS mengatakan, mereka mengonfirmasi terdapat 6.563 kematian. Korban tewas terdiri atas 6.170 demonstran dan 124 anak-anak.

Pada Sabtu, Pezeshkian ingin pemerintahannya memperhatikan keluhan publik setelah demonstrasi. ”Kita harus bekerja bersama rakyat dan untuk rakyat serta melayani rakyat semaksimal mungkin,” katanya dalam pidato yang disiarkan di televisi pemerintah.

”Jika kita bertindak adil, rakyat akan melihatnya dan menerimanya. Dalam kondisi seperti itu, tidak ada kekuatan yang dapat melumpuhkan pemerintah, masyarakat, atau bangsa yang bertindak adil, jujur, dan berdasarkan hak.”

(AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Helena Fransisca Nababan
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra