Iron Dome Kembali Gagal Hadang Rudal Houthi

Rekaman video yang beredar di media sosial memperlihatkan sebuah rudal jatuh menghunjam ke tanah di sebuah taman di Tel Aviv selatan. Sebanyak 16 orang terluka.

21 Des 2024 16:36 WIB · Internasional

Oleh Mahdi Muhammad

TEL AVIV, SABTU — Untuk kesekian kalinya, sistem pertahanan udara Iron Dome, atau Kubah Besi, gagal mencegat serangan roket yang diluncurkan kelompok Houthi di Yaman, Sabtu (21/12/2024) dini hari. Sebanyak 16 orang terluka akibat serangan tersebut.

”Satu proyektil yang diluncurkan dari Yaman teridentifikasi. Upaya pencegatan (intersepsi) gagal dilakukan,” kata pernyataan militer Israel melalui kanal resminya di platform Telegram, Sabtu. Sebagai balasan, Israel menyerang beberapa target di Yaman, termasuk pelabuhan dan fasilitas energi di wilayah yang dikuasai Houthi. Sembilan warga Yaman tewas akibat serangan tersebut.

Sejumlah rekaman video yang beredar di media sosial memperlihatkan sebuah rudal jatuh menghunjam ke tanah di sebuah taman di Tel Aviv selatan, sekitar pukul 03.44 waktu setempat. Media Israel, Times of Israel, mengatakan, serangan rudal itu telah memicu jutaan orang segera berlindung setelah sirene berbunyi di wilayah Israel tengah.

Rekaman video memperlihatkan warga berkerumun di lokasi tempat jatuhnya roket. Lubang cukup besar berdiameter 2-3 meter dan kedalaman 1-2 meter terlihat di taman bermain tersebut. Akibat serangan tersebut, bangunan yang ada di sekitar mengalami kerusakan meski minor.

Magen David Adom (MDA) atau layanan medis darurat Israel menyebut 16 orang terluka akibat serangan tersebut. MDA mengatakan, petugas kesehatan memberi perawatan medis kepada 16 orang yang mengalami luka ringan. Mereka terkena pecahan kaca dari jendela yang pecah di gedung-gedung di sekitar lokasi serangan.

”Saya berada di rumah dan mendengar ledakan keras. Saya segera pergi ke tempat kejadian dan melihat kerusakan ledakan yang signifikan pada bangunan di dekatnya,” kata petugas medis Yosef Kourdi dalam pernyataan yang dirilis oleh MDA.

infografik Sistem Pertahanan Kubah Besi (Iron Dome) Israel

Serangan Houthi terhadap Israel terus terjadi. Sehari sebelum kegagalan Iron Dome mendeteksi serangan rudal, sebuah pesawat nirawak yang diduga milik Houthi berhasil dicegat di lepas pantai Tel Aviv. Senin (16/12/2024), Houthi juga meluncurkan rudal ke arah Tel Aviv dan memicu sirene di seluruh negeri.

Berulang

Kegagalan Iron Dome untuk menangkal serangan rudal Houthi sudah bukan rahasia lagi. Oktober 2024, serangan roket kelompok Hizbullah menyebabkan kepanikan di sejumlah wilayah di Israel dan salah satu roketnya menghantam Haifa, kota terbesar ketiga di negara tersebut. Selain Haifa, kota Tiberias juga menjadi salah satu wilayah yang menjadi sasaran serangan.

Angkatan Udara Israel pernah merilis tingkat intersepsi atau kemampuan pencegatan Iron Dome yang mengalami penurunan. Per tahun 2024, keberhasilan pencegatan atau intersepsi Iron Dome hanya berada pada angka 90,5 persen. Angka keberhasilan ini jauh menurun dibandingkan angka tahun sebelumnya yang masih berada di kisaran 97 persen (Kompas.id, 7/10/2024).

Kelompok perlawanan terhadap Israel, seperti Houthi, Hamas, dan Hizbullah, menerapkan beberapa strategi untuk membobol sistem ini, yaitu membuat kewalahan Iron Dome melalui serangan roket atau rudal secara bertubi-tubi dan kemudian mengirimkan pesawat nirawak atau drone (UAV) yang sering kali tidak bisa dideteksi radar. Serangan UAV Hizbullah pada 13 Oktober 2024 adalah salah satu buktinya (Kompas.id, 20/10/2024).

Sejumlah pekerja, Kamis (19/12/2024), mengamati bangunan gedung sekolah di wilayah Ramat Gan, dekat Tel Aviv, Israel, yang hancur setelah roket sistem pertahanan Iron Dome mencegat rudal kelompok Houthi, Yaman.

Keberhasilan serangan itu membuat keyakinan Houthi meninggi. Salah satu pejabat kelompok tersebut, Hezam al-Assad, melalui platform X menyebut keberhasilan rudal mereka menembus Tel Aviv, membuktikan bahwa jantung negara tersebut bukan mustahil bisa ditaklukkan.

”Kegagalan semua sistem pertahanan Israel berarti jantung musuh, Zionis, tidak lagi aman,” katanya, dalam pesan berbahasa Ibrani. Dia menyebut sistem Iron Dome yang bernilai miliaran dollar tidak bisa diandalkan lagi.

Dia juga meyakini bahwa sesungguhnya kerusakan yang terjadi akibat serangan itu lebih besar daripada yang disampaikan oleh militer atau Pemerintah Israel. ”Musuh berusaha meminimalkan kerugiannya di media untuk mempertahankan kedudukan militernya dan moral para pemukimnya,” katanya dalam bahasa Arab.

Fatwa ICJ

Indonesia bersama sejumlah negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) saat ini tengah meminta fatwa Mahkamah Internasional (ICJ). Fatwa itu tentang kewajiban hukum Israel memberi akses lembaga PBB dan lembaga kemanusiaan lainnya untuk menjalankan misi kemanusiaan di Palestina. Permintaan fatwa ini diajukan setelah Majelis Umum PBB mengesahkan sebuah resolusi untuk mendukung hal tersebut, Kamis (19/12/2024).

Resolusi ini sekaligus menentang undang-undang yang disahkan Knesset, Parlemen Israel, yang melarang UNRWA beroperasi di Palestina. Resolusi itu diinisiasi oleh sejumlah negara, yakni Norwegia, Palestina, Indonesia, dan sekelompok negara lain (Afrika Selatan, Chile, Guyana, Irlandia, Malaysia, Mesir, Namibia, Qatar, Slovenia, Spanyol, dan Jordania). Mengutip keterangan Kementerian Luar Negeri RI, resolusi itu didukung 137 negara dan mendapatkan co-sponsor dari 53 negara anggota PBB lainnya.

Sebagai salah satu perumus resolusi, Indonesia melihat bahwa persetujuan banyak negara atas substansi resolusi itu sebagai langkah menuju akuntabilitas, selain sebagai upaya menegakkan norma hukum internasional dan sistem multilateral.

”Permohonan fatwa hukum ini merupakan test case bagi komitmen kita terhadap prinsip-prinsip Piagam PBB dan hukum internasional,” kata Wakil Menteri Luar Negeri Arrmanatha C Nasir.

Bagi Indonesia, prinsip-prinsip ini adalah fondasi dari sistem multilateral yang dibangun oleh PBB. Jika negara-negara pendiri PBB tidak lagi memiliki komitmen terhadap prinsip Piagam PBB dan hukum internasional, dunia akan kehilangan kepercayaan dan harapan terhadap sistem multilateral yang adil.

(AFP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Mahdi Muhammad
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H